Dark/Light Mode

Kisah Seru Dari Negeri Beruang Merah (5)

Merah Putih Berkibar Di Danau Nuklir Rusia

Sabtu, 10 Oktober 2026 07:20 WIB
Dua nelayan asal Ternate, Nasrun Masraoly dan Nurdjan Soleman, siap memancing ikan di Danau PLTN terbesar di Rusia. Bendera merah putih berkibar di Speedboat mereka. (Foto: Anggowo Adi/Rakyat Merdeka/RM.id
Dua nelayan asal Ternate, Nasrun Masraoly dan Nurdjan Soleman, siap memancing ikan di Danau PLTN terbesar di Rusia. Bendera merah putih berkibar di Speedboat mereka. (Foto: Anggowo Adi/Rakyat Merdeka/RM.id

RM.id  Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka Anggowo Adi berkesempatan mengikuti IV International Fishing Tournament yang digelar Rosatom State Atomic Energy Corporation di Rusia. Bersama dua nelayan asal Ternate, Maluku Utara, perjalanan sepekan itu diwarnai cerita lucu, kejutan budaya, hingga pengalaman pertama menginjakkan kaki di Negeri Beruang Merah. Berikut laporannya.

Dua nelayan asal Ternate, Maluku Utara, menjajal peruntungan di Turnamen Memancing Internasional di Danau Udomlya, Rusia. Di tengah suhu yang dingin menusuk kulit, pengalaman mereka justru membuka cerita menarik tentang kehidupan di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir.

Siapa sangka, dua nelayan dari Ternate, Maluku Utara, bisa terbang ke Rusia hanya untuk memancing. Bukan di laut yang selama ini akrab dengan mereka. Melainkan memancing di danau air tawar yang berada di dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kalinin, salah satu fasilitas nuklir terbesar di Rusia.

Namanya Nasrun Masraoly (48) dan Nurdjan Soleman (67). Keduanya datang ke Kota Udomlya, Wilayah Tver, untuk mengikuti Turnamen Memancing Internasional IV yang digelar Selasa (29/9/2026).

Bagi mereka, ini bukan sekadar urusan tarik-menarik dengan ikan. Ada pengalaman baru, cuaca ekstrem, dan tentu saja cerita yang bakal dibawa pulang ke kampung halaman.

Malam sebelum lomba, Senin (28/9/2026), suasana di kamar 514 Hotel Svetlitsa, hotel milik Rosatom di Udomlya, terasa dingin menusuk tulang. Di dalam kamar, Nasrun dan Nurdjan justru sibuk merakit umpan.

Bukan umpan mahal keluaran pabrik.

Mereka membuat lure—umpan buatan yang menyerupai mangsa ikan—dari bahan aluminium warna-warni, tutup botol, hingga bekas bungkus makanan. Kreatif, sederhana, dan serba dadakan.

Baca juga : Djoko Setijowarno: Hal Ini Perlu Dipikirkan Dan Dipertimbangkan

Maklum, keduanya berangkat dari Ternate tanpa membawa joran. Mereka juga tak tahu persis bakal memancing di mana, apalagi jenis ikan yang akan menjadi sasaran.

“Dari Ternate, kami tidak membawa joran,” kata Nasrun.

Ya, modal mereka malam itu lebih banyak pengalaman, kreativitas, dan semangat. Tak ada persiapan khusus seperti atlet yang hendak berlaga di kejuaraan dunia.

Saya dan Iqbal, jurnalis BeritaSatu yang juga baru pertama kali menginjakkan kaki di Rusia, tak kalah bersemangat. Kami menjadi bagian dari rombongan 22 pemancing dan 26 jurnalis dari 11 negara mitra Rosatom.

Beberapa jam sebelum lomba dimulai, kami malah lebih banyak tertawa. Obrolan ngalor-ngidul, mengenang kejadian sepanjang perjalanan, sesekali diselingi camilan khas Maluku Utara: sagu fufu alias ikan asap yang mereka bawa dalam toples besar.

“Kami ini biasanya mancing di laut, bukan air tawar. Umpannya pakai bulu-bulu. Tapi ya sudah, yang penting kita bersenang-senang,” ujar Nurdjan santai.

Melihat Nurdjan tak kuat menahan dingin, saya memberikan sarung tangan dan hand warmer agar tangannya sedikit lebih nyaman. Setelah itu, kami pun beristirahat. Besok pagi, petualangan sesungguhnya dimulai.

Berkabut & Beraroma Misteri

Pukul 07.00, kami sudah bersiap di lobi hotel. Rekan-rekan dari negara lain juga berkumpul. Memasuki hari keempat perjalanan, suasananya sudah seperti rombongan teman lama yang kebetulan dipertemukan di negeri orang. Dua bus kemudian meluncur menuju Danau Udomlya. Perjalanan hanya sekitar 15 menit.

Baca juga : Lily Pujiati: Sudah Seharusnya Ojol Jadi Transportasi Umum

Begitu tiba, hawa dingin langsung menyergap. Suhu udara berkisar 1–3 derajat Celsius. Bagi kami yang datang dari Indonesia, suhu itu bukan sekadar dingin di aplikasi cuaca. Kulit benar-benar dibuat merinding.

Pemandangan di depan mata tak kalah dramatis. Kabut tebal menyelimuti permukaan danau. Sementara menara-menara pendingin PLTN Kalinin berdiri kokoh di tepi selatan. Dari kejauhan, suasananya terasa misterius, nyaris seperti adegan film.

Sebagai informasi, kawasan PLTN Kalinin berada di antara dua danau, yaitu Pesvo dan Udomlya, di Wilayah Tver. Perairan tersebut tak hanya berkaitan dengan kebutuhan operasional fasilitas. Tetapi juga dimanfaatkan untuk kegiatan rekreasi, perikanan, dan pemancingan.

Luas Danau Udomlya sekitar 1.010 hektare dengan kedalaman mencapai 16 meter. Perairan ini disebut menjadi habitat sekitar 23 spesies ikan. Di antaranya zander, pike, perch, carp, dan catfish atau lele Amerika.

Jadi, meski berada di dekat PLTN, danau ini bukan perairan yang sepi kehidupan. Beragam organisme dan tumbuhan air tumbuh di dalamnya.

Pemandangan itulah yang membuat kami makin penasaran. Seperti apa rasanya memancing di danau yang selama ini mungkin tak pernah masuk daftar destinasi wisata orang Indonesia?

Musik Rock Di Tengah Danau

Sebelum lomba dimulai, seluruh peserta dan jurnalis mengikuti pengarahan dari panitia. Sehari sebelumnya, para pemancing juga sudah mendapat sesi latihan untuk mengenali peralatan, karakter danau, kondisi cuaca, hingga teknik memancing setempat.

Lomba berlangsung selama tiga jam dengan sistem catch and release. Artinya, ikan yang berhasil ditangkap harus dilepaskan kembali. Jadi, jangan berharap bisa membawa pulang hasil tangkapan untuk digoreng atau dibakar. Hehehe.

Baca juga : Komisi XII DPR Susun Naskah Akademik RUU Perubahan Iklim

Ada satu hal yang membuat rombongan Indonesia cukup percaya diri. Setiap nama Indonesia disebut, tepuk tangan terdengar meriah. Saat pengundian nomor urut, Nurdjan bahkan mendapat nomor satu. Speedboat yang akan digunakan tim Indonesia juga sudah bersandar paling depan di dermaga, lengkap dengan bendera Merah Putih.

Belum cukup sampai di situ. Nasrun dan Nurdjan mendapat pendampingan Alex Ostrovsky, pemancing andal setempat yang akan memandu mereka selama lomba.

Tepat pukul 08.00, perlombaan dimulai. Satu per satu peserta naik speedboat, kemudian bergerak menuju titik-titik pemancingan. Kapal-kapal itu perlahan menghilang di balik kabut yang mulai menipis.

Sekitar satu jam kemudian, giliran para jurnalis mendapat kesempatan ikut berlayar mendekati tim masing-masing untuk mengambil foto dan video. Nah, ini bagian paling seru bagi saya.

Begitu naik speedboat, saya langsung dibuat tertawa oleh gaya pengemudi Rusia yang membawa kapal dengan kecepatan tinggi. Musik rock diputar keras-keras, sementara angin dingin menerpa wajah.

Di tengah danau, pemandangannya mengingatkan saya pada Danau Toba di Sumatera Utara atau Telaga Sarangan di Jawa Timur. Hamparan air yang luas, udara dingin, dan perbukitan di kejauhan membuat suasana terasa akrab, meski kami sedang berada ribuan kilometer dari Tanah Air.

Setelah mengambil foto dan menyapa para pemancing, saya kembali ke darat. Di sebuah tempat berteduh yang dilengkapi pemanas, para jurnalis, penerjemah, dan staf humas Rosatom berkumpul sambil menikmati hidangan makan siang.

Sementara itu, para pemancing masih berjuang dan berjibaku dengan kail, umpan, dan ikan-ikan yang entah sedang bersembunyi di bagian danau mana. (Bersambung)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.