Dark/Light Mode

Suaranya Dipepet Mantan Panglima Militer

Pemilu Israel Jadi Ujian Berat Untuk Netanyahu

Rabu, 28 Oktober 2026 06:10 WIB
Gadi Eisenkot dan Benjamin Netanyahu. Foto: VIA THE JARUSALEM POST
Gadi Eisenkot dan Benjamin Netanyahu. Foto: VIA THE JARUSALEM POST

RM.id  Rakyat Merdeka - Rakyat Israel memberikan suara dalam Pemilihan Legislatif (Pileg), Selasa (27/10/2026). Pemilihan ini menjadi ujian berat bagi Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, sekaligus untuk menentukan arah masa depan politik negara tersebut.

Pemungutan suara dimulai di Israel pada pukul 07.00 waktu setempat. Sebagian besar tempat pemungutan suara akan ditutup pada pukul 10 malam.

Lebih dari 7 juta warga Israel yang memiliki hak pilih bakal menjadi penentu untuk 120 komposisi parlemen atau Knesset ke-26.

Melansir BBC, tingkat partisipasi pemilih diperkirakan sangat tinggi. Sekitar 70.000 warga Israel bahkan dilaporkan terbang kembali dari luar negeri demi menggunakan hak suaranya. Mereka bergabung dengan setengah jutaan pemilih pemula.

Pemilu kali ini berlangsung di tengah sorotan terhadap kinerja Pemerintahan Netanyahu. Terutama terkait serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang mengguncang keamanan Israel.

Netanyahu, yang telah berkuasa selama 19 tahun, berjuang mempertahankan posisinya di tengah persaingan sengit dari blok yang dipimpin oleh mantan Panglima Militer Gadi Eisenkot.

Partai-partai Arab diperkirakan akan berperan sebagai penentu kemenangan.

Baca juga : Bahlil Jawab Pemerintah Singapura: Ekspor Gas Dipotong 8%, Jadi Tidak Langgar Kontrak

Jajak pendapat yang dirilis menjelang hari pemungutan suara menunjukkan, Eisenkot unggul sebesar 49 persen, dibandingkan suara untuk Netanyahu sebesar 41 persen.

Eisenkot memimpin Partai Yashar yang baru dibentuk tahun lalu. Dia menjadi figur sentral dari ‘blok perubahan’, sebuah koalisi yang menyatukan berbagai partai dengan beragam latar belakang ideologi.

Blok ini mempunyai misi untuk mengakhiri era kepemimpinan Netanyahu.

Di dalam blok ini, Eisenkot didukung oleh sejumlah tokoh berpengaruh. Di antaranya mantan PM Naftali Bennett dan Avigdor Lieberman dari kubu sayap kanan dan Yair Golan dari kubu kiri.

Eisenkot sempat mengkritik keras strategi kampanye Netanyahu yang terlalu mengumbar ketakutan publik.

“Dia histeris,” tegas Eisenkot, merespons unggahan gambar buatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) oleh Netanyahu yang menampilkan bom nuklir menghantam Tel Aviv.

Adapun Netanyahu adalah sosok veteran politik yang pertama kali menjabat sebagai PM pada 1996. Di Pemilu ini, dia berusaha mempertahankan posisinya dengan kembali mencitrakan diri sebagai “Mr. Security”.

Baca juga : Kabut Asap Dari Kebakaran Hutan Mulai Menipis

“Saya satu-satunya pemimpin yang dapat melindungi Israel jika Iran memperoleh senjata nuklir,” ujar Netanyahu dalam salah satu pesan kampanyenya.

Untuk mengamankan kembali kursi kekuasaan, Netanyahu bergantung pada koalisi dengan partai-partai sayap kanan ekstrem dan ultra-Ortodoks. Koalisi Netanyahu dicatat sebagai yang paling kanan dalam sejarah Israel.

Namun, proyeksi menunjukkan, baik blok Netanyahu maupun oposisi, bakal kesulitan menembus angka 61 kursi di parlemen untuk membentuk pemerintahan mayoritas.

The Jerusalem Post memproyeksikan, Partai Yashar yang dipimpin Eisenkot hanya berhasil memperoleh 21 kursi hingga 26 kursi. Sementara, Partai Likud Netanyahu diproyeksikan memperoleh sekitar 19 kursi hingga 21 kursi saja di Knesset.

Secara keseluruhan, blok oposisi yang memihak Eisenkot diproyeksikan meraih 51 kursi hingga 55 kursi. Sementara, blok pertahanan Netanyahu meraih 48 kursi hingga 50 kursi. Blok Partai Arab dan Non-Blok diproyeksikan memegang 13 kursi hingga 14 kursi.

Karena sistem Pemilu Israel menerapkan proporsional terbuka, kondisi ini berpotensi memicu negosiasi politik yang rumit selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.

Dinamika Pemilu kali ini sangat dipengaruhi oleh kritik oposisi atas kegagalan keamanan dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang dan membuat 251 lainnya disandera.

Baca juga : Beda Dengan MSCI, FTSE Russell Beri Kabar Baik Pasar Modal Indonesia

Oposisi mendesak pembentukan komisi penyelidikan independen. Langkah ini terus ditolak Netanyahu karena dinilai bias terhadap dirinya. Selain itu, oposisi menyoroti ancaman terhadap demokrasi akibat tuduhan korupsi yang dihadapi Netanyahu serta rencananya melanjutkan reformasi peradilan kontroversial yang sempat memicu gelombang protes besar-besaran.

Isu wajib militer bagi kaum Yahudi ultra-Ortodoks juga menjadi perdebatan sengit setelah pemerintah dinilai gagal menegakkan putusan Mahkamah Agung, di saat ribuan warga lainnya dikerahkan ke medan perang.

Sementara, sekitar seperlima populasi Israel yang berlatar belakang Arab secara teoritis bisa menjadi penentu kemenangan. Namun, hampir seluruh partai utama Yahudi telah menutup pintu untuk berkoalisi dengan mereka.

Mengenai konflik di Gaza, Eisenkot memiliki posisi yang tidak jauh berbeda dari Netanyahu. Dia berjanji mengakhiri kekuasaan Hamas dalam waktu 18 bulan melalui jalur diplomasi maupun militer.

Saat ini, gagasan solusi dua negara (two state solution) untuk membentuk negara Palestina yang merdeka dan berdampingan secara damai dengan Israel, hampir sepenuhnya menghilang dari panggung politik utama negara tersebut. LDU

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Rabu, 28 Oktober 2026 dengan judul "Suaranya Dipepet Mantan Panglima Militer Pemilu Israel Jadi Ujian Berat Untuk Netanyahu"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.