Dark/Light Mode

Partai Golkar Mengukir Sejarah Gerakan Internasional For The Freedom of Nations

Selasa, 11 November 2025 12:27 WIB
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si

RM.id  Rakyat Merdeka - Soekarno menempatkan kebebasan sebagai puncak dari kesadaran manusia. Dalam pandangannya, kebebasan bukan hasil dari revolusi semata, melainkan buah dari pendidikan yang membangkitkan nalar dan tanggung jawab.

Manusia merdeka, kata Soekarno, adalah manusia yang berpikir, yang mengenali dirinya, dan yang memahami bahwa kebebasan hanya bermakna bila disertai kebijaksanaan.

Kebebasan bagi Soekarno tidak pernah berhenti pada batas politik. Ia tumbuh sebagai nilai kemanusiaan yang menuntun bangsa menuju kedewasaan. Dari ruang belajar hingga ruang diplomasi, Soekarno melihat pendidikan sebagai dasar dari setiap bentuk kemerdekaan.

Ia menulis, berbicara, dan bertindak dengan keyakinan bahwa bangsa yang terdidik akan menjadi bangsa yang merdeka secara utuh, yakni merdeka dalam pikiran, perasaan, dan tindakannya.

Gagasan itu lahir dari pengalaman panjangnya memahami dunia. Dalam banyak kesempatan, Soekarno bersahabat erat dengan para pemimpin Rusia, berdialog tentang masa depan manusia dan pentingnya keadilan sosial. Ia melihat Rusia sebagai sahabat yang memahami pergulatan bangsa-bangsa Asia dan Afrika dalam mencari jati diri setelah kolonialisme.

Persahabatan itu meninggalkan jejak sejarah yang dalam, bukan karena transaksi politik, tetapi karena kedekatan visi tentang kemerdekaan dan pengetahuan. Hingga kini, hubungan itu tetap hidup dalam ingatan diplomasi Indonesia.

Pada tahun ini, Indonesia kembali menegaskan peran itu di panggung internasional. Dalam forum Simposium Internasional yang diselenggarakan bersamaan dengan Forum BRICS di Sochi, Federasi Rusia, pada 13 hingga 16 November 2025, Indonesia akan menempati posisi terhormat sebagai salah satu negara yang memberikan arah moral bagi gerakan kebebasan antarbangsa.

Baca juga : GDPS Siapkan SDM Unggul Untuk Bandara Internasional Bali Utara

Dalam forum ini, Indonesia hadir untuk dan atas nama Asia Tenggara, mewakili kawasan sebagai representasi resmi di hadapan komunitas internasional.

Lebih dari itu, Indonesia menjadi satu-satunya negara di kawasan yang dipercaya membawa suara Asia Tenggara melalui Partai Golkar, yang oleh komunitas internasional dianggap sebagai representasi politik yang kredibel dan konsisten dalam memperjuangkan nilai-nilai kebebasan dan diplomasi berkeadaban.

Partai Golkar mencatat sejarah penting di panggung internasional di bawah kepemimpinan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Untuk pertama kalinya, Partai Golkar dipercaya sebagai representasi partai politik se-Asia Tenggara dan diterima sebagai anggota tetap dalam Gerakan Internasional untuk Pembebasan Bangsa-Bangsa.

Momen ini menjadi tonggak bersejarah yang menegaskan langkah Partai Golkar memasuki ranah diplomasi global dengan keyakinan, integritas, dan semangat pengabdian bagi kemerdekaan bangsa-bangsa.

Kepercayaan ini lahir dari komunikasi dan interaksi intensif yang saya bangun di berbagai forum global, di mana mereka memberikan mandat kepada Ketua Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP Partai Golkar, yang juga Guru Besar Hubungan Internasional pada Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan, Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S.Ag., M.Si.

Di dalam forum tersebut, saya akan dikukuhkan sebagai Anggota Komite Tetap Gerakan Internasional "For the Freedom of Nations", mewakili Indonesia sebagai bangsa yang selalu memandang kebebasan sebagai keagungan martabat manusia.

Pengukuhan ini bukan penghormatan pribadi. Ini adalah penghargaan bagi Indonesia. Sebab bangsa kita sejak awal selalu memperlakukan diplomasi bukan sebagai perebutan pengaruh, tetapi sebagai jalan pendidikan antarbangsa. Indonesia hadir bukan untuk mendominasi, melainkan untuk menjembatani. Bukan untuk meninggikan suara, tetapi untuk menuntun percakapan global menuju keadilan dan persaudaraan.

Baca juga : FDIKOM UIN Jakarta Gelar Program International Research Fellowship

Kepercayaan internasional ini juga tidak terlepas dari kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menghadirkan diplomasi Indonesia dengan karakter yang tegas namun bersahabat, dan dengan sikap yang menghormati martabat bangsa lain. Diplomasi yang tumbuh dari akar budaya, tata krama, dan kebijaksanaan Nusantara.

Gerakan Internasional "For the Freedom of Nations" lahir dari keyakinan bahwa setiap bangsa memiliki hak untuk hidup dalam kesetaraan dan saling menghormati. Sochi menjadi tempat bagi dialog pikiran, tempat manusia belajar dari pengalaman sejarah untuk menemukan keseimbangan antara kebebasan dan kebajikan. Di sanalah gagasan tentang diplomasi sebagai pendidikan antarbangsa kembali menemukan bentuknya.

Diplomasi adalah proses belajar yang tak pernah selesai. Ia mengajarkan bahwa untuk memahami dunia, manusia harus terlebih dahulu memahami dirinya. 

Soekarno menyebut diplomasi sebagai cermin dari kebudayaan bangsa, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai tentang bagaimana manusia berperilaku terhadap manusia lain. Dari sini tampak bahwa kebebasan bukanlah alat untuk berkuasa, melainkan ruang untuk belajar hidup bersama.

Filsafat politik Soekarno tumbuh dari keyakinan bahwa kebebasan dan pendidikan adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama. Pendidikan melahirkan kebebasan berpikir, dan kebebasan berpikir melahirkan kemajuan. Dari keduanya lahir kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sochi menjadi kota bagi kita untuk kembali mengingat pesan itu atas nama Indonesia.

Pesan tentang kebebasan yang tidak teriak, tetapi menenangkan.

Baca juga : IFG Life Gelar Donor Darah Dukung Inisiatif Sosial Berkelanjutan

Tentang pengetahuan yang tidak memisahkan, tetapi menyatukan.

Tentang manusia yang memahami bahwa kemerdekaan sejati adalah buah dari kesadaran yang terus bertumbuh.

Seperti kata Soekarno, kemerdekaan adalah jembatan emas menuju kehidupan yang lebih bermartabat.

Dan di bawah langit Sochi, Indonesia kembali menegaskan dirinya sebagai bangsa yang menjaga jembatan itu agar tetap kokoh bagi seluruh umat manusia.

Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si adalah Ketua Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP Partai Golkar.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.