Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Angkutan Pelajar Gratis: Solusi Cerdas Banyuwangi Tolong Siswa dan Sopir Angkot
Kamis, 29 Januari 2026 20:39 WIB
Djoko Setijowarno
Pengamat Transportasi
Pengamat Transportasi
RM.id Rakyat Merdeka - Keberlangsungan angkot di Banyuwangi terjamin karena diikutsertakan secara rutin mengangkut pelajar dan mendapatkan pembayaran tetap setiap hari sekolah.
Kabupaten Banyuwangi, yang akrab disapa Bumi Blambangan, merupakan wilayah terluas di Jawa Timur dengan total area sekitar 3.592,9 kilometer persegi. Daerah ini dihuni oleh populasi yang diperkirakan mencapai 1,8 juta jiwa.
Julukan Bumi Blambangan tidak terlepas dari sejarahnya yang kaya. Blambangan adalah nama kerajaan besar yang pernah berdiri di wilayah tersebut dan memiliki catatan sejarah yang panjang, terutama dalam perjuangan melawan penjajahan. Oleh karena itu, julukan ini kuat menonjolkan akar sejarah dan kekayaan budaya Kabupaten Banyuwangi.
Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2017, Program Angkutan Pelajar Gratis oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuwangi telah menjadi proyek percontohan yang berkelanjutan dalam mendukung mobilitas pelajar di kawasan perkotaan.
Berdasarkan informasi dari Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuwangi (2025), program ini dirancang untuk mencapai tiga sasaran utama yang saling terkait. Pertama, akses dan biaya, memberikan kemudahan bagi seluruh pelajar, mulai dari tingkat SD hingga SMA, untuk mengakses sekolah tanpa membebani biaya transportasi orang tua. Kedua, keselamatan dan lingkungan, berkontribusi dalam menekan angka penggunaan kendaraan bermotor pribadi oleh pelajar, yang secara langsung mengurangi potensi kecelakaan dan kemacetan jalan. Ketiga, pemberdayaan ekonomi, memberdayakan para sopir angkutan umum (angkot) melalui skema sewa armada untuk layanan antar-jemput rutin, menjadikan program ini solusi yang bersifat inklusif.
Baca juga : Keselamatan Perlintasan Sebidang: Mitigasi Risiko Kecelakaan Angkutan Barang
Program Angkutan Pelajar Gratis diwujudkan melalui mekanisme inovatif, yaitu dengan mengoptimalkan peran dan armada angkutan perkotaan (angkot) yang sudah beroperasi di wilayah Banyuwangi. Dalam skema ini, angkot-angkot tersebut tidak lagi melayani rute umum saat jam sekolah, melainkan disewa secara khusus oleh Pemerintah Daerah dan difungsikan sepenuhnya untuk mengangkut pelajar secara gratis selama jam-jam krusial, yaitu pemberangkatan dan kepulangan sekolah. Angkot yang berpartisipasi dalam kegiatan sewa ini mudah dikenali oleh masyarakat, karena setiap armada wajib ditandai dengan pemasangan banner atau stiker khusus bertuliskan ‘Angkutan Pelajar Gratis’ sebagai identitas resmi layanan.
Para siswa dan pegawai Dinas Perhubungan Banyuwangi berpose di depan angkutan pelajar gratis. (Foto: Dinas Perhubungan Banyuwangi)
Setiap hari sekolah, dari Senin hingga Sabtu, Program Angkutan Pelajar Gratis di Banyuwangi mengerahkan sekitar 25 unit angkutan umum yang disewa khusus untuk melayani antar-jemput pelajar. Armada ini memiliki cakupan layanan yang luas, mencakup 8 rute utama yang menjangkau empat kecamatan padat (yaitu Kecamatan Banyuwangi, Glagah, Giri, dan sebagian Kecamatan Kalipuro). Layanan ini dirancang untuk kemudahan maksimal; semua pelajar dari jenjang SD hingga SMA dapat menjadi penerima manfaatnya hanya dengan satu syarat yang sangat mudah, yakni cukup mengenakan seragam sekolah tanpa perlu melalui proses registrasi khusus yang merepotkan.
Layanan Angkutan Pelajar Gratis beroperasi dengan jadwal khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, dengan keberangkatan diprioritaskan antara pukul 05.30 hingga 07.00 WIB dan kepulangan dijadwalkan antara pukul 11.00 hingga 14.30 WIB. Program ini dirancang sepenuhnya inklusif, melayani seluruh pelajar mulai dari jenjang SD hingga SMA tanpa memerlukan registrasi khusus yang rumit. Pelajar hanya perlu naik angkot yang sudah memiliki stiker atau banner khusus Angkutan Pelajar Gratis. Selain fokus utama pada kemudahan transportasi siswa, program ini juga berfungsi ganda: ia menjadi solusi efektif untuk memberdayakan sopir angkutan kota yang sebelumnya terdampak signifikan oleh penurunan pendapatan, memberikan mereka kepastian ekonomi melalui skema sewa armada.
Secara operasional, Program Angkutan Pelajar Gratis berupaya maksimal untuk memenuhi kebutuhan mobilitas siswa. Rata-rata setiap hari sekolah, layanan ini menyediakan sekitar 46 perjalanan angkutan pelajar gratis. Dengan kapasitas tersebut, diperkirakan program ini mampu menampung dan melayani setidaknya 368 siswa setiap harinya, memastikan sejumlah besar pelajar dapat menikmati fasilitas transportasi yang aman dan gratis menuju serta dari sekolah.
Guna memastikan efektivitas dan kemudahan penggunaan, layanan Angkutan Pelajar Gratis di wilayah perkotaan didukung oleh enam titik halte strategis yang telah ditetapkan dan berfungsi optimal sebagai lokasi utama untuk penaikan dan penurunan penumpang. Halte-halte ini menjadi bagian dari fleksibilitas program, pelajar disajikan tiga skema penjemputan utama agar dapat menyesuaikan dengan kondisi mereka masing-masing.
Baca juga : Rel Layang di Semarang dan Pekalongan: Solusi Permanen Atasi Banjir dan Kemacetan
Pelajar dapat memilih untuk berkumpul di titik-titik kumpul yang disepakati (seperti panti asuhan atau lokasi-lokasi tertentu yang ditetapkan), menunggu langsung di terminal yang berfungsi sebagai titik awal keberangkatan armada (seperti Terminal Brawijaya atau Terminal Blambangan), atau opsi paling mudah, yakni menunggu langsung di sepanjang jalur-jalur rute yang dilintasi oleh angkot-angkot gratis tersebut.
Sopir angkutan pelajar gratis bersama siswa di Banyuwangi tampak ceria. (Foto: Dinas Perhubungan Banyuwangi)
Dampak Ekonomi dan Sosial
Keberhasilan Program Angkutan Pelajar Gratis dapat diukur melalui tiga aspek positif utama yang saling menguatkan. Pertama, program ini berfungsi sebagai bantuan sosial transportasi vital, secara signifikan meringankan beban biaya yang harus ditanggung orang tua, sambil memastikan para pelajar dapat bergerak menuju sekolah secara tepat waktu.
Kedua, program ini menciptakan pemberdayaan ekonomi bagi sopir angkutan kota (angkot); melalui skema sewa armada, para sopir mendapatkan penghasilan tetap dari Pemerintah Kabupaten, dengan potensi pendapatan sekitar Rp 150.000 per hari untuk dua kali trip layanan, di luar penghasilan dari penumpang umum.
Ketiga, program ini secara langsung berkontribusi pada keselamatan dan ketertiban lalu lintas dengan mengurangi volume kendaraan pribadi (terutama sepeda motor) yang digunakan pelajar, sehingga meminimalisir risiko kecelakaan yang melibatkan pelajar di bawah umur atau yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).
Jaminan keberlangsungan operasional angkutan kota diberikan secara konkret melalui keikutsertaan mereka dalam layanan antar-jemput pelajar gratis ini, di mana para sopir angkot kini menerima bayaran rutin setiap hari sekolah.
Baca juga : Bus Sekolah di Pakpak Bharat: Solusi Jarak Jauh di Kaki Bukit Barisan
Dengan skema sewa armada untuk mengangkut pelajar, para sopir mendapatkan jaminan penghasilan tetap dari Pemerintah Kabupaten, sebuah solusi yang telah terbukti efektif: mobilitas pelajar kini terjamin dengan layanan yang aman dan gratis, sekaligus mencegah angkot mengalami gulung tikar di tengah persaingan transportasi modern.
Djoko Setijowarno
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya