Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Inggris Vs Spanyol, Kenangan Final Euro 2024
- Jelang GP Azerbaijan, McLaren Rombak MCL40
- Tindak Lanjuti Temuan Ombudsman, Kemenimipas Investigasi Lapas Cibinong
- ASDP Hadir Dalam Duka Sampaikan Tali Kasih Bagi Keluarga Korban KM Arupadhatu I
- Safrizal Dorong Penguatan NTPD 112: Bukan Sekadar Nomor, Tapi Kecepatan Respons
Ishaq Zubaedi Raqib
Haditsul Ifki
RM.id Rakyat Merdeka - Saat duduk di kelas 2 Diniyah (setingkat 2 SD) di Pesantren Nurul Huda, saya belajar soal haditsul ifki (berita bohong) yang menimpa Siti Aisyah ra. Kitabnya tipis, "Khulasoh Nurul Yaqin". Saduran Umar Abdul Jabbar. Kelas 2 (setara 2 SMA) di Pesantren TMI Al Amien, 11 tahun kemudian, dapat ulasan lebih luas soal hoax yang mengguncang rumah tangga Nabi ini. Kitabnya lebih tebal. "Hayatun Nabi" oleh Haekal. Semester 4 di Kulliyatud Da'wah, kitabnya makin tebal. "History of The Arabs" oleh Hitti.
Kurang lebih 17 tahun saya di pondok pesantren. Belum pernah ada materi soal Nabi bertabayyun kepada orang yang diduga kuat menjadi sumber utama berita bohong yang hebat itu. Kenapa hebat? Sebab Nabi sempat memulangkan Aisyah kepada orang tua yang juga sahabat terdekatnya, Abu Bakar. Betapa buruk dampak hoaks itu. Bukan saja merusak relasi Nabi dengan Abu Bakar. Bahkan Madinah mengalami kontraksi sosial. Saling curiga menyebar dengan cepat.
Baca juga : Jubir ESDM Bantah Kenaikan Harga BBM Pertalite Per 26 September: Itu Hoax
Anda dapat membayangkan, betapa gempar Madinah ketika Aisyah pulang bersama Sofwan. Sahabat penjaga barisan perang paling belakang itu, mendapati Aisyah tertinggal karena mencari kalungnya yang hilang. Kabar Aisyah tertinggal rombongan, sampai ke telinga Abdullah bin Ubay bin Salul. Tokoh utama kaum munafik inilah yang mendalangi penyebaran hoax yang berakibat pada turunnya wahyu tentang kesucian Siti Aisyah.
Fitnah itu disebarkan juga oleh beberapa sahabat yang terhasut. Misthah bin Atsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah binti Jahsy. Ketiganya, dijatuhi hukuman had (deraan) oleh Nabi. Hatta, Misthah yang sepupu Abu Bakar. Sebenarnya, Nabi dan para sahabat sudah tahu bahwa Bin Ubay selalu mencari celah untuk menjatuhkan Islam dan "hurmah" keluarga Nabi. Tabayyun kepadanya hanya akan memberinya panggung untuk bersumpah palsu atau memutarbalikkan fakta.
Nabi Tidak Tabayyun
Apakah Nabi melakukan tabayyun kepada Abdullah Bin Ubay Bin Salul? Adakah klarifikasi? Tidak. Sejarah pun mencatat, belum pernah ada. Kenapa? Sebab, dari seseorang dengan watak, tabiat, karakter dan memiliki rekam jejak permusuhan yang nyata dan berulang, tidak dibutuhkan tabayyun. Apa Anda merasa perlu bertabayyun kepada setan, iblis dan jin kafir atas perilaku buruk mereka menggoda dan menyesatkan bangsa manusia. Curriculum vitae makhluk ini jelas.
Penulis dua hari sebelum peristiwa Kudatuli 1996 di Jl P Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat.
Baca juga : Hoax, Pemadaman Internet Nasional Mulai 25 September 2026
Dalam skala berbeda, situasi semacam ini juga dirasakan oleh NU, khususnya pascamuktamar ke-35. Apa urgensinya memberi panggung kepada Lilur, menjelaskan pernyataan yang belum tentu benar yang dia ciptakan sendiri? Menyiapkan baginya endorsment mengenai dugaan yang tidak bisa disebut kebenaran materiil dan formal agar dapat dikonsumsi oleh publik. Apa manfaatnya bagi jam'iyyah dan jama'ah NU serta bangsa ini, jika seorang tokoh pers setinggi Pak DI ikut merancang, dirapatkan oleh awak redaksi, dan dibuatkan budgetting berita lewat kanal podcast untuk Lilur?
Nabi tidak pernah bertabayyun dan memberi panggung kepada "guru kemunafikan" terbesar dalam sejarah Islam, Abdullah bin Ubay bin Salul untuk memberi klarifikasi soal fitnahnya kepada Siti Aisyah. Anda tahu bagaimana remuk redamnya dada dan hati Abu Bakar saat Nabi memulangkan putrinya akibat makar jahat Bin Salul? Anda dapat menduga betapa masygulnya perasaan para Sahabat saat berita itu menyebar dari mulut ke mulut tanpa bisa dicegah.
Dampak eskalatif dan negatif dari berita hoax yang ditimbulkan akibat program podcast Pak DI dengan orang yang dipanggil Lilur itu, kini juga membuat jam'iyyah dan jama'ah NU tidak nyaman. Insecure. Siniar itu serasa menjadi kanal mewah bagi Lilur. Dihadiahkan kepadanya untuk memformalkan sangkaan, dugaan dan tuduhan yang selama ini cuma beredar secara terbatas di akun-akun media sosial milik yang bersangkutan. Nabi tidak pernah tanayyun kepada Bin Ubay. Tapi podcast ini semacam tabayyun kepada Lilur.
Baca juga : Dipastikan Gus Ipul Di Kompleks Istana Kepresidenan, Muktamar NU Ke-35 Bersih
Dan, sejak Pak DI memberi Lilur panggung lewat kanal di salah satu media konvensional, maka sejak itu pulalah "haditsul ifki" itu seperti dilegalkan dan diformalkan. Seperti DN Aidit diberi ruang untuk mengumumkan gerakan Dewan Jenderal melalui media-media milik negara. Seperti "cowas--konco lawas" alias para wartawan senior yang keras menyuarakan hak-hak mereka di sebuah media nasional, tempat bekerja para jurnalis itu tahunan silam.
Bagi saya yang jurnalis jauh di bawah Pak DI, beliau itu laksana stempel. Ibarat akreditor. Semacam pemberi sertifikat bagi seseorang untuk dapat melengkapi CV-nya. Anda pasti sudah membaca dan menikmati juga tulisan-tulisan beliau tentang banyak hal dari seseorang. Semacam endorsment. Seperti iklan dan promosi. Mengenai anak muda. Tentang dokter bedah syaraf. Tentang kepala daerah. Tentang calon menteri. Dan tentang apa dan siapa. Jika ditulis Pak DI, seperti lolos melewati jembatan "Titian Serambut Dibelah Tujuh". Wallaahu A'laa wa A'lam.
Ishaq Zubaedi Raqib
Jurnalis dan anggota Mustasyar MWC NU
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya