Dark/Light Mode

Akademisi Di Kursi Sekjen PBNU:

Menguatkan Sosialisasi Qanun Asasi Dan Tata Kelola Organisasi

Selasa, 22 September 2026 17:19 WIB
Lambang Nahdlatul Ulama (NU). Foto: NU Online
Lambang Nahdlatul Ulama (NU). Foto: NU Online

RM.id  Rakyat Merdeka - Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia dengan jutaan warga yang tersebar dari kota besar hingga pelosok desa.

Organisasi sebesar ini tidak cukup digerakkan oleh kharisma dan tradisi semata. Ia memerlukan pengurus yang menjaga nilai-nilai dasar jam'iyyah sekaligus mampu mengelola organisasi secara tertib, terukur, dan akuntabel.

Dalam struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), jabatan Sekretaris Jenderal (Sekjen) berada tepat di simpul dua kebutuhan tersebut. Sekjen menjalankan roda organisasi sehari-hari, menerjemahkan keputusan menjadi kerja nyata, dan menghubungkan pengurus pusat dengan struktur di bawahnya.

Atas dasar itu, gagasan agar posisi Sekjen PBNU diisi oleh kalangan akademisi seperti Juri Ardiantoro patut mendapat perhatian serius. Setidaknya ada tiga pertimbangan yang mendasarinya: kapasitas keilmuan yang dapat memperkuat sosialisasi Qanun Asasi, pengalaman memimpin lembaga pendidikan dan mengelola organisasi, serta sikap profesional yang tidak terafiliasi dengan partai politik mana pun.

Baca juga : Pemilihan Ketum PBNU Lebih Sejuk & Bermartabat

Pertimbangan pertama berkaitan dengan Qanun Asasi. Rumusan dasar yang digagas Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari ini memuat landasan pemikiran, arah perjuangan, dan pedoman akhlak berorganisasi bagi Nahdlatul Ulama.

Nilai-nilai tersebut tidak semestinya berhenti sebagai naskah yang dihormati tetapi jarang dibaca. Ia perlu dipahami, dibumikan, dan dijadikan rujukan sikap warga NU dalam kehidupan sehari-hari. Di titik inilah kalangan akademisi memiliki peran strategis.

Dunia akademik terbiasa membaca teks secara mendalam, menjelaskannya secara sistematis, dan menyampaikannya dengan bahasa yang dapat diterima berbagai lapisan masyarakat. Seorang akademisi dapat mengolah gagasan yang padat menjadi materi kaderisasi, modul pelatihan, dan kajian rutin yang mudah dipelajari oleh pengurus, santri, mahasiswa, maupun warga secara umum.

Sekjen adalah pejabat yang menggerakkan program organisasi. Karena itu, latar belakang akademik pada posisi ini membuka peluang agar sosialisasi Qanun Asasi dirancang lebih terstruktur dan berkelanjutan, misalnya melalui kerja sama dengan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama, penyusunan kurikulum kaderisasi, hingga evaluasi capaian yang terukur.

Baca juga : FTKP UNU Cirebon Perkuat Kapasitas Usaha Poklahsar Mafaza Melalui Inovasi Olahan

Sosialisasi yang selama ini telah berjalan dapat diperkuat oleh pendekatan yang lebih sistematis tanpa kehilangan kedalaman maknanya. Tantangan zaman menambah alasan mengapa kerja sosialisasi nilai perlu digarap dengan cara baru.

Generasi muda NU hidup di tengah arus informasi digital yang deras, dengan beragam tafsir keagamaan yang saling berebut perhatian. Tanpa pemahaman yang kokoh terhadap fondasi organisasinya sendiri, mereka mudah terombang-ambing.

Sosialisasi Qanun Asasi karenanya tidak cukup dilakukan melalui forum seremonial, melainkan perlu hadir dalam bentuk kajian yang berjenjang, materi yang mudah diakses, serta ruang dialog yang mengajak generasi muda memahami bahwa nilai-nilai pendiri masih relevan menjawab persoalan mutakhir.

Pendekatan seperti ini lazim dikuasai oleh mereka yang bergelut di dunia pendidikan dan riset. Dalam tradisi NU, kepemimpinan spiritual dan keilmuan bertumpu pada para ulama, sementara kerja organisasi dijalankan oleh pengurus harian. Keduanya tidak berhadap-hadapan, melainkan saling menguatkan.

Baca juga : “Kami Di Atas Politik”

Otoritas ulama menjaga arah dan marwah jam'iyyah, sedangkan Sekjen memastikan arah tersebut terwujud melalui program, administrasi, dan koordinasi yang rapi. Kehadiran akademisi di kursi Sekjen dapat memperkokoh relasi ini.

Nilai-nilai yang dirumuskan para ulama dapat dibawa ke ruang pendidikan dan kaderisasi dengan metode yang tepat, sementara pengalaman di lapangan menjadi bahan refleksi bagi pengembangan pemikiran organisasi. Dengan demikian, sosialisasi nilai tidak berjalan searah, tetapi hidup dan saling menguatkan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.