Dark/Light Mode

AI Bisa Buat Iklan dalam 10 Detik, Tapi Bisakah Kembalikan Kepercayaan yang Hilang?

Senin, 12 Oktober 2026 10:16 WIB
Dr. Devie Rahmawati
Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Sosial

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketika kecerdasan artifisial mengubah industri komunikasi, persoalan terbesarnya bukan lagi seberapa cepat manusia menghasilkan konten, melainkan siapa yang bertanggung jawab atas kebenaran, keselamatan, dan dampaknya.

Bayangkan sebuah perusahaan meluncurkan iklan yang dibuat menggunakan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Dalam sepuluh detik, mesin menghasilkan gambar yang menarik, model yang menawan, dan kemasan produk yang tampak sempurna.

Biaya produksi turun, waktu pengerjaan menyusut, hingga produktivitas meningkat. Semua tampak mengagumkan, sampai seorang pelanggan menyadari bahwa nama merek pada kemasan berubah satu huruf. Wajah model ternyata menyerupai seseorang yang tidak pernah memberikan izin. Lebih jauh lagi, dokumen rahasia klien yang digunakan dalam proses produksi telah diunggah ke layanan AI eksternal tanpa pemeriksaan memadai terhadap ketentuan pengelolaan datanya, maka, dalam sekejap, efisiensi berubah menjadi persoalan reputasi.

Ilustrasi tersebut menggambarkan paradoks yang sedang dihadapi industri komunikasi dan kreatif, ketika AI membuat biaya produksi semakin murah, tetapi biaya kesalahan dan hilangnya kepercayaan dapat menjadi semakin mahal. Pertanyaan inilah yang terus mengusik saya setelah menjadi salah satu pembicara dalam Global Digital Forum II 2026 di Moskow, Rusia.

Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS (kanan) menjadi salah satu pembicara dalam Global Digital Forum II 2026 di Moskow, Rusia.

Dalam forum internasional tersebut, saya mengangkat tema Can AI Speak Our Language Without Understanding Our Humanity?, apakah AI mampu berbicara dalam bahasa kita tanpa memahami kemanusiaan kita? Namun, ketika gagasan itu dibawa ke dunia industri komunikasi, muncul pertanyaan yang lebih mendesak, jika AI dapat membuat siaran pers dalam sepuluh detik, untuk apa dunia masih membutuhkan praktisi komunikasi, khususnya hubungan masyarakat atau public relations (PR)?

Jawaban saya sederhana, karena PR bukan sekadar pekerjaan membuat orang berbicara tentang organisasi. PR adalah pekerjaan membuat organisasi layak dibicarakan, didengarkan, dan dipercaya. Oleh karenanya, ketika AI semakin canggih, tanggung jawab tersebut menjadi semakin penting.

Dari Viral Menuju Vital: Ketika Popularitas Tidak Lagi Cukup

Selama bertahun-tahun, keberhasilan komunikasi sering diukur dari jumlah pemberitaan, tayangan, pengikut, dan percakapan publik, maka kini, AI dapat membantu menghasilkan ribuan materi komunikasi dengan biaya yang jauh lebih rendah. Sebuah perusahaan dapat menguji puluhan konsep kampanye, membuat berbagai variasi iklan, bahkan menyusun strategi komunikasi dalam waktu singkat.

Tetapi apakah semakin banyak konten berarti semakin besar kepercayaan? Belum tentu. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 2018 menemukan bahwa informasi salah dalam data Twitter yang mereka teliti cenderung menyebar lebih cepat dan lebih luas dibandingkan informasi benar. Temuan tersebut memberikan pelajaran penting: viralitas bukan ukuran kebenaran, sebagaimana popularitas bukan jaminan reputasi.

Bayangkan ketika sebuah perusahaan menerima seribu keluhan pelanggan. Tim komunikasinya kemudian membuat kampanye AI yang menghasilkan satu juta tayangan positif. Apakah reputasinya membaik? Belum tentu, jika seribu keluhan tadi tetap tidak diselesaikan.

Sebaliknya, ketika praktisi PR membawa keluhan tersebut ke meja pimpinan, mendorong perbaikan layanan, dan mengkomunikasikan hasilnya secara terbuka, komunikasi berubah menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Paradigma inilah yang saya tawarkan, yaitu jangan hanya viral, jadilah vital.

PR yang hebat bukan yang paling sering membuat organisasi dipuji, melainkan yang paling mampu membuat organisasi pantas dipuji. Namun, perubahan tersebut kini menghadapi ujian baru karena AI bukan hanya memengaruhi bagaimana organisasi berbicara kepada publik. AI juga mulai menentukan bagaimana publik memperoleh informasi tentang organisasi.

Dahulu, ketika ingin mengetahui reputasi sebuah perusahaan, masyarakat membuka mesin pencari, membaca pemberitaan, membandingkan sumber, lalu mengambil kesimpulan. Sekarang, orang dapat langsung bertanya kepada AI, perusahaan mana yang terpercaya, produk mana yang aman, atau universitas mana yang memiliki program terbaik? AI dapat memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan. Tetapi apakah jawabannya benar? Apakah informasinya mutakhir? Apakah sumbernya dapat diperiksa?

Kita sedang menyaksikan pergeseran dari search economy menuju answer economy, dari kebiasaan mencari berbagai sumber menuju kebiasaan menerima jawaban yang telah dirangkum mesin. Perubahan ini menghadirkan tantangan baru bagi para praktisi komunikasi.

Organisasi tidak cukup hanya memastikan namanya muncul di mesin pencari. Organisasi juga perlu memastikan informasi tentang dirinya tersedia secara akurat, konsisten, mutakhir, dan mudah diverifikasi.

Dalam perkembangan komunikasi digital, pendekatan ini berkaitan dengan Generative Engine Optimization atau GEO. Namun, GEO tidak boleh dipahami sebagai upaya memanipulasi AI agar selalu memuji organisasi. Tujuannya adalah membantu informasi yang benar tersedia dengan lebih baik dalam ekosistem pencarian dan jawaban generatif.

Ketika sebuah universitas telah memperbarui kurikulum, meningkatkan fasilitas, dan memperoleh capaian baru. Namun, informasi resminya masih menggunakan data tiga tahun lalu. Maka, saat calon mahasiswa bertanya kepada AI, sistem tersebut mungkin memberikan gambaran yang sudah tidak sesuai. Organisasinya telah berubah, tetapi jejak pengetahuannya tertinggal.

Karena itu, saya mendorong organisasi mulai melakukan audit reputasi AI secara berkala: menguji pertanyaan yang mungkin diajukan masyarakat, memeriksa jawaban dari beberapa layanan AI, mengidentifikasi kesalahan, dan memperbaiki sumber informasi resmi. Tidak ada teknik yang menjamin seluruh jawaban AI akan selalu benar. Tetapi organisasi tetap bertanggung jawab menyediakan informasi yang dapat dipercaya.

Persoalannya, tanggung jawab komunikasi tidak berhenti pada informasi yang dibaca AI. Kita juga harus memeriksa bagaimana organisasi menggunakan AI untuk memproduksi informasi. Di sinilah pengalaman industri Indonesia menjadi sangat penting.

Kajian Folks Strategic: Ketika Kecanggihan AI Bertemu Risiko Nyata Industri

Baca juga : Membangun Merek yang Dirindukan: Belajar dari Disney, Amerika dan Jepang

Dalam membahas masa depan AI, kita sering mengutip penelitian dari Amerika Serikat, Eropa, dan berbagai lembaga internasional. Penelitian tersebut penting, namun, Indonesia juga membutuhkan pengetahuan yang lahir dari persoalan industrinya sendiri.

Karena itu, saya ingin mengangkat kajian praktik industri Folks Strategic, perusahaan konsultan komunikasi strategis dan kreatif di Indonesia, yang mengidentifikasi sejumlah tantangan penggunaan AI dalam pekerjaan komunikasi, pengelolaan merek, dan produksi konten.

Kajian tersebut menyoroti lima persoalan utama yaitu keamanan data klien, penggunaan identitas atau kemiripan seseorang tanpa persetujuan, kegagalan pemeriksaan kualitas hasil AI, dampak lingkungan, serta kesiapan keterampilan pekerja kreatif.

Temuan ini merupakan identifikasi persoalan praktik industri, bukan survei representatif seluruh perusahaan kreatif Indonesia. Namun, nilainya penting karena memperlihatkan risiko yang harus diantisipasi dalam pekerjaan sehari-hari. Bagi saya, inilah pertemuan menarik antara kajian global dan pengalaman nasional.

Di panggung internasional, kita membicarakan seberapa jauh AI dapat mengubah masa depan. Di ruang kerja industri Indonesia, kita harus menjawab siapa yang bertanggung jawab atas kesalahan yang terjadi hari ini.

Salah satu persoalan yang diangkat Folks Strategic adalah penggunaan informasi klien pada aplikasi AI pihak ketiga, termasuk layanan yang melibatkan perusahaan di luar negeri. Saat sebuah agensi menerima dokumen strategi peluncuran produk yang belum diumumkan kepada publik. Untuk mempercepat pekerjaan, seorang anggota tim memasukkan dokumen tersebut ke aplikasi AI. Hasilnya mungkin sangat membantu, tetapi apakah klien telah mengizinkannya? Apakah dokumen tersebut mengandung data pribadi atau rahasia dagang? Bagaimana ketentuan penyimpanan, penggunaan, dan penghapusan datanya?

Tidak semua penyedia AI memiliki kebijakan yang sama, oleh karenanya, tidak tepat menganggap seluruh penggunaan AI otomatis membocorkan data. Namun, sama kelirunya apabila kita menganggap semua informasi aman hanya karena layanan tersebut populer.

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi telah memberikan kerangka perlindungan hukum di Indonesia, termasuk persyaratan transfer data pribadi lintas negara. Namun, dunia industri membutuhkan penerjemahan prinsip hukum menjadi prosedur yang dapat diterapkan, klasifikasi informasi rahasia, penilaian risiko penyedia AI, pembatasan unggahan, serta persetujuan klien yang jelas.

Saya melihat persoalan ini sebagai bagian dari kedaulatan digital yang paling dekat dengan kehidupan organisasi. Kedaulatan digital bukan semata tentang lokasi server. Ia juga menyangkut kemampuan menentukan siapa yang mengendalikan informasi, untuk tujuan apa, dan dengan perlindungan bagaimana. Jika sebuah agensi menghemat tiga jam pekerjaan tetapi mempertaruhkan kepercayaan klien selama bertahun-tahun, apakah itu benar-benar efisiensi?

Persoalan kedua dalam kajian Folks Strategic adalah penggunaan wajah atau kemiripan seseorang dalam konten AI. Teknologi kini mampu menghasilkan sosok yang tampak sangat realistis, bahkan menyerupai individu tertentu. Kemampuan ini menawarkan peluang bagi industri film, periklanan, pendidikan, dan hiburan.

Namun, bagaimana jika sebuah iklan menampilkan wajah yang menyerupai seseorang tanpa izin? Bagaimana jika suara seseorang digunakan untuk mendukung produk yang tidak pernah dipromosikan? Persoalan tersebut menyangkut privasi, identitas, reputasi, dan kemungkinan tanggung jawab hukum.

Prinsip yang perlu dikembangkan adalah persetujuan yang jelas dan sesuai dengan tujuan penggunaan. Conset (izin) seseorang untuk difoto dalam satu kegiatan tidak otomatis berarti izin agar wajahnya direplikasi menggunakan AI untuk berbagai kampanye komersial.

Dalam EU AI Act, khususnya Pasal 50, Uni Eropa mengembangkan ketentuan transparansi tertentu untuk keluaran AI dan konten manipulatif, termasuk deepfake. Ketentuan tersebut memiliki ruang lingkup, pengecualian, dan jadwal penerapan tersendiri. Indonesia dapat mempelajari pendekatan tersebut untuk membangun tata kelola yang sesuai dengan kebutuhan nasional.

Saya mendorong industri menerapkan penandaan yang jelas pada konten yang dibuat atau dimanipulasi secara material oleh AI, terutama jika berpotensi disalahartikan sebagai manusia atau kejadian nyata. Standar asal-usul konten seperti C2PA Content Credentials juga dapat membantu meningkatkan transparansi. Namun, penanda saja tidak cukup, harus ada kejelasan izin, hak penggunaan, dan tanggung jawab. Mesin mungkin mampu meniru wajah seseorang. Tetapi kemampuan meniru tidak pernah otomatis memberikan hak untuk menggunakannya.

Folks Strategic juga mengidentifikasi risiko kegagalan quality assurance atau pemeriksaan kualitas terhadap hasil AI. Salah satu ilustrasi operasionalnya adalah penggunaan packshot, yakni gambar kemasan produk klien, dalam proses produksi materi kreatif.

AI dapat menghasilkan visual yang tampak sempurna, tetapi nama produk mungkin berubah, logo menjadi tidak akurat, atau informasi kemasan tidak sesuai. Bagi pengguna biasa, kesalahan tersebut mungkin tampak kecil, namun, untuk pemilik merek, konsekuensinya dapat jauh lebih besar. Dalam industri yang bergantung pada keakuratan informasi, satu huruf yang salah dapat memicu keluhan, penarikan materi promosi, atau persoalan kontraktual.

Karena itu, saya mengusulkan perubahan cara pandang dari creative production menuju creative accountability, yaitu keahlian profesional tidak lagi hanya dinilai dari kemampuan menghasilkan konten, tetapi juga kemampuan memastikan konten tersebut akurat, aman, sesuai identitas merek, dan layak dipublikasikan.

Agensi membutuhkan prosedur pemeriksaan yang mencakup nama dan logo, klaim produk, hak penggunaan aset, akurasi visual, keamanan informasi, serta persetujuan klien. AI boleh membuat seribu alternatif desain, tetapi satu desain yang salah tetap menjadi tanggung jawab manusia yang menerbitkannya.

Murah di Layar, Belum Tentu Murah bagi Bumi

Baca juga : Esports dan Lahirnya Wajah Baru Gotong Royong Indonesia

Persoalan keempat yang diajukan Folks Strategic justru menyentuh dimensi yang sering tidak terlihat yaitu dampak lingkungan. Ketika AI semakin mudah diakses, kita dapat menghasilkan puluhan gambar atau video hanya untuk mencoba-coba. Biaya yang terlihat oleh pengguna mungkin kecil. Namun, proses tersebut tetap membutuhkan pusat data, listrik, sistem pendinginan, dan infrastruktur komputasi.

Laporan International Energy Agency (IEA), Energy and AI pada 2025, memperkirakan konsumsi listrik pusat data global mencapai sekitar 415 terawatt-jam pada 2024 dan dapat meningkat menjadi sekitar 945 terawatt-jam pada 2030 dalam skenario dasarnya.

Angka tersebut mencakup seluruh kegiatan pusat data, bukan hanya AI, dimana, dampak setiap penggunaan AI juga berbeda menurut model, infrastruktur, dan sumber energinya. Namun, data IEA memperkuat pertanyaan yang diajukan Folks Strategic yaitu apakah industri telah mempertimbangkan manfaat penggunaan AI dibandingkan sumber daya yang diperlukan?

Apakah kita membutuhkan seratus variasi gambar untuk satu kampanye? Apakah model yang lebih sederhana sudah cukup? Apakah semua pekerjaan harus menggunakan AI generatif? Tentunya ini bukan ajakan untuk berhenti berinovasi, namun, seruan untuk menggunakan teknologi secara lebih sadar.

Jangan Sampai Kurikulum Kalah Cepat dari Teknologi

Persoalan kelima adalah perlindungan terhadap pekerja dan kesiapan pendidikan. Ketika seorang mahasiswa memilih jurusan Desain Komunikasi Visual karena ingin menjadi ilustrator atau desainer profesional, maka, individu tersebut akan menghabiskan beberapa tahun untuk menguasai keterampilan teknis. Namun, saat memasuki dunia kerja, sebagian tugas tersebut telah dapat dibantu AI. Apakah pendidikan DKV menjadi tidak relevan? Jawabannya tentu saja tidak. Tetapi kombinasi keterampilan yang dibutuhkan industri sedang berubah.

Folks Strategic menekankan pentingnya peta jalan transisi keterampilan sejak SMK hingga perguruan tinggi, termasuk bagi mahasiswa yang telah terlanjur memilih bidang pendidikan kreatif.

Kajian International Labour Organization (ILO) pada 2025 memperkirakan sekitar satu dari empat pekerjaan secara global memiliki tingkat paparan tertentu terhadap AI generatif. Namun, ILO menekankan bahwa transformasi tugas lebih mungkin terjadi secara luas daripada penggantian seluruh profesi secara otomatis. Artinya, persoalan utama bukan hanya apakah pekerjaan akan hilang, tetapi apakah pekerja dipersiapkan menghadapi perubahan.

Bagi pendidikan vokasi, tantangan ini sangat nyata. Untuk itu, mahasiswa DKV tetap perlu memahami prinsip desain, tipografi, komunikasi visual, dan perilaku konsumen. Tetapi mereka juga harus mampu mengarahkan AI, mengevaluasi hasil, memeriksa akurasi, memahami etika data, dan mengelola hak kekayaan intelektual.

Mahasiswa PR perlu memahami komunikasi strategis, penelitian, hubungan pemangku kepentingan, dan manajemen krisis. Namun, mereka juga perlu mempelajari audit reputasi AI, verifikasi informasi, serta tata kelola penggunaan AI dalam organisasi.

Pendidikan tidak boleh berhenti pada pelatihan membuat perintah atau prompt. Untuk itu perlu dipastikan bahwa dunia pendidikan tidak hanya mengajarkan mahasiswa bagaimana meminta jawaban dari AI, namun, kapan mereka harus meragukan jawaban tersebut. Untuk itu, yang dibutuhkan bukan sekadar mata kuliah baru, tetapi pembaruan cara berpikir tentang kompetensi. Karena kita tidak boleh menyiapkan mahasiswa untuk memenangkan persaingan pekerjaan kemarin, sementara mereka akan memasuki pasar kerja esok hari.

Dari Pabrik Konten Menuju Arsitek Kepercayaan

Kelima persoalan yang diidentifikasi Folks Strategic memperlihatkan satu kesimpulan bahwa tantangan industri komunikasi di era AI bukan semata kemampuan menghasilkan konten. Tantangannya adalah kemampuan menjaga kepercayaan di sepanjang proses produksi, penggunaan, dan penyebaran konten.

Di sinilah saya menawarkan perubahan ketiga yaitu jangan menjadi pabrik konten, jadilah arsitek kepercayaan. AI dapat membantu menulis pidato, menyusun strategi, membuat video, dan menganalisis percakapan publik. Tetapi ketika perusahaan menghadapi konflik dengan masyarakat, siapa yang akan mendengarkan pihak yang kecewa?

Ketika sebuah merek melakukan kesalahan, siapa yang berani mengingatkan pimpinan bahwa persoalannya bukan sekadar sentimen negatif, melainkan keputusan organisasi yang perlu diperbaiki? Ketika data klien disalahgunakan, siapa yang bertanggung jawab menjelaskan kejadian tersebut dan memastikan tidak terulang?

Teknologi dapat mempercepat penyampaian pesan. Namun, teknologi tidak otomatis membuat organisasi bersedia mendengarkan. Dalam tradisi akademik komunikasi, pendekatan two-way symmetrical communication yang dikembangkan James E. Grunig dan para koleganya menekankan dialog serta penyesuaian timbal balik antara organisasi dan publik.

Prinsip tersebut justru semakin relevan ketika organisasi memiliki kemampuan mengumpulkan dan mengolah data dalam skala besar. Sebab mengetahui banyak angka tentang masyarakat tidak sama dengan memahami pengalaman masyarakat.

AI dapat membantu organisasi mengetahui apa yang dibicarakan publik, namun, hanya kemauan untuk mendengarkan yang dapat membantu organisasi memahami mengapa publik membicarakannya.

Dalam presentasi saya di Global Digital Forum II, saya memperkenalkan NGOPI Protocol, sebuah pendekatan pengembangan AI yang terinspirasi dari budaya Indonesia.

NGOPI mencakup lima langkah yaitu Notice, mendengarkan kebutuhan sebelum merancang solusi; Gather, mempertemukan pihak terkait; Open, membuka pengetahuan dan partisipasi; Prototype, menguji solusi dalam skala kecil; dan Improve, memperbaikinya berdasarkan pengalaman pengguna.

Baca juga : Staf Ahli Mendikdasmen: KOSSMI 2026 Jadi Bukti Pentingnya STEM dan AI

Mengapa ngopi? Karena dalam kehidupan masyarakat Indonesia, banyak persoalan yang tampak rumit justru mulai menemukan jalan keluar ketika orang bersedia duduk bersama, saling mendengarkan, dan mencari penyelesaian. Kopinya mungkin sederhana, tetapi percakapannya bisa mengubah keputusan.

Prinsip tersebut dapat diterapkan pada persoalan AI di industri kreatif. Agensi perlu berdialog dengan klien mengenai penggunaan data. Pengembang teknologi perlu mendengar kekhawatiran pekerja kreatif. Perguruan tinggi perlu berkolaborasi dengan industri untuk memperbarui kompetensi. Pemerintah perlu melibatkan masyarakat dalam penyusunan standar perlindungan.

Karena itu, saya mengusulkan agar Indonesia membangun agenda tata kelola AI industri komunikasi melalui lima langkah praktis. Pertama, menerapkan standar penggunaan data dan layanan AI pihak ketiga dalam kontrak serta prosedur kerja agensi.

Kedua, memperkuat persetujuan penggunaan identitas dan transparansi konten sintetis. Ketiga, mewajibkan pemeriksaan manusia terhadap hasil AI sebelum digunakan dalam komunikasi komersial. Keempat, mengembangkan pedoman efisiensi penggunaan AI dan penilaian dampak lingkungannya secara proporsional.

Kelima, menyusun peta jalan pembaruan keterampilan industri kreatif melalui kolaborasi SMK, perguruan tinggi, asosiasi profesi, dan perusahaan.

Langkah-langkah tersebut dapat dimulai melalui standar profesi dan tata kelola organisasi, tanpa harus menunggu seluruh persoalan dijawab oleh peraturan baru. Kajian Folks Strategic dapat menjadi salah satu masukan awal bagi penelitian terapan yang lebih luas untuk menguji seberapa sering risiko tersebut terjadi, bagaimana dampaknya, dan bentuk mitigasi apa yang paling efektif. Dengan demikian, pengetahuan dari praktik industri Indonesia tidak hanya menjadi keluhan, tetapi berkembang menjadi bahan penelitian dan perbaikan kebijakan.

Dalam presentasi di GDF II, saya menawarkan gagasan bahwa AI yang bermakna membutuhkan empat unsur yaitu Context, Community, Capability, dan Care.

Konteks memastikan teknologi memahami kebutuhan. Komunitas memastikan masyarakat dilibatkan. Kemampuan memastikan manusia dapat memanfaatkannya. Kepedulian memastikan kemajuan tidak mengorbankan hak, keselamatan, dan masa depan pihak lain. Keempatnya harus berjalan bersama.

Karena teknologi yang tidak memahami konteks dapat menghasilkan solusi yang keliru. Teknologi tanpa partisipasi dapat kehilangan legitimasi. Teknologi tanpa kemampuan manusia hanya memperluas ketergantungan, serta ketika teknologi tanpa kepedulian dapat menciptakan kerugian yang tidak terlihat.

Saya percaya masa depan industri komunikasi Indonesia bukan terletak pada kemampuan menghasilkan konten paling banyak, tetapi pada kemampuan menciptakan manfaat paling nyata dengan risiko yang dapat dipertanggungjawabkan. Dunia boleh berlomba mengembangkan AI yang semakin cerdas. Tetapi Indonesia harus ikut membangun masyarakat yang semakin kritis, pekerja yang semakin kompeten, organisasi yang semakin bertanggung jawab, dan industri yang semakin dipercaya.

Sebab pada akhirnya, AI mungkin mampu menulis seribu siaran pers dalam satu menit. Namun, seribu siaran pers tidak akan mampu menggantikan satu keputusan organisasi yang benar-benar memperbaiki kehidupan masyarakat. AI dapat membuat kata-kata terdengar indah. Namun, hanya tindakan yang dapat membuat kata-kata memiliki makna.

Jangan sampai teknologi semakin cepat menghasilkan karya, tetapi manusia semakin lambat memikirkan akibatnya; Jangan sampai mesin semakin mahir meniru wajah, tetapi kita semakin mudah melupakan hak pemiliknya; Jangan sampai konten semakin murah diproduksi, tetapi kepercayaan semakin mahal dipulihkan.

Karena masa depan PR bukan tentang siapa yang paling pandai membangun citra, melainkan siapa yang paling mampu menghubungkan kata dengan karya, janji dengan bukti, dan teknologi dengan hati.

AI boleh semakin pintar. Tetapi manusia harus semakin bernalar, semakin mendengar, dan semakin benar.

Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS
Akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.