Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Perempuan, Mobilitas, dan Ilusi Solusi: Membaca Ulang Gerbong KRL di Hari Buruh
Kamis, 30 April 2026 18:54 WIB
Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Sosial
Pengamat Sosial
RM.id Rakyat Merdeka - Setiap pagi, jutaan orang masuk ke kereta. Kita menyebutnya mobilitas, rutinitas dan perjalanan kerja. Padahal, bagi banyak perempuan, itu adalah medan bertahan hidup pertama hari itu.
Di tengah polemik tentang gerbong perempuan, harus di depan, tengah, atau belakang, kita sedang terjebak dalam ilusi solusi. Seolah-olah dengan menggeser posisi gerbong, kita telah menyelesaikan masalah.
Padahal, jika ditarik lebih dalam, kita tidak sedang bicara tentang posisi gerbong. Kita sedang bicara tentang ketidakmampuan sistem membaca perubahan besar dalam peran perempuan.
Perubahan Sunyi yang Tak Diantisipasi Sistem
Mari mulai dari fakta yang sering diabaikan bahwa hari ini, perempuan tidak lagi hanya “ikut bekerja”. Semakin banyak perempuan yang harus bekerja. Bukan untuk aktualisasi diri, tetapi untuk menopang ekonomi keluarga.
Dalam banyak rumah tangga perempuan bukan hanya menjadi co-breadwinner, tetapi bahkan menjadi primary breadwinner. Penghasilan perempuan bukan pelengkap, tetapi penentu bertahannya keluarga. Namun, sistem mobilitas kita, masih didesain dengan asumsi lama bahwa perempuan adalah “pekerja tambahan” dan laki-laki ialah “pekerja utama”. Di sinilah akar masalah yang jarang dibahas.
Ketika Mobilitas Perempuan Dibatasi, Dampaknya Bukan Sekadar Tak Nyaman
Baca juga : Diamnya Anak Hari Ini, Krisis Besar di Masa Depan
Riset internasional menunjukkan sesuatu yang sangat penting bahwa perempuan cenderung memiliki jangkauan mobilitas yang lebih sempit, bukan karena kemampuan, tetapi karena tanggung jawab domestik, struktur keluarga, norma sosial dan keterbatasan sistem. Fenomena ini bukan hal sederhana, mengingat keterbatasan mobilitas berarti:
- pilihan kerja lebih sempit
- peluang karier lebih terbatas, dan
- potensi pendapatan lebih rendah
Dalam banyak studi, mobilitas yang lebih luas, justru berkorelasi dengan pekerjaan yang lebih baik dan gaji lebih tinggi. Paradoks besarnya adalah perempuan semakin penting, tapi sistem belum sepenuhnya hadir. Inilah kontradiksi yang jarang diulas yaitu:
- Perempuan semakin dibutuhkan dalam ekonomi;
- Tapi sistem transportasi belum beradaptasi;
- Perempuan harus bergerak lebih banyak;
- Tapi ruang geraknya justru paling terbatas
- Dan semua itu terjadi bahkan sebelum jam kerja dimulai.
Masalah Sebenarnya: Bukan Gerbong, Tapi Perebutan Ruang
Di Jepang, negara dengan transportasi paling disiplin di dunia, keluhan terbesar bukan soal keamanan atau lokasi gerbong, tetapi soal “backpack”. Tas dianggap masalah karena memakan ruang, mengganggu pergerakan dan memperlambat arus.
Studi ini memberi pelajaran penting bahwa konflik di dalam kereta bukan konflik antar manusia, melainkan konflik antar kebutuhan ruang. Ketika ruang terbatas, maka empati menurun, stres meningkat dan perilaku menjadi defensif.
Kenapa Gerbong Perempuan Terasa Lebih “Tegang”? Bukan karena perempuan tidak solid, melainkan karena:
- mereka membawa beban ganda (kerja & rumah tangga);
- mereka berada dalam kondisi tekanan waktu yang lebih tinggi
- mereka harus menjaga keamanan diri dan efisiensi waktu
Baca juga : Anak Vs Algoritma: Negara Harus Memihak Siapa?
Riset menunjukkan perempuan:
- menghabiskan waktu domestik jauh lebih besar;
- lebih sering menyesuaikan mobilitas dengan kebutuhan keluarga; serta
- memiliki fleksibilitas waktu yang lebih rendah
Akibatnya perjalanan bukan sekadar perjalanan, tetapi menjadi bagian dari tekanan hidup yang berlapis.
Belajar dari Dunia: Sistem yang Mengubah Perilaku
Negara maju tidak fokus pada “memindahkan ruang”, namun, fokus pada mengelola aliran manusia. Contohnya:
- Jepang: tas harus di depan, pintu harus steril;
- Eropa: boarding flow diatur dengan visual dan zona;
- Inggris: kampanye perilaku lebih dominan dibanding aturan keras.
Karena mereka memahami bahwa manusia tidak berubah karena larangan, tetapi karena sistem memudahkan mereka untuk tertib
Dimensi yang Paling Terlupakan: Mental Load Perempuan
Ada satu hal yang tidak terlihat di dalam kereta yaitu “mental load” (beban mental), yang dialami perempuan selama perjalanan yaitu memikirkan pekerjaan, memikirkan anak, memikirkan rumah, memikirkan keamanan diri.
Baca juga : Ramadan: Bulan Pahala atau Bulan Phishing?
Dalam satu perjalanan, mereka memikul tiga beban sekaligus yaitu fisik, psikologis dan beban sosial. Fakta ini yang membuat pengalaman perempuan menjadi lebih intens, lebih melelahkan, dan lebih rentan konflik
Hari Buruh: Kita Terlalu Fokus pada Kantor, Lupa pada Perjalanan
Hari Buruh selalu bicara tentang upah, jam kerja dan kesejahteraan. Tetapi hampir tidak pernah bicara soal perjalanan menuju kerja. Padahal commuting adalah bagian dari beban kerja, saat waktu di kereta adalah waktu produktif yang hilang, serta stres di perjalanan mempengaruhi performa kerja. Fenomena ini bagi perempuan adalah beban tambahan sistemik. Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan, bukan soal gerbong perempuan sebaiknya di mana? Tetapi, apakah sistem transportasi kita sudah adil untuk mereka yang paling bergantung padanya?
Perjuangan yang Tidak Pernah Terlihat
Perempuan hari ini bekerja lebih banyak, memikul lebih banyak, bergerak lebih jauh, tetapi mendapat ruang yang tidak bertambah. Setiap pagi di dalam kereta, mereka tidak sedang sekadar berdiri. Mereka sedang mempertahankan keseimbangan hidup yang rapuh, di ruang yang terlalu sempit untuk realitas mereka. Selama sistem belum berubah, perjuangan itu akan terus berlanjut. Bukan di panggung maupun kebijakan. Tetapi di dalam gerbong, setiap hari.
Dr. Devie Rahmawati, CICS
Peneliti Kajian Sosial
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya