Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Muktamar XXI IMM Digelar 21-23 Januari 2027 Di Kalimantan Selatan
- Weekend Career Class GSSD UI Dan Tazakka Ajak Anak Muda Rancang Karier Bermakna
- Kalapas Garut: Pengawasan Harus Cegah Masalah Pemasyarakatan Berulang
- Marc Klok Pede Persib Taklukkan Persik
- Riko Simanjuntak Pede PSS Sleman Curi Poin di Kandang Persebaya
Adri Arlan Sinaga
mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR)
mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR)
RM.id Rakyat Merdeka - Pergeseran tektonik geopolitik abad ke-21 menuntut reorientasi mendasar atas cara Indonesia menempatkan diri dalam percaturan kekuasaan global. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, spektrum politik luar negeri Indonesia secara tegas meluas menuju reposisi strategis di tengah pusaran multipolarisme. Orientasi diplomasi nasional tidak lagi terpaku pada ketergantungan konvensional terhadap hegemoni Barat, melainkan secara aktif memelopori penguatan peran negara-negara berkembang (emerging economies) dalam meredesain arsitektur geopolitik dan geoekonomi dunia.
Langkah ini diambil berdasarkan kalkulasi rasional atas dua realitas kiblat geopolitik dunia. Pertama, indikasi penurunan hegemoni Amerika Serikat dan kedua, stagnasi pertumbuhan ekonomi Uni Eropa. Dalam konstelasi baru ini, Indonesia memosisikan diri sebagai bagian integral dari kelompok Global South yang berupaya meredistribusi pusat gravitasi ekonomi politik dunia agar tidak terkonsentrasi pada satu atau dua kutub utama semata. Landasan logis bagi arah kebijakan tersebut terekam dalam siniar (podcast) Yahya x Yahya oleh host Tantowi Yahya dan Helmi Yahya bersama Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno. Perbincangan tersebut menegaskan sebuah fakta krusial bahwa di tengah rivalitas kekuatan besar, hampir seluruh instrumen hubungan antarnegara mulai dari energi, rantai pasok pangan, hingga akses teknologi telah di-weaponized atau dipersenjatai sebagai kepentingan ekonomi politik.
Kondisi ini beririsan langsung dengan tesis Fareed Zakaria dalam bukunya, Age of Revolutions (2024), yang menganalogikan posisi Amerika Serikat di bawah dinamika politik internal dan kepemimpinan Donald Trump tengah mengalami fase Roman Empire is declining (kemunduran Kekaisaran Romawi). Poros AS maupun Uni Eropa merupakan pusat perekonomian dan teknologi dunia selama 70 tahun terakhir. Namun ketika imperium AS mulai goyah dan Uni Eropa terjebak dalam stagnasi struktural serta krisis identitas, tata kelola global menjadi sangat rentan, sehingga ketergantungan tunggal pada poros ini menjadi bentuk kerentanan yang berisiko.
Mitigasi Risiko (De-risking) ke Global South
Baca juga : ‘Rangkulisme’ Prabowo Efektif Jaga Tensi Politik
Guna merespons ketidakpastian tatanan internasional tersebut, strategi mitigasi risiko (de-risking) dijadikan imperatif utama dalam pelaksanaan diplomasi Indonesia. De-risking tidak dimaknai sebagai upaya isolasi diri atau pemutusan hubungan ekonomi dengan negara-negara maju, melainkan sebuah kalkulasi rasional untuk mengurangi tingkat keterpaparan (vulnerability) terhadap guncangan eksternal. Ketika proteksionisme dan sanksi unilateral marak digunakan oleh kekuatan besar dunia seperti AS dan EU, negara-negara Global South dituntut membangun sistem ketahanan kolektif. Bagi Indonesia, langkah isolasi risiko difokuskan pada pengamanan dua sektor vital yang paling rentan terhadap disrupsi geopolitik, yakni ketahanan pangan dan kedaulatan energi.
Urgensi kalkulasi de-risking ini didasarkan pada besarnya tingkat keterpaparan Indonesia terhadap dinamika perdagangan global dan kerentanan struktur pasar tunggal. Data Kementerian Perdagangan dan BPS mencatatkan bahwa porsi impor bahan baku dan penolong nasional masih mendominasi struktur impor Indonesia dengan pangsa mencapai 69,84 persen, sementara sektor manufaktur berkontribusi hingga 83,61 persen terhadap ekspor non-migas. Ketika Amerika Serikat menerapkan kebijakan Executive Order pengenaan tarif resiprokal hingga 32 persen terhadap puluhan negara mitra ditambah gejolak inflasi global maka potensi disrupsi terhadap neraca perdagangan nasional menjadi sangat nyata. Tanpa langkah de-konsentrasi risiko yang sistematis, defisit pasokan pada komoditas kunci seperti gandum, gula, dan bahan bakar minyak berisiko mengganggu stabilitas inflasi domestik yang selama ini dijaga pada kisaran 2,5 persen (yoy).
Melalui strategi de-risking ini, konsolidasi kolektif bersama negara-negara berkembang diperkuat guna menciptakan jaring pengaman ekonomi yang independen dari krisis multidimensi di Barat. Penataan ulang arsitektur perdagangan ini memungkinkan Indonesia memitigasi dampak fluktuasi kebijakan moneter global maupun hambatan tarif unilateral. Dengan demikian, resiliensi nasional dibangun bukan atas dasar ketergantungan pada satu sistem keuangan atau pasar tunggal, melainkan melalui jaring kemitraan multipolar yang lebih seimbang dan berkeadilan.
Diversifikasi Polugri Indonesia
Baca juga : Wantimpres Tetapkan 3 Bidang Strategis, Perkuat Pertimbangan ke Presiden Prabowo
Realisasi konkret dari kebijakan mitigasi risiko tersebut bermuara pada akselerasi diversifikasi pasar dan rantai pasok yang difokuskan pada poros BRICS+ serta kawasan Amerika Latin dan Afrika. Di Amerika Latin, negara seperti Brazil dan Chile memegang peran sentral dalam skema diversifikasi energi dan mineral strategis. Sementara di Afrika, keterikatan ekonomi dengan Afrika Selatan serta Aljazair dipacu melalui skema Preferential Trade Agreement (PTA) guna mengamankan pasokan pangan dan komoditas energi ganda.
Penyertaan data kuantitatif secara empiris memperlihatkan performa akselerasi diversifikasi ke pasar Global South dan BRICS+. Laporan Kementerian Perdagangan menunjukkan kinerja perdagangan non-migas Indonesia dengan Brasil mencatatkan pertumbuhan ekspor sebesar 19,40 persen dan peningkatan impor sebesar 26,59 persen, dengan nilai total transaksi bilateral menembus 3,53 miliar dolar AS. Di kawasan Amerika Selatan, pemanfaatan instrumen Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA) berhasil mengerek volume perdagangan bilateral hingga 535,50 juta dolar AS. Sementara di benua Afrika, perdagangan dengan Afrika Selatan dan Aljazair menyokong diversifikasi pasokan komoditas vital nasional mulai dari gula dan bahan baku pangan hingga bahan bakar mineral sehingga mampu menopang konsistensi surplus neraca perdagangan Indonesia yang telah mencatatkan rekor surplus selama lebih dari 70 bulan berturut-turut.
Di luar kalkulasi kuantitatif dan struktur perdagangan, tantangan utama dalam menjalin kemitraan yang terbentang jauh secara geografis ini terletak pada cara Indonesia membangun konektivitas diplomatik tanpa harus terseret dalam polarisasi ideologis. Di sinilah letak keunggulan komparatif diplomasi Indonesia yang berakar pada tradisi lisan (oral tradition). Keahlian bercerita (storytelling) yang diwarisi bangsa ini diposisikan sebagai instrumen soft power yang efektif untuk membangun narasi empati kolektif dan kemitraan egaliter. Melalui penyampaian narasi sejarah bersama sebagai sesama penerus Semangat Dasasila Bandung 1955, diplomasi Indonesia mampu merangkul negara-negara di Afrika, Amerika Latin, maupun anggota BRICS+ tanpa nada mendikte.
Baca juga : Prabowo Tukar Posisi Jenderal: Maruli Jadi Wakil Panglima TNI, Tandyo KSAD
Kemampuan bercerita yang luwes ini mengejawantahkan kembali marwah politik luar negeri Bebas-Aktif secara kontekstual. Indonesia terbukti mampu menjalin persahabatan yang erat dengan mitra mana pun di kawasan Global South tanpa harus bersikap memihak atau terikat pada sekutu militer tertentu. Kombinasi antara kalkulasi de-risking yang rasional, diversifikasi pasar yang berbasis data empiris, serta keahlian diplomasi bercerita yang seperti kisah sukses Deklarasi Djuanda 1957 menjadikan kebijakan luar negeri Indonesia adaptif guna menjangkau tidak hanya sesama Asia namun juga Afrika dan Amerika Latin sembari menghadapi kemunduran imperium AS stagnasi Uni Eropa.
Daftar Referensi
BPS-Statistics Indonesia. (2026). Indikator Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. (2026). Laporan Update Makroekonomi dan Kinerja Perdagangan Edisi 2026. Jakarta: BKPerdag Kemendag RI.
Oegroseno, A. H. (2026). Arsitektur Geopolitik dan Ketahanan Nasional. Dalam Siniar Yahya x Yahya.
Zakaria, F. (2024). Age of Revolutions: Progress and Backlash from 1600 to the Present. New York: W. W. Norton & Company.
Profil Penulis
Adri Arlan Sinaga adalah Mahasiswa Doktoral (S3) Hubungan Internasional di University of International Business and Economics (UIBE), Beijing. Fokus kajiannya mencakup kebijakan luar negeri, keamanan global, serta dinamika geopolitik ASEAN dan BRICS. Kontak email: [email protected].
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya