Dark/Light Mode
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Rasa takut yang sangat mendalam terhadap gerakan kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam dapat menyebabkan seseorang mengalami paranoia. Aktivitas kelompok radikal Muslim di berbagai negara selama satu dasawarsa terakhir terbukti telah menimbulkan ketakutan yang mendalam di banyak tempat.
Ketakutan ini tidak hanya dirasakan oleh kalangan non-Muslim, tetapi juga oleh umat Islam sendiri. Hal ini disebabkan oleh maraknya tayangan kekerasan, bahkan kekejaman, yang dapat disaksikan secara langsung melalui media sosial. ISIS, misalnya, banyak mengunggah video yang memperlihatkan aksi penyembelihan dan penyerangan terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai musuhnya.
Kekecewaan lainnya muncul akibat sikap superioritas yang sengaja ditunjukkan oleh sekelompok Muslim terhadap penganut agama lain. Sikap tersebut seolah-olah menafikan keberadaan kelompok minoritas non-Muslim. Sebagai contoh, mereka melecehkan benda-benda dan atribut keagamaan yang dianggap suci oleh pemeluk agama lain, seperti menginjak-injak atau membakar kitab suci, merusak salib yang disucikan oleh umat Kristen, serta menghancurkan rumah-rumah ibadah agama lain.
Baca juga : Ujaran Kebencian & Deradikalisasi Progresif
Meskipun kelompok minoritas tersebut tidak menunjukkan reaksi secara fisik, bukan berarti mereka tidak merasakan dampak emosional dari tindakan tersebut. Sebagai manusia biasa, mereka tentu dapat menyimpan kekecewaan, kemarahan, bahkan dendam.
Sebaliknya, kebencian juga dapat ditunjukkan oleh kelompok mayoritas non-Muslim terhadap umat Islam. Kebencian tersebut dapat diwujudkan melalui serangan fisik, karikatur yang menghina, serta penyimpangan metodologis dalam survei atau penelitian yang pada akhirnya menghasilkan kesimpulan yang merugikan umat Islam. Bentuk lainnya adalah karikatur yang menggambarkan Nabi Muhammad SAW dengan wajah yang diasosiasikan dengan kekejaman, sebagaimana pernah terjadi di Paris beberapa waktu lalu. Tindakan semacam itu dapat dikategorikan sebagai religious hate speech (RHS) atau ujaran kebencian berbasis agama.
Gerakan Islamofobia kini semakin meluas di berbagai belahan dunia. Tidak lama setelah peristiwa 11 September 2001 (9/11) di Amerika Serikat, penulis bersama keluarga mengikuti program Visiting Scholars yang disponsori oleh Fulbright. Kami ditempatkan di Georgetown University, Washington DC.
Baca juga : Pelecehan Atribut Agama
Pada awalnya, kami mencari tempat tinggal di Washington DC. Namun, kami tidak bertahan lama di kota tersebut karena mengalami trauma setelah beberapa kali menyaksikan insiden kontak senjata antara tetangga kami dan petugas kepolisian. Akhirnya, kami memutuskan untuk pindah ke Maryland.
Rumah kami di Maryland bertetangga persis dengan sebuah gereja besar yang bernama Crossider. Nama tersebut mengingatkan kami pada kelompok yang pernah berhadapan langsung dengan pasukan Islam dalam Perang Salib di Eropa.
Mobil para tamu yang berkunjung ke rumah kami kerap diderek ke kantor polisi hanya karena diparkir di jalan di depan gereja tersebut. Kami pun sering mendapat teguran ketika mengadakan kegiatan di rumah. Maklum, setiap hari Sabtu, kami menyelenggarakan pengajian rutin bagi jemaah asal Indonesia. Situasi tersebut membuat kami sekeluarga kerap diliputi rasa takut.
Baca juga : Ekspose Kasus Ujaran Kebencian
Sebuah survei yang pernah dilakukan oleh Gallup Foundation bekerja sama dengan Center for Muslim-Christian Understanding (CMCU) di Georgetown University menemukan bahwa lebih dari 40 persen warga Amerika Serikat tidak merasa nyaman bertetangga dengan komunitas Muslim.
Survei tersebut juga menunjukkan adanya kecenderungan penolakan terhadap kemungkinan tinggal di apartemen yang sama dengan warga Muslim. Hal ini mengindikasikan adanya rasa takut yang bercampur dengan sikap antipati terhadap komunitas Muslim. Meskipun demikian, masih ada pula sebagian masyarakat yang menunjukkan rasa hormat, bahkan tampil membela martabat dan kemanusiaan umat Islam melalui berbagai penilaian yang positif. ***
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Selasa, 20 Oktober 2026 dengan judul "Ujaran Kebencian & Islamofobia "
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.