Dark/Light Mode

Memperkuat Ideologi Pancasila Melalui Peran Paguyuban, Ormas, Tokoh Masyarakat, Dan Tokoh Agama

Senin, 26 Oktober 2026 07:30 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia lahir sebagai bangsa yang dibangun di atas kemajemukan. Keberagaman suku, agama, ras, budaya, bahasa, dan golongan merupakan kekayaan nasional yang membentuk identitas dan kepribadian bangsa. Dalam perjalanan sejarahnya, keberagaman tersebut dipersatukan melalui Pancasila sebagai dasar filsafat negara sekaligus pandangan hidup bangsa.

Pancasila bukan sekadar rumusan ideologi yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, melainkan konsensus fundamental yang menyatukan berbagai identitas dan aspirasi masyarakat dalam satu ikatan kebangsaan. Semangat persatuan ini juga tercermin dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, ketika para pemuda berkomitmen untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Pancasila berfungsi sebagai pedoman untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan. Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila mengajarkan pentingnya toleransi, penghormatan terhadap martabat manusia, persatuan nasional, musyawarah, dan keadilan sosial. Oleh karena itu, penguatan ideologi Pancasila tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial atau penyampaian materi secara formal, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata di tengah masyarakat.

Kota Batam memiliki posisi strategis dalam upaya tersebut. Sebagai kawasan kepulauan yang berbatasan dengan negara tetangga dan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi serta interaksi internasional, Batam merupakan tempat bertemunya masyarakat dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya, agama, dan tradisi yang beragam. Kondisi ini menjadi kekuatan sekaligus tantangan dalam menjaga persatuan nasional. Keterbukaan terhadap perkembangan global harus diimbangi dengan penguatan karakter kebangsaan agar masyarakat mampu mempertahankan identitas nasional tanpa kehilangan sikap terbuka terhadap perbedaan.

Perkembangan globalisasi dan teknologi komunikasi telah mengubah pola interaksi masyarakat. Informasi dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial, tetapi tidak semuanya mengandung kebenaran atau mendorong kehidupan yang harmonis. Disinformasi, ujaran kebencian, intoleransi, radikalisme, dan polarisasi dapat memengaruhi cara masyarakat memandang kelompok lain.

Baca juga : Pancasila Dan Menyongsong Sumpah Pemuda Memperkokoh NKRI Untuk Indonesia Raya

Selain itu, primordialisme yang berlebihan dapat mendorong seseorang lebih mengutamakan identitas kelompok daripada kepentingan bersama. Kecintaan terhadap suku, agama, budaya, dan daerah tentu merupakan hal yang wajar, tetapi tidak boleh berkembang menjadi sikap eksklusif yang merendahkan atau mendiskriminasi kelompok lain.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, paguyuban, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama memiliki peran penting sebagai kekuatan sosial yang dekat dengan kehidupan warga. Paguyuban dapat menjadi sarana untuk melestarikan budaya dan memperkuat solidaritas tanpa membangun sekat antarkelompok.

Organisasi kemasyarakatan dapat mendorong partisipasi warga dalam pembangunan, pendidikan kewarganegaraan, dan kegiatan sosial. Tokoh masyarakat memiliki pengaruh dalam membentuk sikap serta perilaku warga, sedangkan tokoh agama dapat menanamkan nilai moral, kemanusiaan, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama.

Apabila keempat unsur tersebut bekerja sama, mereka dapat menjadi jembatan yang menghubungkan identitas kelompok dengan kepentingan nasional. Penguatan ideologi Pancasila harus diwujudkan melalui penerapan nilai-nilai kelima sila dalam kehidupan sehari-hari.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan penghormatan terhadap kebebasan beragama dan pentingnya membangun kehidupan yang saling menghargai. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati tanpa membedakan latar belakangnya. Sila Persatuan Indonesia mengingatkan bahwa kepentingan bangsa harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi atau golongan. Sila Kerakyatan mengajarkan penyelesaian perbedaan melalui dialog dan musyawarah, sedangkan sila Keadilan Sosial menegaskan pentingnya memperjuangkan kesejahteraan dan kesempatan yang adil bagi seluruh masyarakat.

Baca juga : Perspektif Pemikiran Prof. Dr. (H.C.) Megawati Soekarnoputri Dalam Pembumian Pancasila Di Panggung Dunia

Bagi masyarakat Batam, penerapan nilai-nilai tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan lintas budaya, dialog antarumat beragama, gotong royong, kegiatan kemanusiaan, dan pendidikan kebangsaan yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat. Pertemuan dan kerja sama secara langsung dapat mengurangi prasangka, membangun kepercayaan, serta memperkuat kesadaran bahwa setiap warga memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga persatuan Indonesia.

Dengan demikian, Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya menjadi semboyan negara, tetapi menjadi prinsip yang benar-benar hidup dalam hubungan sosial masyarakat. Agar penguatan ideologi Pancasila berjalan secara berkelanjutan, diperlukan langkah nyata yang melibatkan pemerintah daerah dan seluruh komponen masyarakat. Pemerintah Kota Batam bersama paguyuban dan organisasi kemasyarakatan perlu memperkuat forum komunikasi lintas kelompok sebagai ruang dialog, koordinasi, dan penyelesaian persoalan sosial melalui musyawarah.

Pendidikan Pancasila juga perlu dilaksanakan secara berkelanjutan melalui diskusi kebangsaan, pelatihan kepemimpinan, dan kegiatan sosial yang menekankan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata. Di samping itu, gerakan literasi digital perlu diperkuat agar masyarakat mampu mengenali disinformasi, menolak ujaran kebencian, dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.

Kolaborasi lintas budaya dan lintas agama juga perlu dikembangkan melalui kegiatan kemanusiaan, pelestarian budaya, serta gotong royong yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang. Setiap paguyuban dan organisasi kemasyarakatan dapat menyiapkan kader penggerak Pancasila yang menjadi teladan dalam menjaga kerukunan dan menyebarkan pesan persatuan.

Nilai-nilai kebangsaan perlu dimasukkan ke dalam program kerja organisasi agar tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan juga perlu melakukan evaluasi berkala dengan melihat partisipasi masyarakat, keberlanjutan kerja sama lintas kelompok, pelaksanaan kegiatan bersama, serta kemampuan masyarakat mencegah dan menyelesaikan konflik secara damai.

Baca juga : Eksistensi Kampung Pancasila Dalam Menjaga Ideologi Pancasila Dan Memperkuat Ketahanan Nasional

Penguatan ideologi Pancasila merupakan tanggung jawab bersama antara negara dan masyarakat. Paguyuban, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama harus menjadi pelopor dalam menanamkan nilai persatuan, toleransi, gotong royong, dan keadilan sosial. Keberagaman Indonesia bukan persoalan yang harus diseragamkan, melainkan kekayaan yang harus dirawat dan dipersatukan melalui kesadaran kebangsaan. Kota Batam diharapkan mampu menjadi contoh masyarakat majemuk yang terbuka terhadap perkembangan global, menghargai kekayaan budaya, dan tetap teguh pada Pancasila sebagai dasar negara.

Indonesia yang kuat bukanlah Indonesia yang menghilangkan perbedaan, melainkan Indonesia yang mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk menjaga persatuan, kedaulatan, dan keadilan sosial.

Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati Geopolitik dan Geostrategi, DIREKTUR JENDERAL SOSPOL DEPDAGRI (1998-2001), dan GUBERNUR LEMHANNAS RI (2001-2005).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.