Dark/Light Mode

Cable Car Masih Jadi Wacana, Perlukah Dimiliki Kota Bandung? Ini Kata Pakar

Selasa, 19 November 2024 22:15 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Proyek cable car atau kereta gantung yang digulirkan Ridwan Kamil saat masih menjadi Wali Kota Bandung pada tahun 2015 sebagai solusi mengurai kemacetan hingga kini masih menjadi salah satu proyek yang mangkrak, belum terealisasi.

Satu unit cable car yang menjadi model cable car tersebut, terparkir di lingkungan Pemerintah Kota Bandung dan menjadi rangka yang tidak terawat.

Padahal, pada masa rencana tersebut digulirkan menjadi salah satu proyek yang mendapatkan restu dari Jokowi dan menjadi rencana pembangunan transportasi massal di cekungan Bandung.

Proyek cable car yang juga sudah mengantongi izin dari Jokowi itu rencananya akan dibangun melalui beberapa tahap.

Tahap satu diharapkan dapat diselesaikan selama masa kepemimpinan Jokowi sebagai Presiden.

Kemudian, tahap berikutnya pembangunan cable car dilanjutkan setelah Pemilu 2024.

Baca juga : Cabup Farrel Adhitama Janji Jadikan Halmahera Timur Lumbung Pangan

Dibangun sebanyak 60 kabin dengan kapasitas 2.400 setiap jam, proyek itu diperkirakan akan menghabiskan anggaran hingga Rp 138 miliar. Sayangnya, lagi-lagi proyek itu belum terealisasi hingga saat ini berakhirnya era Jokowi.

Proyek itu pun dipertanyakan Pakar Kebijakan Publik Universitas Padjajaran (Unpad) Yogi Suprayogi.

“Kalau untuk cable car menurut saya, apakah perlu? Sepertinya konsepnya lebih ke wisata terlebih kalau memang kota Bandung ini dikenal sebagai salah satu Kota wisata. Urgenitasnya kalau dari angka 1 sampai 10 mungkin ada di angka 2,” beber Yogi.

Yogi menegaskan, dalam membangun alat transportasi harus jelas terlebih dahulu apakah dibangun untuk transportasi publik, wisata atau pengangkutan barang. Dia menilai, cable car tidak terlalu urgent.

“Dalam menggulirkan sebuah pembangunan, balik lagi, semua harus metang mulai dari perencanaannya, terlebih tidak mudah untuk merealisasikan yang akan berdampak jangka panjang bagi masyarakat,” imbuhnya.

Kalau hanya membangun, tambah Yogi, mungkin mudah, tapi dia mengingatkan harus terintegrasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk warga yang akan merasakan dampaknya.

Baca juga : Arfi-Yena Janjikan Peremajaan Kawasan Kota Bandung Tanpa Penggusuran

“Analisisnya pasti panjang, mulai dari rencana, administrasinya, lahannya, dan termasuk pembangunannya. Hingga akhirnya semua sudah terintegrated dan matang, barulah digulirkan dan di eksekusi. Jangan sampai hanya membangun saja,” tandas Yogi.

Pakar lainnya pun ikut bersuara terkait proyek cable car yang dinilai tidak efektif yaitu pakar transportasi ITB, Sony Sulaksono.

Menurutnya, cable car atau kereta gantung kurang layak untuk kawasan Bandung.

Menurutnya, pertama, kereta gantung itu sebenarnya konstruksinya harus lurus, dan setiap belokan harus ada tiang khusus, satu motor untuk menari, dan satu lagi motor untuk mendorong.

“Sehingga dia berbelok. Kalau kereta gantung itu mengikuti jalan di Kota bandung, maka terlalu banyak belokan. Jadi, tidak efektif," ujar Sony.

Sony juga mengatakan, kereta gantung itu memang diperuntukkan di kawasan pegunungan. Namun, kawasan yang memiliki sifat lurus, berbeda dengan Bandung Raya.

Baca juga : Sultan Bahas Kerja Sama Pertahanan Dan Pangan Bareng Senator Rusia

"Beda dengan LRT metro capsul, misalnya monorail bisa berbelok mengikuti bentuk jalan kalau di bangun di atas jalan," tambahnya lagi.

Terlebih lagi, biayanya tak jauh berbeda dengan kereta gantung.

"Jadi, menurut saya kereta gantung terlalu memaksakan kalau kita membangun untuk kawasan Bandung," tegas Sony.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.