Dark/Light Mode

Bukan Lagi Kota Termacet, Pramono Anung: Jakarta Kini Nomor 5, Bandung Nomor 1

Kamis, 10 Juli 2025 16:19 WIB
Foto: Fatimah Az Zahra/RM.
Foto: Fatimah Az Zahra/RM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan, Jakarta tidak lagi menjadi kota paling macet di Indonesia.

Hal ini disampaikan Pramono dalam acara Rapat Koordinasi Pemberantasan Korupsi yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama para gubernur se-Indonesia, Kamis (10/7/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Pramono mengakatakan penurunan tingkat kemacetan di Ibu Kota berdasarkan survei dari TomTom Traffic Index, perusahaan teknologi navigasi asal Belanda.

Dia menyebut, Jakarta kini menempati posisi ke-5 kota termacet di Indonesia. Bukan lagi berada di peringkat pertama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga : Di Forum BRICS 2025, Prabowo Gaungkan Kembali Bandung Spirit

"Hasilnya ketika TomTom (lembaga internasional) mensurvei, Jakarta yang biasanya ranking satu di Indonesia dan selalu kota termacet sepuluh besar di dunia, sekarang nomor satunya Bandung,” ungkap Pramono.

Pramono menjelaskan, klaim tersebut merujuk pada laporan TomTom Traffic Index yang menampilkan kondisi lalu lintas sepanjang tahun 2024.

“Ini baru kurang lebih dua bulanan lah kami lakukan,” kata Pramono.

"Maka saya mikirnya begini Pak Tanak, ini jangan-jangan surveinya pada pas hari Rabu," tambahnya.

Baca juga : Tak Lagi Kota Termacet, Fahira Paparkan 5 Strategi Agar Peringkat Jakarta Terus Membaik

Pramono mengklaim, salah satu penyebab utama membaiknya lalu lintas di Jakarta adalah pengoperasian beberapa rute baru Transjabodetabek, yang dia resmikan sejak menjabat.

Enam rute baru ini adalah Alam Sutera-Blok M, PIK2-Blok M, Bogor-Blok M, Sawangan-Lebak Bulus, Vida Bekasi-Cawang, dan Bekasi-Dukuh Atas.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga menerapkan tarif terjangkau untuk mendorong masyarakat berpindah dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.

Hal ini dilakukan untuk mengubah kebiasaan masyarakat yang selama ini cenderung bergantung pada mobil atau motor pribadi.

Baca juga : Lagi, Pemain Asing Persib Bandung Pamit

“Orang membayar pagi hari sebelum jam 7 hanya Rp 2.000, setelah jam 7 Rp 3.500. Kenapa Jakarta memaksakan ini? Untuk mengubah karakter orang dari kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi menjadi mau naik transportasi umum,” jelas Pramono.

Transportasi umum yang kini semakin terintegrasi dari berbagai wilayah penyangga seperti Bogor, Bekasi, Depok, hingga PIK2 dan Alam Sutera dinilai efektif membantu mengurai kemacetan Jakarta.

Akses langsung ke pusat kota seperti Blok M, Cawang, Lebak Bulus, dan Dukuh Atas menjadi kunci.

Meski menggunakan data TomTom untuk memperkuat narasi keberhasilan, Pramono juga menyadari bahwa data yang dirujuk berasal dari kondisi lalu lintas tahun 2024.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.