Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kunjungi Museum MH Thamrin, Bamus Betawi Ajak Warga Rawat Cagar Budaya
Selasa, 27 Oktober 2026 08:55 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menjelang lima abad Jakarta pada 2027, Badan Musyawarah (Bamus) Betawi mengajak masyarakat merawat cagar budaya agar sejarah perjuangan dan identitas Ibu Kota tidak tergerus zaman.
Ajakan itu disampaikan Ketua Umum Bamus Betawi H. Riano P. Ahmad saat mengunjungi Museum MH Thamrin bersama sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Betawi di Jakarta Pusat, Sabtu (24/10/2026).
Kunjungan tersebut menjadi momentum memperkuat persatuan sekaligus menggali kembali nilai perjuangan Mohammad Husni (MH) Thamrin, tokoh Betawi yang berperan penting dalam pergerakan nasional.
Sekretaris Jenderal Bamus Betawi Anas Ma’ruf mengatakan, museum tersebut menyimpan jejak pemikiran dan perjuangan MH Thamrin yang tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Betawi, tetapi juga bagian penting dari sejarah bangsa Indonesia.
“Melalui rangkaian kegiatan ini, kita ingin memperkuat literasi terhadap sejarah. Kita berharap melalui kunjungan ke Museum MH Thamrin ini, kita dapat menggali pemikiran beliau yang bisa diaktualisasikan. Bamus juga ingin menghidupkan kembali museum ini sebagai saksi sejarah hidup kita,” ujar Anas.
Menurut dia, semangat MH Thamrin dalam memperjuangkan keadilan perlu diwariskan kepada generasi muda. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi inspirasi untuk memperkokoh persatuan, memperkuat identitas masyarakat Betawi, serta meningkatkan kesejahteraan warga.
Baca juga : Prancis-Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya Di Cikini
Dalam diskusi yang digelar pada kesempatan itu, narasumber Hj. Aida Makbullah menekankan pentingnya meneladani sikap inklusif MH Thamrin. Keterbukaan dan kemampuannya merangkul berbagai kelompok dinilai relevan untuk menjaga kebersamaan di tengah keberagaman Jakarta.
“Kita membutuhkan sikap yang inklusif sebagaimana yang dilakukan oleh MH Thamrin dalam perjuangannya. Kita berharap Bamus Betawi menjadi penerus perjuangan MH Thamrin dengan penuh semangat persatuan dan kesatuan,” kata Aida.
Narasumber lainnya, H. Rendra Yuniardi mengatakan, pemikiran MH Thamrin turut memberi kontribusi bagi perjuangan kemerdekaan dan perkembangan Jakarta. Gagasan serta pembangunan infrastruktur pada masa itu, termasuk kanal besar di Manggarai, menjadi bagian dari sejarah yang perlu dipelajari generasi penerus.
“Gagasan beliau menjadi dasar pembangunan Jakarta, bahkan pemikiran beliau bisa menjangkau jauh ke depan. Sangat relevan dan menjadi sumber inspirasi bagi pembangunan saat ini sehingga kita perlu meneruskan api semangat beliau,” ujarnya.
Perwakilan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Fairza, mengapresiasi kunjungan Bamus Betawi bersama sejumlah ormas tersebut. Dia berharap museum dan situs cagar budaya lainnya terus dikembangkan sebagai destinasi kebudayaan sekaligus sarana edukasi sejarah bagi masyarakat.
Fairza mengatakan, pemerintah akan terus berupaya menjaga dan merawat Museum MH Thamrin serta bangunan bersejarah lainnya. Namun, pelestarian cagar budaya membutuhkan dukungan dan partisipasi aktif masyarakat.
Baca juga : Resmikan Revitalisasi Stasiun Tawang, Prabowo: Jaga Identitas dan Sejarah Bangsa
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bamus Betawi yang telah mengunjungi Museum MH Thamrin sebagai tempat bersejarah dan menjadi cagar budaya yang dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta,” katanya.
Saksi Pergerakan Nasional
Museum MH Thamrin merupakan bangunan cagar budaya di Jakarta Pusat yang ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Nomor 475 Tahun 1993 dengan nama Gedung MH Thamrin.
Bangunan bergaya Indis yang didirikan pada awal abad ke-20 itu awalnya dimiliki warga Belanda bernama Meneer de Haas. Pada 1927, MH Thamrin membeli gedung tersebut untuk digunakan sebagai tempat pertemuan, kegiatan organisasi, dan pendidikan masyarakat.
Gedung itu kemudian menjadi saksi berbagai peristiwa penting pergerakan nasional, mulai dari pertemuan Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI), Partai Indonesia Raya (Parindra), Pemuda Kaum Betawi, hingga kongres Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin Ir. Soekarno.
Karena menjadi tempat berkumpul dan bermufakat, gedung tersebut dikenal sebagai gedung permufakatan. Setelah ditetapkan sebagai gedung bersejarah pada 1972, bangunan itu diresmikan sebagai Museum MH Thamrin oleh Gubernur DKI Jakarta R. Soeprapto pada 11 Januari 1986.
Baca juga : Kementerian Kebudayaan Tetapkan 85 Cagar Budaya Peringkat Nasional Tahun 2025
Museum ini menyajikan informasi mengenai kehidupan, pemikiran, dan kiprah MH Thamrin dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selain menyimpan nilai sejarah, bangunan tersebut merepresentasikan arsitektur Indis yang memadukan unsur kolonial dan lokal.
Fungsinya sebagai ruang pertemuan juga mencerminkan nilai musyawarah, demokrasi, dan kebersamaan. Bamus Betawi berharap kunjungan tersebut dapat mendorong masyarakat lebih mengenal sejarah perjuangan MH Thamrin sekaligus terlibat aktif menjaga warisan budaya.
Pelestarian cagar budaya dinilai bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga membutuhkan kepedulian masyarakat agar tetap terjaga di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya