Dark/Light Mode

Lapor Mas Wapres Dibuka, 60 Warga Ngadu Soal Ijazah Hingga Penggelapan Tanah

Senin, 11 November 2024 16:05 WIB
Seorang warga mengadu di layanan Lapor Mas Wapres di Istana Wapres, Jakarta, Senin (11/11/2024). (Foto: RM.ID/BCG)
Seorang warga mengadu di layanan Lapor Mas Wapres di Istana Wapres, Jakarta, Senin (11/11/2024). (Foto: RM.ID/BCG)

RM.id  Rakyat Merdeka - Layanan pengaduan "Lapor Mas Wapres" yang digagas Wapres Gibran Rakabuming Raka disambut antusias oleh masyarakat. Di hari pertama pembukaannya, Senin (11/11/2204), sekitar 60-an warga mendatangi Istana Wakil Presiden untuk menyampaikan berbagai laporan. Mereka datang dari berbagai daerah. Laporannya pun beragam mulai dari kasus penggelapan tanah, hingga persoalan ijazah. Ada juga warga yang datang dengan laporan yang unik dan tak terduga. 

Layanan Lapor Mas Wapres, yang diumumkan Gibran pada Minggu (10/11/2024) lalu rupanya sudah ditunggu-tunggu. Sebagain dari pelapor sudah datang ke Istana Wapres di Jalan Kebon Sirih, Jakarta, sejak pukul 7 pagi. Berharap mendapat giliran lebih awal.  

Petugas dan staf Istana Wapres tampak sigap menyambut para pelapor. Mereka mengarahkan warga ke tenda yang telah disiapkan sebagai ruang tunggu. 

Di dalam tenda itu, disediakan kursi yang berjejer rapi di kedua sisi. Tendanya tak terlalu besar. Sekira 2,5 x 3 meter. Tapi cukup untuk melindungi dari sengatan matahari dan guyuran hujan.

Baca juga : Serap Aspirasi Warga Jaktim, Waketum Komisi A Terima Keluhan Fasum Hingga Lapangan Kerja

Sebelum menyampaikan laporan, setiap warga diminta mengambil nomor antrean di sebuah mesin. Petugas kemudian melakukan verifikasi data kependudukan. 

Setelah itu, para pelapor diarahkan ke ruang berikutnya. Ruangan ini, cukup luas. Total ada sepuluh meja layanan. Setiap meja, ditangani dua petugas. Para petugas pun tampil rapi dengan kemeja putih dibalut rompi biru muda. Para petugas mendengarkan lalu mencatat setiap laporan. 

Rata-rata, setiap pengaduan memerlukan waktu antara 20 hingga 30 menit untuk diproses. Terakhir, warga diberikan nomor registrasi laporan. Nomor ini digunakan untuk mengecek progres laporan. 

Setelah istirahat siang, sudah ada 60 warga yang membuat aduan. Mereka datang dari berbagai daerah. Ada yang dari Medan, Jakarta, Bekasi, dan lainnya. Salah satunya adalah Maju Situmorang, warga Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Ia menempuh perjalanan jauh untuk bisa sampai ke Jakarta pada pagi hari. "Lihat, saya masih bawa tas saya," ujarnya sambil menunjukkan barang bawaannya. Maju sengaja datang ke Jakarta untuk melaporkan kasus sengketa sewa menyewa tanah dengan sebuah instansi.  

Baca juga : Robinsar-Fajar Janji Benahi Pelayanan Di Cilegon

Selain Maju, ada juga Herlambang Pangabean, yang datan bersama anaknya, Kevin Hernando. Herlambang datang dari Kota Medan datang untuk melaporkan kasus penggelapan tanah yang telah berlangsung sejak tahun 2017.

"Sampai sekarang belum juga menemukan titik penyelesaian," ucapnya. Ia berharap setelah lapor ke Wapres, ada tindak lanjut dari kasusnya. 

Ada juga Latifa dari Cempaka Putih. Ia mengadukan masalah mengenai ijazah anaknya yang masih ditahan pihak sekolah. Ia juga datang untuk mengadu soal persoalan ekonomi keluarganya.  "Suami saya sudah tidak bisa bekerja karena sakit stroke," ungkapnya.

Selian itu, ada juga Cahaya Hastina. Perempuan asal Kranji, Bekasi ini datang ke lokasi dengan mengenakan baju panjang bermotif warna ungu tua dan penutup kepala berwarna merah muda. 

Baca juga : Menhan & Wamenhan Digembleng 4 Hari di Lembah Tidar Untuk Penguatan Pertahanan

Cahaya mengaku datang untuk membuat laporan penting. "Mas Wapres harus didengarkan saya kalau Indonesia mau makmur," ujarnya, dengan mimik serius. 

Cahaya mengaku ikut menangani wabah Corona pada 2021. Selama masa pandemi itu, ia mengaku bermunajat kepada Tuhan. Dan akhirnya, berkat munajatnya itu wabah selesai. Nah, lanjut dia, baru-baru ini ia baru mendapat Wahyu Cakra langit dan bumi. Isi wahyu itu memerintahkannya untuk menyiapkan sapi merah dan putih. "Kedua sapi itu harus diupacarakan segera. Mas Wapres harus menyiapkan sapi tersebut. Kalau tidak, Indonesia tidak akan pernah makmur," ujarnya. 

Cahaya yang mendapat nomor antrean 48 menunggu sambil menceritakan kisahnya. Setelah istirahat siang, ia diterima petugas seperti yang lain. Usai laporan itu, Cahaya tersenyum lebar. Ia mengaku sudah mengadu kepada petugas soal wahyu yang diterimanya. 

Asisten Deputi Tata Kelola Pemerintahan Setwapres Pranggono Dwianto mengatakan, Lapor Mas Wapres ini diadakan untuk mempermudah layanan kepada masyarakat. "Wapres punya perhatian dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik. Dan Pak Wapres ingin memudahkan masyarakat menyampaikan aduannya. Dengan adanya tambahan kanal ini, semoga semakin memudahkan masyarakat untuk menyampaikan laporan," kata Pranggono. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.