Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
BPS Bilang Deflasi 0,48 Persen Bukan Karena Daya Beli Lemah, Tapi Ini Pemicunya
Senin, 3 Maret 2025 20:20 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan Indonesia mengalami deflasi 0,48 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Februari 2025, dengan deflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 0,09 persen.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan, fenomena deflasi ini bukan disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat.
Baca juga : SIM Keliling Tangsel Selasa 25 Februari, Cek Disini Lokasinya
“Biasanya daya beli itu dikaitkannya dengan komponen inti. Komponen inti ini memberikan andil inflasi terbesar dengan andil inflasi sebesar 1,58 persen,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/3/2025).
Ia menjelaskan, yang memberikan andil terhadap deflasi secara tahunan adalah harga yang diatur pemerintah, terutama karena adanya diskon listrik 50 persen yang masih berlangsung hingga Februari 2025. Selain itu, peningkatan produksi cabai merah dan cabai rawit juga turut menekan harga.
Baca juga : TBIG Siapkan Tenaga Kerja Terampil di Industri Telekomunikasi
Menurut catatan BPS, deflasi tahunan terakhir kali terjadi pada Maret 2000, saat itu sebesar 1,10 persen yang didominasi oleh kelompok bahan makanan. Namun, Amalia menegaskan bahwa deflasi tahun ini memiliki karakteristik yang berbeda.
“Deflasi 2025 ini mayoritas dipengaruhi oleh diskon listrik yang masuk kepada komponen harga diatur pemerintah,” jelasnya.
Baca juga : SIM Keliling Tangsel Selasa 18 Februari, Cek Disini Lokasinya
Meski terjadi deflasi, komponen harga bergejolak masih menunjukkan inflasi sebesar 0,56 persen secara tahunan. Beberapa komoditas seperti cabai rawit, bawang putih, kangkung, dan bawang merah masih mengalami kenaikan harga.
Sementara itu, deflasi secara beruntun pernah terjadi selama lima bulan berturut-turut pada 2024, yakni dari Mei hingga September. Fenomena ini kembali berulang dengan deflasi bulan ke bulan yang melanjutkan tren Januari 2025 yang mencatatkan penurunan IHK sebesar 0,76 persen.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya