Dark/Light Mode

Perkuat Ekosistem Riset, Ibas Dorong Pemberian Insentif Besar Ke Dosen Peneliti

Selasa, 4 Maret 2025 11:48 WIB
Diskusi Kebangsaan bertajuk “Dosen Sejahtera, Riset Bermakna, Pendidikan Berkualitas” yang diadakan di Gedung MPR RI, Senin (3/3/2025). (Foto: Ist)
Diskusi Kebangsaan bertajuk “Dosen Sejahtera, Riset Bermakna, Pendidikan Berkualitas” yang diadakan di Gedung MPR RI, Senin (3/3/2025). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menekankan pentingnya penguatan ekosistem riset di Indonesia.

Ia mengusulkan agar insentif yang lebih besar diberikan kepada dosen yang aktif dalam melakukan penelitian dan produktif dalam publikasi internasional. Selain itu, diperlukan juga harmonisasi regulasi antar kementerian. 

“Kita ingin pendidikan kita berkualitas, tidak hanya formalitas. Dan kita juga ingin dosen, dunia pendidikan kita diperhatikan kesejahteraannya, tidak hanya sekedar diperas tenaga dan pikirannya karena dengan gaji yang terbatas. Setiap ada peningkatan pendapatan itu sangat berdampak dengan kemampuan, kebahagiaan, dan kesejahteraan keluarganya. Begitu juga dengan para dosen, betul ya?,” kata Ibas yang disepakati oleh peserta.

“Kementerian Pendidikan Tinggi Sains Teknologi (Kemen Dikti Saintek) perlu melakukan harmonisasi regulasi dengan kementerian Agama dan Kementerian Keuangan agar alokasi anggaran tunjangan kinerja dosen dapat lebih transparan, tepat sasaran dan berkelanjutan,” kata Ibas dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk “Dosen Sejahtera, Riset Bermakna, Pendidikan Berkualitas” yang diadakan di Gedung MPR RI, Senin (3/3/2025).

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI ini kemudian menekankan pentingnya penguatan ekosistem riset di Indonesia. Ia mengusulkan agar insentif yang lebih besar diberikan kepada dosen yang aktif dalam melakukan penelitian dan produktif dalam publikasi internasional dengan skala Scopus Q1 dan Sinta 1.

Baca juga : Pemerintah Undang IBM Investasi Di Indonesia

“Hasil penelitian dan riset yang dihasilkan dikerjasamakan dengan semua lembaga dan sektor riil, agar tidak hanya sekadar ilmu riset, tetapi menjadi ilmu terapan yang bermanfaat,” imbuhnya.

Ibas juga memberi contoh beberapa bidang riset yang krusial bagi kemajuan bangsa. Dalam rumpun sains dan teknologi misalnya, beberapa riset dalam ilmu kesehatan, seperti penelitian vaksin COVID-19, malaria, dan terapi kanker. Penelitian di bidang Teknologi tentang kecerdasan buatan (AI), pembelajaran mesin (machine learning), kendaraan otonom, serta penelitian 5G dan Internet of Things di bidang teknologi.

Ada pula dalam disiplin ilmu pertanian, seperti terkait tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan iklim (kekeringan) padi tahan salinitas jagung tahan panas, pertanian presisi, serta penerapan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan pengurangan penggunaan pestisida dan pupuk. 

Sementara dalam bidang energi, dapat pula meneliti energi terbarukan dan teknologinya, seperti PLT angin, PLT air, PLT panas, dan PLT sampah. Selain itu, termasuk juga riset dalam bidang lingkungan, seperti penelitian perubahan iklim, energi baru terbarukan, keanekaragaman hayati (penurunan populasi lebah), hingga teknologi penangkapan karbon.

Sementara pada bidang sosial dan humaniora, misalnya riset dalam disiplin ilmu ekonomi, bisa melakukan penelitian mengenai ketimpangan ekonomi, fintech, inklusi keuangan, serta dampak suku bunga terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Dalam bidang bidang pendidikan, penelitian bisa berupa model pendidikan berbasis teknologi (e-learning) dan berbasis game.

Baca juga : Legislator NasDem Dorong Pemakaian Pupuk Berimbang Agar Petani Lebih Untung

Sedangkan pada bidang sosial, dapat meneliti pendidikan inklusif dan pengaruhnya terhadap kemiskinan, serta perilaku manusia dan/atau pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental.

Ibas menegaskan bahwa penelitian berkualitas harus memiliki metodologi yang tepat, inovasi, relevansi sosial dan ilmiah, publikasi jurnal terakreditasi, serta reporduksibilitas. Menurutnya, riset yang baik harus bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat dan sesuai dengan kebutuhan bangsa.

Laksmi Evasufi Widi, Dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sekaligus perwakilan dosen kalangan gen z pada diskusi ini menyampaikan beberapa aspirasi dari para dosen terkait dengan pengembangan riset bangsa.

"Kami mendorong pemerintah untuk menghidupkan kembali adanya hibah buku, sehingga hasil penelitian dosen dapat diterbitkan menjadi buku. Kedua, kami mendorong adanya skema pendanaan penelitian, yang tidak hanya untuk dosen yang menerima hibah penelitian kompetitif nasional saja.

Ketiga, kami mendorong pemerintah meninjau kembali persyaratan hibah penelitian kompetitif nasional yang mana menghilangkan atau menoleransi jabatan fungsional dan juga high index Scoups, harapannya agar dosen pemula dapat diberikan ruang yang cukup dalam mengembangkan karya risetnya," kata Laksmi.

Baca juga : Bamsoet Dorong Peningkatan Industri Restorasi Kendaraan Klasik

Di akhir, Ibas mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mendukung peningkatan kesejahteraan dosen dan penguatan riset. “Peningkatan kesejahteraan dosen bukanlah tanggung jawab tunggal pemerintah semata, melainkan sebuah upaya bersama yang butuh dukungan dan kerja sama dari seluruh stakeholders yang berkepentingan, di antaranya akademisi, sektor swasta, dan masyarakat,” jelas Ibas.

“Ketika politikus bekerja sama erat dengan akademisi, kebijakan yang dihasilkan sering kali lebih berbasis bukti, sementara politisi yang tidak dekat dengan akademisi cenderung menghasilkan kebijakan yang lebih populis atau pragmatis tanpa dasar ilmiah yang kuat,” pungkasnya.

Diskusi ini dihadiri oleh profesor dan dosen dari berbagai universitas di Indonesia. Beberapa di antaranya Prof. Dr. Ir. Aman Wiratakusumah, M.Sc., Ph.D., Mantan Rektor IPB; Julian Aldrin Pasha M.A. Ph.D., Ketua Senat Fakultas Akademik Unsur Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia; Prof. Dr. Delik Hudalah, S.T., M.T., M.Sc., Guru Besar PWK SAPPK ITB; Anggun Gunawan S.FiI., M.A, Wakil Ketua Aliansi Dosen ASN Kemdiktisaintek Seluruh Indonesia (ADAKSI). 

Hadir pula Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat dari Komisi X: Anita Jacob Gah, Bramantyo Suwondo, Sabam Sinaga, dan Sekretaris FPD Marwan Cik Asan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.