Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Beri Kuliah Umum di ITB, Wamenag: Indonesia Cerah di Pemerintahan Prabowo
Rabu, 16 April 2025 20:56 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar Studium Generale bertajuk "Mewujudkan Ketahanan Nasional: Sinergi Generasi Muda dalam Mendukung Visi Indonesia Emas 2045", di Aula Barat, Kampus Ganesha, Bandung, Rabu (16/4/2025). Kegiatan ini menghadirkan Wakil Menteri Agama (Wamendag), Romo R Muhammad Syafii. Kuliah umum inj diikuti ratusan mahasiswa secara luring dan daring melalui Zoom serta kanal YouTube ITB Official.
Sesaat setelah tiba di Aula Barat ITB, Romo Syafii sempat berkelakar dengan Rektor UGM Prof Tatacipta Dirgantara. "Cuaca cerah hari ini menyambut kita di Bandung. Mungkin ini pertanda bahwa masa depan Indonesia juga akan cerah," ujarnya, sambil tersenyum, yang disambut tawa hangat dari Prof Tatacipta dan pendamping.
Dalam pembukaan, Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi (WRKMAA) ITB, Andryanto Rikrik Kusmara, menekankan pentingnya forum seperti Studium Generale dalam memperluas wawasan kebangsaan mahasiswa.
Ia menyampaikan, sejak 1945, Indonesia telah memikul misi besar untuk menjadi negara maju dan makmur. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, dibutuhkan peran aktif seluruh elemen bangsa—termasuk kampus, mahasiswa, dan masyarakat luas. Ia juga menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Wamenag Romo Syafii.
"Merupakan suatu kehormatan bagi kami, ITB, dapat menghadirkan beliau di kampus ini. Kehadiran Romo menjadi inspirasi dan pemantik dialog kebangsaan yang sangat relevan bagi generasi muda," tutur Rikrik.
Baca juga : Halbil, Wapres: Layani Masyarakat & Dukung Pemerintahan Prabowo Secara Optimal
Data yang dirilis Labkurtannas Lemhannas menunjukkan, nilai ketahanan nasional Indonesia berada di angka 2,87, dalam kategori cukup tangguh. Dari delapan gatra utama (asta gatra), aspek sosial budaya mendapatkan nilai 2,55. Sedangkan demografi menempati posisi tertinggi dengan skor 3,20, mencerminkan kekuatan dari jumlah penduduk usia produktif/bonus demografi.
"Ketahanan sosial budaya adalah fondasi persatuan bangsa. Sebagai salah satu syarat memperkuat capaian ekonomi, politik, hingga pertahanan” tegas Romo Syafii.
Pertanyaan mahasiswa dalam sesi diskusi menyoroti mengapa ketahanan sosial budaya masih rendah, serta langkah konkret pemerintah ke depan. Romo Syafii menjawab, salah satu langkah strategis adalah pembentukan Kementerian Kebudayaan sebagai upaya awal untuk memperkuat jati diri bangsa, nilai-nilai luhur, dan memperluas program sosial kebudayaan.
"Ketahanan sosial budaya dibangun dari kesadaran akan siapa kita sebagai bangsa. Inilah mengapa Kementerian Kebudayaan menjadi pijakan awal untuk menjaga persatuan dan keberagaman," jelasnya.
Dalam kuliah umumnya, Romo Syafii menekankan pentingnya memperkuat ketahanan nasional melalui pemahaman sejarah, konstitusi, serta penguatan nilai-nilai Pancasila. "Generasi muda harus menjadi kekuatan pemersatu yang menjaga arah perjuangan bangsa demi keadilan, kemanusiaan, dan kemerdekaan sejati," tegasnya.
Baca juga : Prabowo: Indonesia Siap Berperan Aktif Selesaikan Konflik Gaza
Salah satu poin penting dalam paparannya adalah urgensi penerapan Ekonomi Pancasila sebagai dasar pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945. Menurutnya, ekonomi nasional tidak boleh hanya berpihak pada inovasi pasar, tetapi harus menjamin keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat.
"Ekonomi Pancasila mendorong inovasi dan kebebasan pasar, namun tetap menempatkan negara sebagai pelindung kelompok masyarakat paling rentan," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam pendekatan ini, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk hadir aktif, terutama melalui social safety net, yakni perlindungan sosial bagi kelompok lemah, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 34 UUD 1945. Negara wajib memelihara fakir miskin dan anak terlantar, serta mengembangkan sistem jaminan sosial yang inklusif.
Romo Syafii melanjutkan, program prioritas pemerintah seperti makan bergizi gratis dan sekolah rakyat merupakan contoh konkret implementasi prinsip tersebut.
“Konstitusi kita menegaskan bahwa negara bukan hanya pelindung, tapi juga menjadi 'orang tua' bagi mereka yang tidak memiliki daya. Artinya, negara tidak boleh netral terhadap ketimpangan. Negara harus hadir, memberi makan, pendidikan, dan perlindungan bagi mereka yang paling rentan,” jelas Romo Syafii.
Baca juga : Kementerian Hukum-KADIN Indonesia Perkuat Sinergi Hukum untuk Dunia Usaha
Program-program tersebut, lanjutnya, sejalan dengan cita-cita menuju negara kesejahteraan (welfare state) yang berkeadilan dan bermartabat. Visi Indonesia Emas 2045 hanya bisa terwujud jika pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat bersinergi membangun fondasi perubahan sejak dini, mulai dari periode Asta Cita 2025-2029.
"Ketahanan nasional tidak hanya soal militer atau keamanan, tapi juga soal ketahanan ekonomi, sosial, dan moral. Di sinilah generasi muda memegang peran strategis sebagai agent of change," tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya