Dark/Light Mode

Dinkes Gorontalo Laporkan 281 Kasus Campak, Mayoritas Belum Pernah Divaksin

Rabu, 27 Agustus 2025 10:24 WIB
Dinas Kesehatan Pemprov Gorontalo (Foto: Antara)
Dinas Kesehatan Pemprov Gorontalo (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo melaporkan total 281 kasus suspek campak di Kabupaten Pohuwato, sejak awal tahun hingga Agustus 2025. Mayoritas kasus terjadi pada kelompok usia 1–4 tahun yaitu 55 persen, disusul kelompok usia 5–9 tahun 27 persen, bayi di bawah 1 tahun 10 persen, serta kelompok usia di atas 10 tahun sekitar 8 persen. 

Terkait hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Anang S. Otoluwa mengatakan, lebih dari 60 persen penderita tidak pernah mendapat imunisasi campak. "Hanya enam persen yang tercatat sudah menerima imunisasi, satu kali atau lebih," ujarnya, seperti dilansir ANTARA, Rabu (27/8/2025).

Anang menjelaskan, sejumlah kasus campak di wilayahnya disertai komplikasi seperti pneumonia, diare, hingga infeksi paru-paru.

Baca juga : Pastikan Keselamatan Pasca-Gempa, KCIC Batalkan Sejumlah Perjalanan Whoosh

Meski sebagian pasien sempat dirawat di rumah sakit, sebagian besar kasus berhasil ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

"Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan cakupan imunisasi dasar lengkap dan surveilans penyakit menular, agar kasus serupa bisa dicegah di masa depan," ujar Anang.

Anang menegaskan, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo bersama jajaran kabupaten akan terus melakukan langkah-langkah promotif, preventif, serta memperluas cakupan imunisasi demi melindungi masyarakat dari ancaman campak yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB).

Baca juga : Indonesia Dorong Dialog Thailand-Kamboja, Prioritaskan Perlindungan WNI

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Jeane Istanti Dalie memastikan, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Pohuwato dan puskesmas untuk memperkuat penemuan kasus, melakukan investigasi epidemiologi, serta menindaklanjuti laporan kasus dengan cepat.

"Setiap laporan kasus langsung diverifikasi dan ditindaklanjuti oleh tim surveilans. Kami juga memastikan ketersediaan vaksin, serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran pentingnya imunisasi," papar Jeane.

"Penanganan tidak hanya fokus pada kuratif, tetapi juga pada upaya preventif untuk mencegah kejadian luar biasa," imbuhnya.

Baca juga : Kapolri Instruksikan Korps Lalu Lintas Polri Perkuat Digitalisasi

Dinas Kesehatan menilai, saat ini masih terdapat tantangan dalam penanganan kasus campak di Pohuwato. Antara lain, keterlambatan pelaporan mingguan (W1), belum optimalnya investigasi epidemiologi, serta belum dilaksanakannya penanggulangan KLB melalui Outbreak Response Immunization (ORI).

Meski demikian, peluang pengendalian tetap terbuka, mengingat tenaga surveilans dan petugas imunisasi di Pohuwato telah mendapatkan pelatihan khusus dalam penanggulangan KLB campak.

Selain itu, ketersediaan logistik imunisasi dan pelaporan kasus secara real-time dari rumah sakit menjadi modal penting dalam memperkuat respon cepat di lapangan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.