Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Peringati IDA Day, Sarihusada Dorong Waspada Anemia Defisiensi Besi pada Anak
Kamis, 27 November 2025 14:52 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam rangka memperingati Iron Deficiency Anemia (IDA) Awareness Day, Sarihusada mengajak masyarakat Indonesia lebih waspada terhadap anemia defisiensi besi, salah satu masalah gizi yang kerap terjadi tanpa gejala (silent disease) dan berdampak besar pada kualitas hidup anak. Kondisi ini masih menjadi tantangan serius, terutama karena anemia berkontribusi pada tingginya angka stunting. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 1 dari 4 anak Indonesia mengalami anemia, yang menjadi salah satu penyebab keterlambatan pertumbuhan serta perkembangan otak.
Anemia defisiensi besi terjadi ketika tubuh kekurangan zat besi untuk membentuk hemoglobin, protein penting dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Bila tidak ditangani, kondisi ini dapat menghambat tumbuh kembang, menurunkan daya tahan tubuh, serta memengaruhi kecerdasan dan prestasi belajar anak.
Gejala Anemia Defisiensi Besi pada Anak
Menurut dr. Devie Kristiani, dokter spesialis anak RS Bethesda Yogyakarta, gejala anemia defisiensi besi sering tidak disadari pada tahap awal. Anak mungkin tampak pucat, mudah lelah, lesu, atau kurang aktif. Gejala lain yang perlu diwaspadai yaitu berat badan sulit naik, pertumbuhan terlambat, penurunan nafsu makan, hingga kebiasaan pica (memakan benda bukan makanan seperti tanah atau es batu).
dr. Devie menerangkan, anemia defisiensi besi bukan sekadar masalah kurang darah. Kondisi ini berdampak langsung pada perkembangan saraf dan otak. Studi menunjukkan bahwa anak dengan anemia defisiensi besi memiliki skor kognitif, kemampuan psikomotor, serta konsentrasi yang lebih rendah dibanding anak dengan kadar zat besi yang cukup.
Baca juga : Penghargaan Bagi Ibunda Bayu Satria Dorong Penguatan Gerakan Inklusi Nasional
“Hal ini berpengaruh pada kesiapan mereka belajar di sekolah dan performa akademik dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk memastikan anak mendapatkan kecukupan zat besi dimulai dari periode ASI eksklusif,” jelas dr. Devie.
Penyebab dan Faktor Risiko
Kekurangan zat besi umumnya disebabkan rendahnya asupan makanan yang kaya zat besi, penyerapan yang tidak optimal, atau kehilangan darah akibat infeksi kronis. Beberapa kelompok anak memiliki risiko lebih tinggi, seperti bayi prematur, anak dari ibu yang mengalami anemia selama kehamilan, serta anak yang mengonsumsi MPASI rendah zat besi.
Faktor gaya hidup juga berpengaruh. Konsumsi teh, kopi, atau cokelat dapat menghambat penyerapan zat besi di usus. Sebaliknya, penyerapan dapat ditingkatkan dengan vitamin C dan susu pertumbuhan yang difortifikasi zat besi.
Dalam pencegahan anemia defisiensi besi, dibutuhkan tindakan preventif dimulai dari rutin melakukan pengecekan status kecukupan zat besi dengan skrining atau deteksi dini dan mencukupi kebutuhan nutrisi yang kaya zat besi. Selain itu, konsumsi vitamin C membantu meningkatkan penyerapan zat besi hingga dua kali lipat. “Di sisi lain, susu pertumbuhan yang difortifikasi dapat menjadi pilihan pelengkap nutrisi harian,” kata dr. Devie.
Baca juga : Buka IMHAX 2025, Bamsoet Dorong Budaya Keselamatan Berkendara di Jalan Raya
Ia menambahkan, anemia defisiensi besi dapat dicegah melalui langkah sederhana:
- Mengombinasikan makanan sumber zat besi dengan sumber vitamin C (jeruk, stroberi, tomat).
- Memberikan suplemen zat besi sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
- Mengurangi konsumsi teh, kopi, atau cokelat saat makan.
- Memastikan kecukupan nutrisi harian, bila perlu dengan susu pertumbuhan yang difortifikasi zat besi.
- Berkonsultasi rutin dengan dokter untuk memantau kecukupan nutrisi.
Peran Inovasi dalam Pencegahan
Sebagai bagian dari komitmen mengatasi anemia pada anak, Sarihusada menghadirkan inovasi SGM Eksplor dengan IronC, kombinasi zat besi dan vitamin C yang terbukti meningkatkan penyerapan zat besi.
“Inovasi ini kami kembangkan berdasarkan penelitian ilmiah yang kami lakukan secara konsisten dalam dua dekade terakhir, termasuk riset terkait penyerapan zat besi yang meningkat signifikan ketika dikombinasikan dengan vitamin C,” ujar Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, Medical & Scientific Affairs Director Sarihusada.
Kombinasi ini, lanjutnya, mendukung penyerapan zat besi hingga dua kali lipat. “Penelitian menunjukkan bahwa anak Indonesia usia 1–3 tahun yang secara rutin mengonsumsi dua gelas susu pertumbuhan SGM Eksplor dengan kandungan IronC per hari, didukung makanan harian bernutrisi seimbang, terbukti memiliki kecukupan asupan zat besi sesuai angka kecukupan gizi (AKG),” ujar dr. Ray.
Baca juga : Peringati Hari Pneumonia Sedunia, PDPI Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini
“Sarihusada berkomitmen pada penelitian berkelanjutan yang berfokus pada peningkatan status gizi anak Indonesia, termasuk publikasi ilmiah mengenai pemenuhan zat besi dan dampaknya terhadap tumbuh kembang,” tambahnya.
Selain inovasi produk, Sarihusada juga mengembangkan alat bantu digital “Kalkulator Zat Besi” melalui platform Alfagift dan website generasimaju.co.id. Alat ini membantu orang tua menghitung kebutuhan zat besi harian anak dan mendeteksi risiko anemia sejak dini.
“Deteksi dan intervensi dini menjadi kunci dalam mencegah anemia defisiensi besi. Dengan asupan nutrisi tepat, pemantauan rutin, dan edukasi berkelanjutan, kita bisa membantu anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan mencapai potensi maksimal mereka,” tutup dr. Ray.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya