Dark/Light Mode

Dukungan Psikososial Dibutuhkan Penyintas Bencana Sumatera

Jumat, 5 Desember 2025 21:06 WIB
Psikolog dan Associate Professor Universitas Paramadina, Muhammad Iqbal. (Foto: Ist)
Psikolog dan Associate Professor Universitas Paramadina, Muhammad Iqbal. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik dan infrastruktur, tetapi juga memunculkan dampak psikologis serius bagi masyarakat penyintas. Terutama mereka yang kehilangan keluarga, rumah, dan mata pencaharian.

Psikolog dan Associate Professor Universitas Paramadina, Muhammad Iqbal mengatakan, kondisi psikologis penyintas harus menjadi perhatian penting pemerintah dalam proses penanganan dan pemulihan bencana. Menurut dia, tekanan mental yang dialami warga di lapangan sangat jelas terlihat dari reaksi stres, kecemasan, mimpi buruk, hingga ketakutan yang muncul ketika mendengar suara hujan atau gemuruh.

“Bencana ini bukan hanya krisis ekologis dan ekonomi, tetapi juga krisis kemanusiaan yang mengancam kesehatan mental masyarakat,” kata Iqbal di Jakarta, Jumat.

Ia menjelaskan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa 30–50 persen penyintas bencana besar dapat mengalami gejala post-traumatic stress disorder (PTSD) dalam tiga bulan pertama setelah kejadian. Anak-anak dan lansia merupakan kelompok paling rentan terhadap dampak psikologis jangka panjang.

Iqbal menyebutkan bahwa penyintas bencana umumnya mengalami beragam reaksi psikologis, antara lain acute stress reaction, anxiety disorders, prolonged grief disorder, hingga PTSD. Kondisi ini dipicu oleh hilangnya orang terdekat, kerusakan rumah, hilangnya harta benda, dan putusnya sumber penghidupan.

Baca juga : PHE Percepat Distribusi Bantuan ke Wilayah Bencana Sumatera

“Trauma bukan sekadar ingatan buruk, tetapi pengalaman emosional yang melekat dan muncul dalam bentuk hipervigilansi, ketegangan, atau reaksi panik,” ujarnya.

Menurut Iqbal, bencana menciptakan tekanan ekstrem yang sering kali melebihi kapasitas seseorang untuk mengelola stres. Karena itu, dukungan psikologis harus diberikan secara sistematis dan berlapis.

Iqbal menekankan perlunya pemerintah memperkuat layanan dukungan psikososial, salah satunya melalui pendekatan Psychological First Aid (PFA). Pendekatan ini dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, relawan, guru, tokoh masyarakat, maupun petugas lapangan.

PFA berfokus pada tiga prinsip utama, yaitu: Protect, memastikan keamanan fisik dan mengurangi stres tambahan, Connect, membangun jejaring dukungan dan interaksi sosial, dan Empower, membantu penyintas memulihkan rasa kendali dan kemampuan diri

“PFA terbukti menurunkan risiko trauma jangka panjang dan meningkatkan resiliensi komunitas,” kata Iqbal.

Baca juga : MUI Desak Mentri LH Cabut Izin Usaha Penyebab Bencana Sumatera

Iqbal menyampaikan, dukungan psikososial harus diberikan pada empat tingkatan, yaitu individu, keluarga, komunitas, serta sistem layanan pemerintah.

Pada tingkat individu, penyintas membutuhkan skrining stres, konseling sederhana, dan dukungan spiritual. Di tingkat keluarga, penguatan interaksi dan edukasi kepada orang tua diperlukan untuk membantu anak menghadapi stres.

Sementara itu, pada tingkat komunitas, diperlukan ruang aman bagi anak dan lansia, kegiatan berbasis budaya lokal, serta kolaborasi antara puskesmas, sekolah, dan lembaga kemanusiaan.

Pada tingkat sistem, Iqbal menilai pemerintah perlu mengintegrasikan layanan kesehatan mental dalam struktur BNPB dan pemerintah daerah, pelatihan PFA untuk relawan dan guru, serta penyediaan anggaran rehabilitasi psikososial jangka panjang.

Iqbal menambahkan bahwa selain kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal sementara, penyintas memerlukan dukungan emosional, sosial, dan informasi yang memadai untuk membantu mereka bangkit.

Baca juga : IMM Dukung Langkah Cepat Menhut Raja Juli Hadapi Banjir Sumatera

“Tujuan akhirnya adalah membangun resiliensi jangka panjang agar penyintas mampu kembali menjalani kehidupan pascabencana,” ujarnya.

Ia menegaskan, bencana dapat merusak bangunan fisik, tetapi tidak boleh dibiarkan meruntuhkan harapan dan martabat manusia. Dukungan psikososial, katanya, harus menjadi bagian utama dalam penanganan bencana di Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.