Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Lebih Dari 5 cm Per Tahun
Badan Geologi: Banyak Kota Besar di Jawa Alami Penurunan Muka Tanah
Minggu, 21 Desember 2025 22:36 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Geologi melaporkan, sejumlah kota besar di Pulau Jawa mengalami penurunan muka tanah dengan laju lebih dari 5 cm per tahun. Kondisi ini tidak hanya terjadi di wilayah pesisir, tetapi juga di dataran tinggi seperti Bandung.
Terkait hal ini, Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi, Agus Cahyono Adi menjelaskan, Kota Bandung dan lingkup yang lebih besar lagi: kawasan Bandung Raya mengalami penurunan muka tanah lebih dari 5 cm per tahun karena berbagai faktor. Seperti masifnya industri, tanah lunak dan sedimen muda atau kondisi geologi, urbanisasi yang masif, beban bangunan, serta eksplorasi air tanah yang berlebihan.
"Penurunan muka tanah terjadi karena multifaktor. Wilayah Bandung ini kan terbentuk dari danau purba. Jadi, endapan sedimennya relatif lebih labil dibanding daerah yang terbentuk dari bekuan lava," terang Agus seperti dilansir ANTARA, Minggu (21/12/2025).
Agus menambahkan, tidak semua faktor yang menyebabkan penurunan muka tanah bisa tertanggulangi. Terutama, yang berkaitan dengan geologi. Yang bisa tertanggulangi adalah faktor penghentian penggunaan air tanah.
"Faktor alam tidak bisa (dikendalikan), yang bisa dikendalikan adalah mengurangi penggunaan air tanah," katanya.
Baca juga : Madrid Tertahan Lagi, Puncak Klasemen Melayang
Selain Bandung, daerah lain yang mengalami penurunan muka tanah lebih dari 5 cm adalah Jakarta Utara, Semarang (Genuk, Tanjung Mas, dan Kaligawe), Sayung di Demak, pesisir Pekalongan, serta Surabaya sebelah timur dan utara.
Dalam keterangannya, Plt Kepala Badan Geologi Lana Saria juga mengatakan, penurunan tanah disebabkan oleh kondisi geologi, yaitu sedimen atau endapan berumur muda dan tanah lunak. Faktor ini kemudian diperparah oleh eksploitasi air tanah secara berlebihan, beban bangunan, dan urbanisasi masif.
Ketika berkombinasi dengan adanya kenaikan muka laut karena pemanasan global, penurunan tanah yang terjadi berpotensi melahirkan risiko banjir dan rob secara permanen. Dampak lainnya adalah kerusakan infrastruktur dan bangunan, serta menurunnya kualitas hidup dan lingkungan terkait masalah kesehatan dan sanitasi.
"Selain itu, juga ada kerugian ekonomi akibat meningkatnya biaya perbaikan bangunan dan infrastruktur pada daerah terdampak, dan hilangnya wilayah daratan," beber Lana.
Menurutnya, dampak amblasan atau penurunan tanah (land subsidence) merupakan salah satu ancaman bencana yang terjadi dalam waktu lama, namun berdampak cukup luas. Umumnya meliputi wilayah perkotaan, industri, dan pemukiman padat.
Baca juga : Tanggap Darurat, PNM Peduli Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana Alam di Sumatera
Amblasan yang terjadi di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, berdasarkan pemantauan Badan Geologi, telah membuat daratan seperti Jakarta dan Semarang sejajar atau bahkan lebih rendah dari muka laut atau hilang.
Perubahan daratan menjadi perairan yang permanen itu menghilangkan permukiman dan tambak dari peta daratan.
"Banjir rob meluas di Jakarta Utara, Kabupaten dan Kota Pekalongan, Kota Semarang, dan Kabupaten Demak," cetus Lana.
Kondisi tanah amblas juga bisa dilihat dari perubahan garis pantai, pembangunan tanggul-tanggul laut, dan aktivitas pemompaan banjir.
Namun demikian, untuk wilayah Jakarta, Badan Geologi menyatakan terjadi pelandaian penurunan tanah di cekungan air tanah.
Baca juga : MPSI: Saatnya Berdamai, Bukan Menyulut Dendam Sejarah
Berdasarkan pengukuran global positioning system (GPS), dalam periode 2015-2023 terjadi penurunan tanah antara 0,05 hingga 5,17 sentimeter per tahun. Penurunan muka tanah di Jakarta bahkan disebut relatif tidak terlihat sejak 2020 hingga sekarang.
Sementara berdasarkan hasil pengukuran GPS sebelumnya, pada periode 1997-2005, laju penurunan tanah di Jakarta beragam mulai dari 1-10 hingga 15-20 sentimeter per tahun.
Sementara menurut laporan World Economic Forum (WEF) yang terbit November lalu, sebagian wilayah Jakarta tercatat mengalami amblasan hingga 28 sentimeter. Jakarta, begitu juga Semarang, disebutkan termasuk yang sedang tenggelam dengan laju 10 sampai 20 kali lebih cepat daripada kenaikan muka air lautnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya