Dark/Light Mode

Suryopratomo: Dari Jurnalis, Dubes, Hingga Pembina Yayasan Wellington College

Jumat, 16 Januari 2026 14:35 WIB
Pembina Yayasan Wellington College Independent School Jakarta (WCIJ), Suryopratomo (Foto: Firsty Hestyarini/Rakyat Merdeka/RM.id)
Pembina Yayasan Wellington College Independent School Jakarta (WCIJ), Suryopratomo (Foto: Firsty Hestyarini/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Suryopratomo yang telah melepas masa baktinya sebagai Duta Besar (Dubes) RI untuk Singapura pada 3 Januari 2026, mendapat kepercayaan menjadi Pembina Yayasan Wellington College Independent School Jakarta (WCIJ), British-heritage school pertama di Indonesia, yang akan beroperasi di BSD City Tangerang, Banten pada tahun ini.

Pengumuman resmi Suryopratomo menjadi Pembina Yayasan Wellington College, disampaikan WCIJ dalam media briefing di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

 

Suryopratomo (kiri) foto bareng Founding Head of School Wellington College Melissa Meyer (tengah) dan Governor and Chief Executive Officer Wellington College Education Singapore Group (WCESG) Tan Wee Han usai media briefing di Jakarta, Kamis (15/1/2026). (Foto: Firsty Hestyarini/Rakyat Merdeka/RM.id)

 

Baca juga : Prabowo Terharu, Indonesia Ranking 1 Negara Yang Rakyatnya Paling Bahagia

Suryopratomo yang akrab disapa Tommy, mengaku tak pikir panjang ketika menerima tawaran menjadi Pembina Yayasan WCIJ. Kecintaannya terhadap dunia pendidikan telah lama tumbuh, karena dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berprofesi guru.

“Orang tua saya, kakek saya itu kan guru. Saya terlahir dari keluarga guru. Saya jadi wartawan itu kan kecelakaan. Orang tua saya itu sebetulnya menginginkan saya jadi guru,” ungkap Suryopratomo, yang akrab disapa Tommy, Jumat (15/1/2026).

Tommy mengisahkan, waktu dia menyelesaikan S2 di Institut Pertanian Bogor (IPB), beberapa dosen memintanya untuk menjadi asisten. Ayahnya, Tjokroprawiro menginginkan dia melanjutkan studi S3. Namun, Tommy tak mengambil opsi tersebut.

“Masak dari S1 sampai S2 di Bogor terus, ujung-ujungnya ngajar. Makanya, saya masuk ke Kompas. Tapi prinsip dasarnya kan sama. Wartawan juga kan mengedukasi. Fungsi mengedukasi itu melekat pada diri wartawan,” ujarnya. 

Baca juga : LPDB Koperasi Buka Peluang Pembiayaan Energi, HIPMI Siap Bergerak

Dengan latar belakang itu, Tommy menerima sepenuhnya tawaran di bidang pendidikan menjadi Pembina Yayasan WCIJ. “Saya bilang why not. Karena tanggung jawab mempersiapkan generasi yang akan datang itu adalah tanggung jawab kita semua,” ujarnya.

Tommy berkeyakinan, Indonesia tidak akan bisa terbang tinggi, jika tidak mulai menata pendidikan mulai dari kelompok usia muda. Mengutip ekonom kondang Jeffrey Sachs, Tommy mencontohkan Singapura yang sukses melesatkan perekonomian menjadi negara dengan tingkat kemajuan tertinggi di Asia bersama China, serta menjadi negara dengan PDB tertinggi di dunia: 156.760 dolar AS per kapita. Mengalahkan Luksemburg yang sebelumnya berada di peringkat teratas.

Pertumbuhan ekonomi Asia saat ini telah mencakup 51 persen PDB dunia, melampaui AS dan Eropa.

“Indonesia menurut saya butuh. Kalau kita tidak mulai menata pendidikan dari usia muda, kita tidak akan bisa ke mana-mana. Singapura yang berpenduduk 4 juta jiwa dan tidak punya sumber daya alam, bisa menjadi negara dengan PDB tertinggi dunia, antara lain karena transformasi di bidang pendidikan yang diikuti meritokrasi dan penegakan aturan tak pandang bulu,” beber Tommy.

Masa-Masa Jadi Jurnalis

Baca juga : Prabowo: Suplai Pangan Korban Bencana Cukup, Hingga ke Lokasi Paling Terisolir

Tommy yang lahir di Bandung pada 12 Mei 1961, memiliki karier cemerlang sebagai jurnalis di Harian Kompas. Empat tahun setelah bergabung dengan Kompas, Tommy menjabat sebagai Wakil Kepala Desk Olahraga. Setahun kemudian, Tommy dipindahkan ke Desk Ekonomi, lalu menjabat Redaktur Pelaksana. Tommy menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian Kompas dalam usia yang relatif muda: 39 tahun. Tanggal 1 Februari 2000, Tommy menerima tongkat estafet dari pendiri Kompas Jakob Oetama, yang sebelumnya menjabat pemimpin redaksi selama 35 tahun.

Setelah menjalani masa karier yang gemilang di Kompas, Tommy bergabung dengan Metro TV. Di stasiun TV ini, Tommy menjabat Direktur Pemberitaan, Wakil Direktur, hingga akhirnya diangkat menjadi Presiden Direktur pada akhir April 2017.

Diangkat Jadi Dubes RI Untuk Singapura

Tommy diangkat menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Dubes LBBP) Republik Indonesia untuk Singapura, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 91/P tahun 2020 tanggal 11 September 2020, Nomor 92/P dan 93/P tahun 2020 tanggal 14 September 2020.

Selama menjabat Dubes RI untuk Singapura, Tommy melakukan sejumlah hal penting seperti menjembatani bantuan penanganan Covid – antara lain berupa vaksin - dari Pemerintah Singapura untuk Indonesia, aktif menangani permasalahan Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan kasus deportasi beberapa buronan, hingga upaya penyelesaian masalah Flight Information Region (FIR) yang menjadi perhatian kedua negara.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.