Dark/Light Mode

PFI Kecam Penahanan Jurnalis Indonesia oleh Militer Israel

Senin, 18 Mei 2026 23:13 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat mengecam keras tindakan militer Israel yang mencegat kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2026 di perairan internasional dan menahan sejumlah aktivis serta jurnalis di dalamnya.

Dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, termasuk di antara pihak yang ditahan dalam insiden tersebut.

Ketua Umum PFI Pusat Dwi Pambudo menegaskan, tindakan terhadap jurnalis yang sedang menjalankan tugas peliputan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan prinsip kebebasan pers.

“Jurnalis bukan kombatan dan dilindungi oleh Konvensi Jenewa. Penahanan terhadap mereka saat menjalankan tugas jurnalistik adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan,” ujar Dwi Pambudo dalam keterangan pers, Senin (18/5/2026).

Baca juga : Perkuat Pertahanan, Prabowo Serahkan 6 Jet Tempur Rafale Dan Rudal Meteor Ke TNI

PFI menjelaskan, pencegatan bersenjata terjadi di wilayah perairan internasional sekitar 300 mil laut dari pantai Gaza atau dekat perairan Siprus.

Menurut laporan Command Center GSF, dua kapal yang membawa misi kemanusiaan, yakni Boralize dan Ozgurluk, sempat kehilangan kontak sebelum akhirnya dipastikan diintersepsi militer Israel.

Bambang Noroyono diketahui menjadi satu-satunya warga negara Indonesia (WNI) di kapal Boralize.

Sementara di kapal Ozgurluk terdapat Thoudy Badai bersama Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo serta Rahendro Herubowo yang berkontribusi untuk iNews TV, BeritaSatu, dan CNN.

Baca juga : Prabowo ke Pengusaha: Seluruh Rakyat Indonesia Pemegang Saham Kekayaan Bangsa

Sebelum komunikasi terputus, para jurnalis di lokasi sempat menyebarkan video darurat (SOS) yang menginformasikan bahwa kapal mereka telah diambil alih secara paksa oleh militer Israel.

PFI menilai, tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional, prinsip kemanusiaan universal, dan kebebasan sipil warga dunia yang tengah membawa bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina di Gaza.

Dalam pernyataannya, PFI Pusat menyampaikan tiga sikap utama. Pertama, mengecam tindakan militer Israel yang membajak kapal kemanusiaan dan menahan jurnalis.

Kedua, mendesak Kementerian Luar Negeri RI segera mengambil langkah diplomatik untuk memastikan keselamatan Bambang Noroyono, Thoudy Badai, dan seluruh WNI yang berada di kapal tersebut.

Baca juga : BNI Perkuat Pembinaan Atlet, Bulu Tangkis Indonesia Kian Bersinar di Level Dunia

Ketiga, mengajak komunitas pers nasional maupun internasional untuk bersama-sama menekan Israel agar menghentikan kekerasan terhadap jurnalis.

PFI Pusat menyatakan terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan redaksi Republika, Kementerian Luar Negeri RI, serta jaringan organisasi pers internasional.

“Perlindungan terhadap jurnalis di wilayah konflik adalah harga mati demi tegaknya kebebasan pers dan kebenaran informasi,” tegas Dwi Pambudo.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.