Dark/Light Mode

Ketua Umum KOWANI Ajak Seluruh Perempuan Indonesia Terus Lestarikan Kebaya

Minggu, 19 Juli 2026 17:32 WIB
Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket dalam rangka Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026, di kawasan CFD Palembang, Sumsel, Minggu (19/7/2026). (Foto: Dok. KOWANI)
Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket dalam rangka Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026, di kawasan CFD Palembang, Sumsel, Minggu (19/7/2026). (Foto: Dok. KOWANI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Nannie Hadi Tjahjanto mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk terus melestarikan kebaya sebagai identitas budaya bangsa sekaligus simbol persatuan, perjuangan, dan jati diri perempuan Indonesia.

Ajakan tersebut disampaikan Nannie saat menghadiri Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket dalam rangka Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026, di kawasan Car Free Day (CFD) Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Minggu (19/7/2026). Kegiatan ini diinisiasi DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatera Selatan dan berhasil memecahkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket Terbanyak.

Sejak pagi, ribuan perempuan dari berbagai organisasi perempuan, komunitas budaya, pelajar, mahasiswa, instansi pemerintah, hingga masyarakat umum memadati kawasan CFD Palembang. Mengenakan kebaya yang dipadukan dengan beragam motif songket khas Sumatera Selatan, para peserta berjalan bersama melintasi Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) hingga Jembatan Ampera, menghadirkan panorama budaya yang menjadi simbol persatuan sekaligus promosi wastra Nusantara.

Nannie menyampaikan apresiasi kepada Pemprov Sumsel, Pemkot Palembang, PIM, Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW), Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Tim Penggerak PKK, Dharma Pertiwi, Dekranasda, Bhayangkari, Persit Kartika Chandra Kirana, Jalasenastri, Dharma Wanita Persatuan, serta puluhan organisasi perempuan lainnya yang telah bersatu menyukseskan peringatan Hari Kebaya Nasional sekaligus pemecahan Rekor MURI.

Menurutnya, keterlibatan berbagai organisasi perempuan menunjukkan kuatnya semangat persatuan, gotong royong, dan pengabdian perempuan Indonesia dalam menjaga warisan budaya bangsa.

“Atas nama Kongres Wanita Indonesia, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, pimpinan organisasi, dan seluruh perempuan Indonesia yang terus menjaga kebersamaan, memperkuat persatuan, melestarikan budaya bangsa, serta berkontribusi mewujudkan perempuan Indonesia yang maju, mandiri, berdaya, berintegritas, dan berkarakter,” ujar Nannie.

Secara khusus, Nannie juga memberikan penghargaan kepada Ketua DPD PIM Sumsel sekaligus Ketua Pelaksana Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026 Helen Ganefo yang berhasil mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan budaya berskala nasional tersebut hingga berlangsung sukses dan mencatatkan Rekor MURI.

Baca juga : DKI Juara Umum Asah Keterampilan PERIKHSA 5, Ini Harapan Bamsoet

Menurut Nannie, keberhasilan menghadirkan ribuan perempuan berkebaya dan berkain songket dalam satu gerakan budaya merupakan hasil kerja keras, dedikasi, serta kolaborasi yang dibangun bersama seluruh panitia, organisasi perempuan, pemerintah daerah, komunitas budaya, dan berbagai pemangku kepentingan.

Pada kesempatan tersebut, Nannie juga memberikan penghargaan kepada Ketua Umum DPP PIM Lana T. Koentjoro, beserta Tim Nasional Kebaya Indonesia dan seluruh pegiat kebaya yang dinilainya telah berjuang tanpa lelah hingga lahirnya Hari Kebaya Nasional.

“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ibu Lana T. Koentjoro yang telah memperjuangkan Hari Kebaya Nasional. Perjuangan itu membuktikan bahwa ketika perempuan Indonesia bersatu, memiliki visi yang sama, dan bergerak secara konsisten, sebuah gagasan mampu menjadi gerakan nasional yang diakui negara,” ujarnya.

Nannie menegaskan, Hari Kebaya Nasional bukan sekadar perayaan seremonial ataupun peragaan busana, melainkan momentum untuk memperkuat identitas nasional. “Kebaya adalah simbol jati diri, kesantunan, keanggunan, martabat, serta semangat perjuangan perempuan Indonesia,” imbuhnya.

Menurutnya, gerakan mengenakan kebaya juga memiliki dampak ekonomi yang besar karena melibatkan penenun songket, perajin, penjahit, desainer, hingga pelaku UMKM di berbagai daerah. “Semakin banyak masyarakat mengenakan kebaya dan kain tradisional, semakin besar pula dukungan terhadap para perajin dan pelaku usaha kreatif yang menjaga keberlangsungan budaya Indonesia,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya melestarikan kebaya, tetapi juga kain tradisional Nusantara, khususnya songket, sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif.

Nannie menjelaskan bahwa kebaya memiliki hubungan erat dengan sejarah gerakan perempuan Indonesia. Salah satu momentum penting adalah Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) ke-10 tahun 1964, ketika ribuan perempuan dari seluruh Indonesia mengenakan kebaya sebagai simbol persatuan dan perjuangan.

Baca juga : Peluang Pekerja Migran Indonesia Ke Turki Terus Naik

Menurutnya, penetapan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 merupakan bentuk pengakuan negara terhadap kebaya sebagai identitas nasional. Pengakuan tersebut semakin diperkuat dengan ditetapkannya kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2024 melalui nominasi multinasional bersama sejumlah negara Asia Tenggara.

Dalam kesempatan tersebut, Nannie juga menegaskan bahwa ibu rumah tangga merupakan profesi yang sangat mulia dan memiliki kontribusi besar bagi keluarga maupun bangsa. “Profesi itu bukan hanya polisi, dokter, insinyur, atau PNS. Ibu rumah tangga juga adalah profesi. Bahkan jika seluruh pekerjaan ibu di rumah dihitung secara ekonomi, nilainya sangat besar dan tidak akan mampu dibayar,” terangnya.

Ia mengajak masyarakat, khususnya para suami, untuk memberikan penghargaan yang lebih besar terhadap peran perempuan di dalam keluarga karena perempuan merupakan fondasi utama dalam membangun karakter generasi penerus bangsa.

Menutup sambutannya, Nannie mengajak seluruh masyarakat untuk terus mengenakan kebaya dengan bangga, melestarikan songket dengan cinta, memberdayakan para perajin secara nyata, menggerakkan ekonomi perempuan, serta mewariskan budaya kepada generasi muda.

Di kesempatan yang sama, Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM) Lana T Koentjoro mengatakan, Hari Kebaya Nasional lahir dari perjuangan panjang berbagai organisasi perempuan yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian kebaya sebagai identitas budaya bangsa. Penetapan Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 merupakan tonggak penting, namun tanggung jawab seluruh masyarakat adalah memastikan kebaya tetap hidup dalam keseharian.

“Hari Kebaya Nasional lahir dari perjuangan bersama berbagai organisasi perempuan. Penetapan melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2023 menjadi tonggak penting, tetapi tanggung jawab kita adalah memastikan kebaya terus hidup dalam keseharian masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan, kebaya harus semakin dekat dengan generasi muda melalui inovasi desain tanpa meninggalkan pakemnya sehingga dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan. Karena itu, pelestarian kebaya membutuhkan kolaborasi pemerintah, komunitas, akademisi, media, pelaku usaha, dan masyarakat.

Baca juga : Ketua MPR Gemakan Islam Toleran Di Uzbekistan

“Ketika seseorang mengenakan kebaya, yang bergerak bukan hanya pelestarian budaya, tetapi juga ekonomi kreatif. Perajin songket, penjahit, desainer, pengrajin aksesori, hingga pelaku UMKM ikut merasakan manfaatnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengakuan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal tanggung jawab bersama untuk terus melestarikan dan mewariskannya kepada generasi mendatang.

Apresiasi juga disampaikan Pemprov Sumsel. Mewakili Gubernur Sumsel Herman Deru, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sumatera Selatan Apriyadi Mahmud menyampaikan penghargaan atas terselenggaranya Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket yang dirangkaikan dengan pemecahan Rekor MURI.

Ia mengapresiasi PIM, panitia, serta seluruh organisasi perempuan yang telah menginisiasi kegiatan budaya berskala nasional tersebut. “Kegiatan ini sangat luar biasa. Sejak pagi para peserta mengikuti parade berkebaya dan berkain songket hingga berkumpul di lokasi acara dalam rangka pemecahan Rekor MURI. Ini merupakan wujud nyata kecintaan terhadap budaya Indonesia yang patut kita apresiasi,” ujarnya.

Apriyadi berharap, kegiatan serupa tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan budaya yang berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak organisasi perempuan, pemerintah daerah, komunitas budaya, serta masyarakat luas. Pemprov Sumsel siap mendukung berbagai program yang mendorong pemberdayaan perempuan, pelestarian budaya, dan pengembangan ekonomi kreatif.

Keberhasilan memecahkan Rekor MURI, menurutnya, bukan sekadar prestasi, tetapi juga momentum untuk semakin memperkuat posisi Sumatera Selatan sebagai daerah yang aktif menjaga, melestarikan, dan mempromosikan budaya Indonesia kepada dunia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.