Dark/Light Mode

Sosialisasi Petugas Puskesmas Tanjung Priok Sukses Gaet Pasien Ikutan CKG

Rabu, 26 Agustus 2026 19:04 WIB
Sosialisasi petugas Puskesmas Tanjung Priok kepada pasien untuk ikut CKG. (Foto: Nana Maulana/RM)
Sosialisasi petugas Puskesmas Tanjung Priok kepada pasien untuk ikut CKG. (Foto: Nana Maulana/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rabu (26/8/2026), jarum jam belum genap menunjuk angka 07.15 WIB ketika saya melangkah masuk ke Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Namun, deretan kursi di ruang tunggu luar dan dalam sudah dipenuhi warga. Di balik meja resepsionis luar, petugas menyapa setiap orang yang datang dengan ramah dan cekatan.

"Ingin ke poli apa Bapak/Ibu?" sapaan itu berulang tanpa jeda, diselingi tangannya yang jemari membantu warga memencet layar monitor antrean sesuai kebutuhan.

Pagi di puskesmas itu bergerak cepat. Di tengah kesibukan petugas yang baru tiba dan warga yang terus berdatangan, loket pendaftaran resmi dibuka pukul 07.30 WIB. Meski penuh, hembusan dingin pendingin udara cukup memanjakan. Tak ada keringat yang mengucur. Warga menanti giliran dengan tenang, sesekali melirik lembar kertas nomor antrean di jemari mereka.

Di Puskesmas Tanjung Priok, Jakarta Utara ini, mengakses Cek Kesehatan Gratis (CKG) ternyata sangat mudah. Cukup berbekal KTP, tanpa syarat BPJS Kesehatan maupun batasan domisili, warga sudah bisa mendaftar lewat aplikasi Satu Sehat atau langsung di tempat. Bahkan jika lupa membawa fisik KTP, foto di ponsel atau ingatan nomor NIK saja sudah cukup. Selain itu, CKG bisa dilakukan hari Senin sampai Jumat. Pelayanan di puskesmas juga cepat. Petugas di bagian pendaftaran maupun nurse station hingga ke bagian poli sangat ramah dan cekatan.

Pagi itu, gema sosialisasi tentang CKG dilakukan di lantai II Puskesmas. Menggunakan layar monitor 43 inci dan pengeras suara, Amanita K. Hana, petugas dari bagian Promosi Kesehatan Puskesmas Tanjung Priok yang mengupas tuntas manfaat CKG di hadapan puluhan warga yang menyimak seksama.

Respons antusias warga lewat deretan pertanyaan. "Apakah harus berpuasa dulu, Mbak?" tanya seorang warga. "Tidak wajib puasa, tapi kalau puasa hasilnya akan lebih bagus," terang Hana sigap, dilanjutkan penjelasan mengenai interval cek kolesterol yang ideal dilakukan minimal enam bulan sekali.

Dalam layar televisi, dijelaskan bahwa layanan CKG ini dirancang menyeluruh. Bagi warga usia 18–28 tahun, tersedia pemeriksaan standar mencakup mata, telinga, gigi, jiwa, gizi, tensi, gula darah, TB, hepatitis, hingga skrining HIV dan sifilis (bagi calon pengantin). Layanan ini disebut layanan standar.

Untuk pria di atas 40 tahun, pemeriksaan standar ditambah skrining risiko stroke, jantung, paru, ginjal, hingga kanker usus besar. Sementara wanita usia 30–69 tahun, meliputi pemeriksaan standar ditambah deteksi kanker payudara dan serviks. Sedangkan untuk lanjut usia (Lansia), pemeriksaan meliputi: Pemeriksaan standar risiko geriatri.

Baca juga : Siswa Peduli Kondisi Tubuh, Cegah Risiko Sakit Sejak Dini

Pukul 08.06 WIB, suasana di depan ruang pemeriksaan CKG kian penuh. Kursi yang kosong mulai terisi. Seorang pasien wanita berpakaian biru dan putih tampak menunggu di nurse station, sebelum akhirnya dipanggil dr. Inna Rosdyasari untuk masuk ke ruang pemeriksaan CKG yang berukuran 3x4 meter tersebut.

Hanya butuh waktu sekitar tujuh menit, pasien tersebut keluar dengan wajah legawa membawa selembar kertas hasil pemeriksaan.

Tak lama berselang, seorang wanita paruh baya berhijab hijau, berkaus merah, dan bersandal selop hitam melangkah menghampiri. Tangannya menggenggam dompet kecil dan tiga lembar kertas pendaftaran CKG. Wajahnya sumringah dan memancarkan binar penuh harap.

Dia adalah Ibu Erlinda (56 tahun). Karena kursi di sebelah saya kosong, Ibu Erlinda memilih duduk di sebelah saya dan bertanya di mana letak ruang CKG. Beliau langsung banyak cerita tentang rasa senangnya bisa menjajal CKG ini.

Ternyata, pedagang baju olahraga di Jalan Gorontalo, Tanjung Priok ini adalah pasien "dadakan". Dia tak pernah merencanakan ikut CKG karena memang tidak tahu ada program tersebut. Kedatangannya pagi itu murni karena rujukan klinik untuk mengontrol kolesterolnya yang sempat melonjak. Namun saat menyimak sosialisasi Hana di lantai II, niatnya langsung berubah. 

"Apa saya bisa ikut CKG hari ini?" tanyanya saat itu kepada petugas. Petugas dengan sigap mengarahkannya ke loket. Langkah wanita asal Padang, Sumatera Barat yang masih tampak gagah ini pun berbuah manis.

Tepat pukul 09.08 WIB, namanya dipanggil untuk pengukuran tensi, tinggi, berat badan, serta skrining riwayat obat di nurse station, sebelum akhirnya melangkah ke lantai II untuk pengambilan sampel darah.

Saat berpamitan untuk melanjutkan tahapan tes, raut penuh syukur tak mampu disembunyikannya.

Baca juga : CKG Normalkan Tekanan Darah 45% Penderita Hipertensi

"Kapan lagi cek kesehatan gratis, sekarang cari uang lagi susah, Mas. Niatnya cuma mau cek kolesterol dan gula darah, ternyata malah banyak yang dicek," ungkapnya, semringah.

Dia bercerita, bahwa kondisinya juga semakin turun. Bukan karena faktor usia, dia saat ini juga harus konsumsi obat diabetes. Meskipun belum parah, dia harus memilah jenis makanan yang disantapnya.

Untuk itu, kebaikan CGK ini rencananya akan dia bagikan besok dengan mengajak sang suami, yang sudah berusia 61 tahun untuk ikut mendaftar. Bagi Ibu Erlinda, CKG bukan sekadar fasilitas berobat, melainkan benteng pencegahan awal agar penyakit tak terlanjur parah. Hal ini sejalan dengan semangat program Pemerintah: "Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati."

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Rabu (26/8/2026), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, pemeriksaan berkala sangat krusial untuk mendeteksi penyakit dan faktor risiko sebelum berkembang menjadi komplikasi fatal seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Menkes menambahkan, melalui CKG diharapkan penyakit dapat ditemukan lebih cepat sehingga segera ditangani.

"Jangan menunggu sampai muncul keluhan atau komplikasi,” ujar Budi dalam Media Briefing Evaluasi, Capaian, dan Langkah Strategis Program Cek Kesehatan Gratis, di Kantor Kemenkes, Jakarta, Selasa (4/8/2026). 

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menerangkan, tahapan CKG selalu diawali dengan anamnesis-wawancara medis mendalam, mengenai keluhan, riwayat penyakit, hingga faktor risiko peserta.

“Anamnesis membantu menentukan apakah seseorang memerlukan pemeriksaan lanjutan dan jenis layanan yang sesuai. Dengan begitu, penanganan dapat diberikan lebih tepat sasaran,” kata Dante.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR Irma Suryani Chaniago berpandangan, program CKG bisa jadi upaya promotif preventif. "Tentunya CKG untuk masyarakat menengah cukup efektif ya. Terutama bagi masyarakat di daerah perkotaan," ungkap Irma kepada RM.id, Rabu (26/8/2026).

Baca juga : Menkes Fokus Pada Pasien, Faskes Dan Trauma Healing

Namun, kata Irma, tantangan saat ini masih banyak masyarakat yang belum tercerahkan dengan adanya CKG. Termasuk banyak masyarakat yang takut, jika terdapat penyakit setelah CKG. 

"Seperti khawatir bagaimana tindak lanjutnya, apakah bisa di cover BPJS Kesehatan atau tidak," kata Irma.

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama mengatakan, sejak diluncurkan pada Februari 2025, program CKG telah menjangkau 108 juta orang. Menurut dia, ini merupakan hal yang baik karena cukup banyak masyarakat yang sudah menjalani CKG. Untuk itu, kata dia, ada tiga usulan agar program CKG makin baik di masa datang.

"Pertama, sesuai WHO maka tujuan utama untuk kegiatan skrining kesehatan adalah untuk mengidentifikasi mereka yang kelihatannya sehat tetapi sebenarnya punya risiko tinggi untuk mengalami gangguan kesehatan," ujar Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ini kepada RM.id, Rabu (26/8/2026).

Dia menambahkan, langkah lain untuk meningkatkan layanan CKG adalah skrining yang baik. Hal ini akan memungkinkan dan mempermudah dilaksanakannya pengobatan secara dini. 

"Tegasnya, harus ada program yang jelas dan mudah dilaksanakan agar seseorang yang pada CKG-nya perlu ditindaklanjuti benar-benar mendapat akses yang mudah untuk proses diagnosis selanjutnya, dan juga pengobatan yang diperlukan," tambahnya.

Selain itu, Tjandra Yoga menegaskan, tujuan akhir program CKG adalah dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat masalah kesehatan di masyarakat. "Artinya, data keberhasilan jumlah orang yang di CKG harus dipadankan dengan data pengendalian kesakitan dan bahkan kematian akibat ditemukannya masalah kesehatan secara dini pada CKG," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.