Dark/Light Mode

Heboh Kawah Anak Krakatau Mirip Telur Ceplok, Ini Penjelasan Ahli

Senin, 21 September 2026 10:04 WIB
Fenomena telur ceplok di kawah Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. (Foto: Istimewa)
Fenomena telur ceplok di kawah Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penampakan kawah Gunung Anak Krakatau pasca erupsi menerus pada 4-6 September 2026 yang mirip telur ceplok, viral di media sosial. Pada dasar kawah bagian tengah, tampak genangan berwarna kuning yang dikelilingi bagian berwarna putih. Masyarakat pun dibuat heboh. Sebagian menerka-nerka, fenomena apa ini sebenarnya? 

Terkait hal ini, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, fenomena telur ceplok itu merupakan proses geokimia alami di lingkungan kawah vulkanik aktif. Bukan sesuatu yang aneh, misterius, atau pertanda bahaya. 

Menurutnya, fenomena tersebut dapat muncul atau berubah setelah episode erupsi karena sistem hidrotermal dan suplai gas di dalam kawah mengalami perubahan.

Baca juga : Tabur Bunga, Penghormatan untuk Jurnalis dan Awak Kapal Hilang

"Istilah telur ceplok adalah sebutan publik untuk penampakan visual tersebut. Bukan nama vulkanologi resmi. Saya menyebutnya genangan kawah yang mengalami perubahan geokimia akibat interaksi air, gas vulkanik, batuan (acid-sulfate alteration)," kata Daryono via akun Instagarm resminya, Minggu (20/9/2026).

Mantan Direktur Gempa bumi & Tsunami BMKG ini menerangkan, kronologis terbentuknya kawah mirip telur ceplok itu bermula saat Anak Krakatau mengalami erupsi pada 3 September 2026. Setelah aktivitas permukaan mereda, rekaman udara menampilkan genangan kawah dengan pola kuning putih. 

"Anak Krakatau yang tampak seperti telur ceplok terjadi karena interaksi antara air yang menggenang di dasar kawah dengan gas vulkanik, terutama senyawa sulfur/belerang, serta batuan dan mineral hasil alterasi hidrotermal," paparnya. 

Baca juga : Polda Banten Dampingi Keluarga Korban Arupadatu Tabur Bunga di Selat Sunda

Soal warna kuning yang membulat pada bagian tengah kawah, Daryono menerangkan fenomena tersebut berkaitan dengan sulfur dan material mineral yang terbentuk atau terlarut akibat aktivitas vulkanik. Sedangkan bagian putih di sekelilingnya merupakan batuan dan mineral yang mengalami alterasi oleh fluida serta gas panas.

"Genangan air menempati bagian terendah kawah. Sementara proses kimia dan pengendapan mineral di sekitarnya menciptakan kontras warna yang dari udara terlihat sangat menyerupai kuning telur dengan putih telur," beber Daryono.

"Jadi, fenomena ini merupakan proses geokimia alami di lingkungan kawah vulkanik aktif. Bukan sesuatu yang aneh, misterius atau pertanda bahaya," tandasnya. 

Baca juga : Grab Bagikan Masker Dan Tips Aman Hadapi Abu Anak Krakatau

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.