Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
KOWANI Nyalakan Cahaya Perdamaian Di Bundaran HI, Ajak Perempuan Jaga Persatuan
Selasa, 22 September 2026 05:55 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) memperingati Hari Perdamaian Internasional atau International Day of Peace dengan menggelar Renungan Malam untuk Perdamaian Dunia di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Senin (21/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi perempuan Indonesia dan masyarakat untuk sejenak menghentikan berbagai perbedaan. KOWANI mengajak seluruh pihak meneguhkan nilai kemanusiaan dan memperkuat komitmen membangun kehidupan yang damai.
Ketua Umum KOWANI periode 2024-2029 Ny. Nannie Hadi Tjahjanto mengatakan perdamaian bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau kelompok tertentu. Perdamaian merupakan tanggung jawab bersama.
Menurut Nannie, perempuan memiliki posisi strategis. Perempuan berperan sebagai pendidik pertama dalam keluarga sekaligus penjaga nilai kemanusiaan.
“KOWANI memandang perempuan mempunyai kedudukan penting sebagai pendidik pertama, penjaga nilai kemanusiaan, perawat kehidupan, penggerak keluarga, pemimpin masyarakat, sekaligus pembangun perdamaian,” ujar Nannie.
Ia mengatakan peran tersebut semakin penting di tengah masih ditemukannya kekerasan terhadap perempuan. Persoalan keluarga dan maraknya konten kurang mendidik di ruang digital juga menjadi perhatian.
Karena itu, KOWANI terus mendorong perempuan menjadi agen perdamaian. Perempuan diharapkan mampu mencegah kekerasan, membangun dialog, merawat persaudaraan, dan memperkuat ketahanan keluarga.
“Peran KOWANI sebagai dirigen atau koordinator organisasi-organisasi perempuan tentu menjadikan kami sebagai agen perdamaian. Kami berupaya mencegah kekerasan, membangun dialog untuk merawat persaudaraan, memperkuat ketahanan keluarga, dan menanamkan nilai persatuan kepada generasi penerus,” katanya.
Nannie mengatakan upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi berbagai organisasi perempuan yang tergabung dalam KOWANI. Keberagaman latar belakang organisasi, profesi, komunitas, dan nilai menjadi kekuatan untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Baca juga : KOWANI Apresiasi Sikap PERWIRA Tolak KLB
“Kami memperkenalkan konsep seribu profesi, seribu organisasi, seribu komunitas untuk menjawab seribu permasalahan. Itu yang sedang kita galakkan,” ujarnya.
Ia juga mengajak perempuan Indonesia bergabung dengan organisasi yang sesuai dengan latar belakang, nilai, profesi, serta visi dan misi masing-masing.
“Perempuan-perempuan Indonesia yang ingin bergabung dengan KOWANI dapat memilih organisasi yang sesuai dengan agama, profesi, maupun nilai dan visi-misi yang dirasakan cocok. Itulah KOWANI, wadah perempuan Indonesia,” katanya.
Bawa Warisan Sejarah Perempuan ke UNESCO
Selain memperkuat gerakan perdamaian, KOWANI juga tengah mendorong pelestarian sejarah perjuangan perempuan Indonesia. Salah satunya melalui pengajuan arsip organisasi ke UNESCO dalam program Memory of the World.
Nannie mengatakan semangat persatuan yang ditunjukkan perempuan Indonesia sejak masa perjuangan perlu terus dirawat. Nilai tersebut juga harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, perjuangan perempuan Indonesia pada masa lalu memiliki nilai penting. Para perempuan mampu mempertemukan berbagai kelompok dalam satu semangat persatuan, meski teknologi komunikasi dan transportasi saat itu belum berkembang seperti sekarang.
“Bagaimana mereka bisa sepakat untuk bersama-sama mengadakan kongres. Dari semangat itu yang harus kita kembalikan dan kita ingat,” katanya.
Karena itu, KOWANI mempersiapkan pengajuan arsip dan dokumentasi sejarah organisasi untuk diusulkan dalam program Memory of the World UNESCO.
Baca juga : Kowani Ucapkan Selamat kepada KH Abdul Hakim Mahfudz Jadi Ketum PBNU
“Kami berkomitmen membawa sejarah dan arsip perjuangan KOWANI ke UNESCO melalui program Memory of the World. Mudah-mudahan upaya ini dapat menjadi warisan yang terus dikenang dan dikenal oleh generasi mendatang,” ujar Nannie.
Nannie menjelaskan, arsip KOWANI merekam perjalanan perjuangan perempuan Indonesia. Arsip tersebut masih terus dirawat dan ditata.
“Kami memiliki arsip yang masih terus dirawat dan ditata dengan baik. Arsip tersebut akan kami daftarkan kepada UNESCO untuk diusulkan menjadi bagian dari Memory of the World agar lebih dikenal dunia,” jelas Nannie.
KOWANI saat ini menaungi 119 organisasi perempuan tingkat nasional dengan latar belakang yang beragam. Keberagaman tersebut menjadi kekuatan federasi dalam menyuarakan kepentingan perempuan dan pembangunan bangsa.
“Kalau perjuangan dilakukan dalam federasi, tentu akan lebih terlihat daripada mereka berjuang masing-masing. Itu pemikiran dari para pendahulu kami. Jadi kita tetap harus bersatu untuk kemajuan NKRI,” katanya.
Doa Lintas Agama untuk Perdamaian Dunia
Renungan Malam untuk Perdamaian Dunia di Bundaran HI juga diisi dengan doa lintas agama. KOWANI menghadirkan tokoh dari berbagai agama untuk bersama-sama mendoakan perdamaian dunia dan Indonesia.
Nannie menegaskan, doa lintas agama menjadi wujud kebersamaan untuk memperkuat persaudaraan dan semangat kemanusiaan. Pelaksanaannya tetap menghormati tata ibadah dan keyakinan masing-masing.
“Kita berdoa sesuai keyakinan masing-masing, tetapi berdiri dalam satu semangat kemanusiaan, satu cinta kepada NKRI, dan satu harapan untuk perdamaian,” ujar Nannie.
Baca juga : KOWANI Dorong Kain Nusantara Jadi Kekuatan Budaya Dan Ekonomi Perempuan
Menurutnya, perdamaian perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Caranya dengan saling menghormati, memahami perbedaan, membangun kebersamaan, dan menjaga persaudaraan.
“Tidak ada perbedaan yang menghalangi kita untuk bersatu. Kita bergerak bersama untuk menjaga perdamaian,” katanya.
Nannie mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi perempuan Indonesia dan seluruh unsur masyarakat. Doa dipanjatkan untuk keselamatan, persatuan, ketertiban, dan kemajuan NKRI.
“KOWANI mengajak bersama-sama untuk berdoa bagi kedamaian, perdamaian dunia dan NKRI melalui doa lintas agama untuk negeri. Ada pendeta, romo, ustadz, serta pemimpin agama lainnya,” ujarnya.
Nannie mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi simbol komitmen perempuan Indonesia dalam menyuarakan perdamaian dan persatuan.
“Dari Bundaran HI, perempuan Indonesia menyalakan cahaya perdamaian untuk negeri dan dunia,” katanya.
Ia berharap momentum Hari Perdamaian Internasional tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum tersebut diharapkan menjadi pengingat untuk terus menjaga kemanusiaan, kebinekaan, dan persatuan.
“Kegiatan ini menjadi ruang bersama bagi perempuan Indonesia dan seluruh unsur masyarakat untuk memperkuat persaudaraan lintas agama, generasi, profesi, organisasi, dan golongan. Kami ingin meneguhkan komitmen menjaga kemanusiaan, kebinekaan, dan persatuan Indonesia,” pungkas Nannie.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya