Dark/Light Mode

Tempe Menuju UNESCO, KOWANI Gerakkan Pangan Lokal dan Ekonomi Perempuan

Senin, 17 Agustus 2026 15:16 WIB
Peserta mengikuti Fun Walk 10.000 Langkah Sehat dalam rangkaian Tempe Indonesia Goes to UNESCO di halaman Kantor KOWANI, Jakarta, Minggu (9/8/2026). Dok. Ist
Peserta mengikuti Fun Walk 10.000 Langkah Sehat dalam rangkaian Tempe Indonesia Goes to UNESCO di halaman Kantor KOWANI, Jakarta, Minggu (9/8/2026). Dok. Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) memperkuat gerakan Tempe Indonesia Goes to UNESCO melalui rangkaian kegiatan yang memadukan pelestarian budaya, ketahanan pangan, pemberdayaan perempuan, kesehatan, dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Gerakan tersebut dikemas dalam KOWANI Goes to UNESCO – Memory of the World yang digelar di halaman Kantor KOWANI, Jalan Imam Bonjol No. 58, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Lebih dari 1.000 peserta ikut meramaikan rangkaian kegiatan.

Agenda utama diisi Fun Walk 10.000 Langkah Sehat dengan rute dari halaman Kantor KOWANI menuju kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan kembali ke titik awal.

Ketua Umum KOWANI Nannie Hadi Tjahjanto mengatakan, tempe memiliki potensi besar untuk dikembangkan bukan hanya sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari ketahanan pangan dan sumber peluang ekonomi masyarakat, khususnya perempuan.

Menurut Nannie, pengembangan tempe dapat dilakukan melalui diversifikasi bahan baku. Selain kedelai, tempe dapat dikembangkan dengan memanfaatkan sorgum dan berbagai jenis kacang-kacangan.

Diversifikasi tersebut dinilai dapat melahirkan beragam produk olahan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi perempuan.

“Tempe bukan hanya pangan, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber penghidupan keluarga,” ujar Nannie.

Dia menilai penguatan ekonomi perempuan merupakan bagian penting dalam membangun ketahanan keluarga. Melalui keterampilan, pelatihan, kursus, dan sertifikasi, perempuan diharapkan mampu bekerja maupun mengembangkan usaha secara mandiri.

Deklarasi Tempe Menuju UNESCO

Salah satu agenda utama kegiatan tersebut adalah Deklarasi Nasional Tempe Indonesia Goes to UNESCO. KOWANI mendorong penguatan tempe sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang memiliki nilai historis, sosial, ekonomi, dan pangan.

Baca juga : KOWANI Ajak Masyarakat Gotong Royong Bantu Korban Gempa NTT

Nannie mengatakan, semakin luasnya pengenalan tempe di berbagai negara menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat pelestarian dan pengakuan terhadap tradisi yang berkaitan dengan tempe.

Menurutnya, gerakan menuju UNESCO bukan sekadar mengejar pengakuan internasional. Lebih dari itu, upaya tersebut ditujukan untuk memastikan pengetahuan, keterampilan, dan tradisi pembuatan tempe tetap hidup serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tempe juga memiliki ekosistem yang luas, mulai dari petani dan penyedia bahan baku, perajin, pelaku UMKM, industri pengolahan hingga konsumen. Karena itu, penguatan tempe dinilai dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

“Kalau kita tidak bergerak cepat, sementara tempe semakin dikenal di berbagai negara, kita bisa tertinggal. Karena itu, tempe perlu terus kita dukung menuju UNESCO,” kata Nannie.

Pangan Lokal Jadi Kekuatan Ekonomi

Selain tempe, KOWANI mengangkat komoditas pangan lokal lainnya melalui Nusantara Festival Sorgum dan Nusantara Festival Cassava.

Kedua festival tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong diversifikasi pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.

Nannie mengatakan, pengembangan pangan seperti sorgum dapat memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus memperluas pilihan pangan masyarakat. Sementara singkong atau cassava memiliki potensi diolah menjadi berbagai produk pangan bernilai ekonomi.

Melalui Nusantara Cooking Experience, masyarakat juga diajak melihat berbagai cara mengolah bahan pangan lokal menjadi produk makanan yang lebih beragam.

KOWANI menilai pengembangan pangan lokal perlu berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat, terutama perempuan dan pelaku UMKM. Inovasi dan akses pasar yang lebih luas diharapkan dapat menjadikan pangan lokal sebagai sumber penghasilan baru.

Gerakan Pangan Murah

Baca juga : KOWANI Perkuat Kaderisasi Perempuan melalui Gerakan Kepramukaan

Rangkaian kegiatan juga diisi Gerakan Pangan Murah untuk mendukung stabilisasi pasokan dan harga pangan.

Sejumlah kebutuhan pokok tersedia dengan harga relatif terjangkau, antara lain beras SPHP sekitar Rp12 ribu per kilogram, beras premium Rp14.900 per kilogram, gula pasir Rp17 ribu per kilogram, Minyakita Rp15.500 per liter, bawang putih Rp30 ribu per kilogram, bawang merah Rp40 ribu per kilogram, serta cabai merah keriting Rp40 ribu per kilogram.

Selain itu, tersedia cabai rawit merah sekitar Rp45 ribu per kilogram, daging ayam Rp36 ribu per kilogram, daging sapi Rp114 ribu per kilogram, telur ayam Rp24 ribu per kilogram dan tepung terigu sekitar Rp12 ribu per kilogram.

Harga tersebut merupakan harga dalam pelaksanaan Gerakan Pangan Murah dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Kehadiran Gerakan Pangan Murah menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya menyangkut produksi, tetapi juga keterjangkauan pangan bagi masyarakat serta stabilitas pasokan dan harga.

Dorong Kebaya dan Ekonomi Kreatif

KOWANI juga mendorong pelestarian kebaya sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia. Kebaya yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dinilai memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi kreatif.

Nannie mengatakan, ekosistem kebaya dapat melibatkan berbagai pelaku UMKM, mulai dari fesyen, aksesori, tata rias, kerajinan hingga produk pendukung lainnya.

Pelestarian budaya tersebut juga diarahkan untuk melibatkan generasi muda agar kebaya tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Pangan, Kesehatan dan Pemberdayaan

Aspek kesehatan turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan KOWANI. Peserta dapat mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis serta mendapatkan edukasi mengenai gizi dan pencegahan stunting.

Menurut KOWANI, ketahanan keluarga tidak hanya dibangun melalui kemandirian ekonomi dan ketersediaan pangan, tetapi juga pengetahuan mengenai kesehatan dan gizi.

Baca juga : KOWANI Luncurkan Gerakan Inovasi Singkong Berbasis Perempuan

Sementara itu, pameran koperasi dan UMKM serta business matching memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, membangun jejaring dan membuka peluang kerja sama.

Berbagai agenda tersebut mempertemukan aspek pangan, budaya, kesehatan dan ekonomi dalam satu rangkaian pemberdayaan masyarakat.

Libatkan Lintas Sektor

Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pemberdayaan Masyarakat, Badan Pangan Nasional serta berbagai pihak lainnya.

KOWANI juga melibatkan organisasi perempuan, komunitas, pelaku UMKM, dunia usaha dan pemangku kepentingan untuk memperkuat gerakan ketahanan pangan serta pelestarian budaya Indonesia.

Selain Fun Walk, rangkaian acara diisi Deklarasi Nasional Tempe Indonesia Goes to UNESCO, Festival Tempe, Nusantara Festival Sorgum, Nusantara Festival Cassava, Nusantara Cooking Experience, pameran koperasi dan UMKM, Senam Tai Chi, pemeriksaan kesehatan gratis, edukasi gizi, business matching, kegiatan interaktif, door prize serta pembagian bibit pohon produktif.

Melalui gerakan Tempe Indonesia Goes to UNESCO, KOWANI ingin menempatkan tempe dan pangan lokal Indonesia bukan hanya sebagai kekayaan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat dan ketahanan keluarga.

Gerakan tersebut diharapkan membuka peluang bagi pengembangan pangan lokal, pemberdayaan perempuan, penguatan UMKM, peningkatan kesejahteraan petani serta pengenalan kekayaan pangan Indonesia ke tingkat global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.