Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Kabar Haji Isam Pimpin Operasi Karhutla Dibantah Mensesneg: Tidak Benar Itu!
- Selain Upah Pungut, KPK Juga Usut Dugaan Korupsi Proyek di Kabupaten Bogor
- Cegah Karhutla Meluas, 8 Desa Di Cengal Perkuat Sinergi
- Prabowo Dan Jokowi Jadi Saksi Akad Nikah Kasespri Rizky Irmansyah
- KPK: OTT Rektor Unsoed Jadi Momentum Perkuat Integritas Perguruan Tinggi
KOWANI-PIM-PPMI Bersatu Lestarikan Budaya Dan Perkuat Ekonomi Perempuan
Minggu, 23 Agustus 2026 19:35 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Semangat persatuan dan kolaborasi perempuan Indonesia diwujudkan melalui Festival Merah Putih yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta, Minggu (23/8/2026). Kegiatan ini mempertemukan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Perkumpulan Perempuan Indonesia Maju (PIM), dan Perkumpulan Perempuan Minang Indonesia (PPMI).
Festival tersebut mengangkat sejumlah isu yang dekat dengan perempuan, mulai dari pelestarian budaya, pemberdayaan perempuan, hingga penguatan ekonomi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sejumlah pimpinan dan tokoh organisasi perempuan hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Ketua Umum KOWANI Periode 2024–2029 Nannie Hadi Tjahjanto, Ketua Umum PIM Lana T. Koentjoro, Ketua Umum PPMI Bundo Suherni Syam, Pembina DPP PIM Tantri Relatami, Rektor UNIPI sekaligus Dewan Pembina DPP PIM Prof. Dr. Francisca Sestri, Dewan Pengawas DPP PIM Soraya Togas, serta Ketua Umum BPP HIPMI Womenpreneur Aisyah Melissa Hamid.
Rangkaian Festival Merah Putih diisi Parade Kebaya Merah Putih, talk show, pertunjukan seni, special show, dan fashion show. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak dan generasi muda.
Ketua Umum PIM Lana T. Koentjoro mengatakan Festival Merah Putih menjadi momentum memperkuat silaturahmi dan kerja sama antarelemen perempuan Indonesia. Menurut Lana, perbedaan latar belakang organisasi justru dapat menjadi kekuatan ketika disatukan dalam kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Ketika perempuan dari berbagai latar belakang dan organisasi dapat duduk bersama, bekerja bersama, dan menghadirkan kegiatan yang positif, tentu akan memberikan energi yang besar bagi kemajuan perempuan dan bangsa Indonesia,” ujar Lana.
Dia menjelaskan, gagasan Festival Merah Putih bermula dari komunikasi dengan Ketua Umum PPMI Bundo Suherni Syam. Dari komunikasi tersebut, kolaborasi kemudian berkembang menjadi kegiatan yang melibatkan berbagai unsur organisasi perempuan.
Lana menilai keterlibatan anak-anak dan generasi muda menjadi bagian penting dalam festival. Sebab, generasi tersebut memiliki peran strategis dalam meneruskan nilai-nilai budaya Indonesia.
“Melalui kegiatan seperti ini kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap budaya, persatuan, dan Indonesia sejak dini,” katanya.
Kebaya Bukan Sekadar Warisan Budaya
Baca juga : Unjuk Gigi di KKI 2026, 30 UMKM Binaan BI DKI Siap Tembus Pasar Global
Ketua Umum KOWANI Periode 2024–2029 Nannie Hadi Tjahjanto mengatakan pelestarian kebaya tidak sebatas menjaga warisan budaya. Kebaya juga memiliki potensi menggerakkan ekonomi karena melibatkan pengrajin, penjahit, desainer, hingga pelaku UMKM. Menurut Nannie, pengembangan kebaya berkaitan dengan berbagai sektor, mulai pendidikan, kesehatan, kewirausahaan, industri kreatif hingga penguatan ekonomi masyarakat.
“Saya yakin kegiatan seperti ini memberikan dampak yang kuat, terutama karena tidak hanya berbicara tentang kebaya dan budaya, tetapi juga berkaitan erat dengan pemberdayaan perempuan, UMKM, pendidikan, kesehatan, serta penguatan ekonomi masyarakat,” ujar Nannie.
Dia mengapresiasi para desainer dan pelaku industri kreatif yang terus mengembangkan kebaya serta busana Indonesia. Menurutnya, parade, pameran, dan kegiatan budaya dapat menjadi ruang memperkenalkan karya sekaligus membuka peluang pasar bagi pelaku UMKM. Karena itu, Nannie berharap gerakan berkebaya tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dikembangkan secara berkelanjutan dan diperluas ke berbagai daerah.
“Kita harus terus bersinergi dan berkolaborasi. Kegiatan-kegiatan seperti ini jangan berhenti hanya pada satu acara, tetapi harus terus dilanjutkan, dikembangkan, dan dibawa ke berbagai daerah agar manfaatnya semakin luas,” katanya.
Nannie juga menilai pemberdayaan UMKM perempuan perlu dibarengi edukasi dan inovasi. Pelaku usaha perlu memiliki kemampuan melakukan diversifikasi produk, mengembangkan usaha, memanfaatkan teknologi, hingga menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Di sisi lain, pengenalan kebaya kepada masyarakat dinilai tidak harus dilakukan melalui kewajiban. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran dan kebanggaan terhadap kebaya sebagai bagian dari identitas bangsa.
“Kita tidak harus selalu mewajibkan perempuan memakai kebaya. Yang jauh lebih penting adalah membangun kesadaran dan kebanggaan. Ketika perempuan Indonesia melihat bahwa kebaya itu cantik, anggun, nyaman, dan bisa digunakan dalam berbagai kesempatan, saya yakin mereka akan dengan sendirinya tertarik untuk mengenakannya,” jelasnya.
Semakin banyak perempuan mengenakan kebaya, kata Nannie, semakin besar pula peluang ekonomi yang terbuka bagi pengrajin, penjahit, desainer, dan pelaku UMKM.
Baca juga : Rumah BUMN BRI Antar Keripik Pisang Lokal Tembus Malaysia & Hong Kong
“Kita sekaligus memberikan kesempatan kepada UMKM, pengrajin, penjahit, dan para desainer kebaya untuk terus tumbuh dan berkembang,” ujarnya.
Dia menambahkan, pengenalan kebaya kepada generasi muda perlu dilakukan sejak dini, termasuk melalui lingkungan pendidikan. Salah satunya dengan mengenalkan penggunaan kebaya pada hari tertentu di sekolah agar anak-anak terbiasa melihat dan mengenal busana tradisional Indonesia.
“Kalau anak-anak kita sudah terbiasa melihat, mengenal, dan memakai kebaya, mereka akan tumbuh dengan rasa bangga terhadap budaya Indonesia,” tuturnya.
Nannie menegaskan pelestarian kebaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai organisasi perempuan, pelaku UMKM, desainer, dunia pendidikan hingga masyarakat.
“Kebaya bukan sekadar busana. Kebaya adalah identitas, budaya, sejarah, sekaligus peluang ekonomi bagi perempuan Indonesia,” pungkas Nannie.
PPMI: Perempuan Harus Mandiri dan Berdaya Saing
Ketua Umum PPMI Bundo Suherni Syam mengapresiasi kolaborasi yang terbangun antara PPMI dan PIM. Menurutnya, kerja sama tersebut menunjukkan perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk membangun gerakan bersama. Dia menilai perempuan Indonesia memiliki kekuatan besar ketika mampu bersatu, membangun jejaring, dan saling mendukung dalam berbagai bidang.
“Kaum perempuan kalau bersatu, kita akan kuat. Melalui festival ini, jaringan UMKM perempuan di bawah naungan PPMI juga turut dilibatkan untuk diangkat derajat ekonominya secara nyata,” ujar Bundo Suherni.
Menurutnya, semangat kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui peringatan sejarah perjuangan bangsa. Semangat tersebut juga dapat diwujudkan melalui langkah nyata menggerakkan ekonomi kerakyatan, memperkuat kemandirian perempuan, serta menjaga keberagaman dan kekayaan budaya Nusantara.
Baca juga : Produk UMKM Asal Sumut Tembus Pasar Global Berkat Pemberdayaan BRI
Melalui Festival Merah Putih, PPMI mendorong perempuan Indonesia agar semakin mandiri, tangguh, kreatif, dan memiliki daya saing. Perempuan dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun keluarga, menggerakkan perekonomian, sekaligus menjaga nilai-nilai budaya dan keberagaman Indonesia. Bundo Suherni berharap kolaborasi antarlembaga perempuan dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat lebih luas.
“Semoga kolaborasi ini membawa keberkahan, menguatkan cita-cita bersama, serta menjadi inspirasi bagi semakin banyak perempuan Indonesia untuk terus berkarya, berdaya, dan memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara,” katanya.
Festival Merah Putih turut mendapat dukungan dari sejumlah pihak, di antaranya Sudin dan Wanda, Bank Jakarta, serta Hotel Borobudur Jakarta.
Kolaborasi melalui Festival Merah Putih juga diarahkan pada penguatan program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan perempuan dan anak. Lana mengatakan PIM telah memiliki Lembaga Bantuan Hukum (LBH) PIM yang memberikan pendampingan dan bantuan hukum bagi perempuan dan anak. PIM juga memperbarui website resminya untuk memudahkan masyarakat memperoleh informasi mengenai profil organisasi, kegiatan, dan program. Platform tersebut sekaligus menjadi sarana promosi bagi UMKM dan memperluas jejaring organisasi perempuan secara nasional.
“Kita juga mengajak seluruh organisasi perempuan untuk saling mendukung melalui berbagai kanal komunikasi dan media sosial. Mari kita follow, like, dan sebarkan berbagai kegiatan positif yang dilakukan organisasi perempuan di Indonesia,” ujar Lana.
Menurutnya, berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perempuan yang lebih kuat, tidak hanya dalam bidang budaya, tetapi juga hukum, ekonomi, teknologi, dan pendidikan.
Festival Merah Putih menunjukkan kolaborasi organisasi perempuan dapat diarahkan pada berbagai agenda sekaligus. Pelestarian budaya, penguatan UMKM, perlindungan perempuan dan anak, serta peningkatan kapasitas generasi muda dapat berjalan dalam satu semangat kebersamaan.
“Tujuan kita sama, yaitu membangun persatuan, memperkuat peran perempuan, dan bersama-sama memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia yang kita cintai,” kata Lana.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya