Dark/Light Mode

Benarkah Gunung Anak Krakatau Kini Punya Cucu? Simak Penjelasan Ahli

Rabu, 23 September 2026 21:48 WIB
Daratan baru terbentuk di antara daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, pasca erupsi besar Anak Krakatau. (Foto: IG @daryono_edukator_kebencanaan)
Daratan baru terbentuk di antara daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, pasca erupsi besar Anak Krakatau. (Foto: IG @daryono_edukator_kebencanaan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kemunculan daratan baru di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, menghebohkan publik. Fenomena tersebut bahkan memunculkan spekulasi bahwa daratan baru itu merupakan gunung api baru yang dijuluki “cucu Krakatau”.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono memberikan penjelasan mengenai fenomena tersebut. Menurutnya, daratan baru itu bukan gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut.

"Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen. Daratan ini merupakan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut," jelas Daryono melalui akun Instagram pribadinya, Rabu (23/9/2026).

Menurutnya, proses penumpukan ini berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas gunung tersebut, hingga akhirnya endapan menyembul ke permukaan air.

Daryono yang juga mantan Direktur Gempa bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut terbentuknya daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor geologis dan oseanografis.

Dasar laut di area kaldera purba sisa letusan 1883 tersebut tergolong dangkal, sehingga material erupsi lebih cepat menumpuk tinggi.

Baca juga : Malam Ini, Status Gunung Anak Krakatau Turun Ke Level II Waspada

Selain itu, lontaran piroklastik dan aliran lava selama erupsi memang dominan terlempar ke arah sektor tersebut.

Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda juga berperan penting sebagai pemindah sedimentasi, yang membawa material erosi ringan ke titik-titik perairan yang lebih tenang hingga mengendap secara permanen.

Apakah daratan ini bisa membesar atau justru lenyap kembali?

"Jawabannya sangat bergantung pada pertarungan antara aktivitas vulkanik dan erosi alam. Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, pasokan material baru akan membuat daratan tersebut makin meluas," jelas Daryono.

"Ketahanannya akan makin kokoh, apabila terlapisi lava cair yang membeku menjadi batuan keras," lanjutnya.

Sebaliknya, jika erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan pasir yang belum padat hingga tenggelam kembali.

Baca juga : Heboh Kawah Anak Krakatau Mirip Telur Ceplok, Ini Penjelasan Ahli

Longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar juga bisa menghancurkan struktur muda ini dalam waktu singkat.

Syarat Geologis Gunung Api Baru

Daryono mengatakan, ada tiga syarat geologis utama yang harus dipenuhi oleh suatu daratan, agar dapat dikategorikan sebagai gunung api baru yang berdiri sendiri.

Pertama, daratan tersebut harus memiliki saluran magma mandiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui rekahan baru, terpisah dari kawah induknya.

Kedua, daratan itu wajib menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri, dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya. Bukan sekadar menampung muntahan dari gunung tetangga.

Ketiga, harus terdapat struktur geologis serta deformasi sendiri, yaitu adanya aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.

"Menghadapi fenomena ini, masyarakat diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu spekulatif yang beredar di media sosial," tutur Daryono. 

Baca juga : Tabur Bunga, Penghormatan untuk Jurnalis dan Awak Kapal Hilang

"Kemunculan daratan baru ini adalah proses sedimentasi vulkanik yang lumrah di kawasan gunung api aktif," imbuhnya.

Menurut Daryono, langkah paling bijak yang perlu dilakukan adalah selalu menyaring informasi melalui sumber resmi seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Dengan memahami sains di balik fenomena ini, kita dapat tetap tenang, tidak panik, dan selalu mematuhi rekomendasi jarak aman yang ditetapkan oleh petugas di lapangan," pungkasnya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.