Dark/Light Mode

Memorial Lecture 100 Tahun Frans Seda Soroti Tantangan Ekonomi Indonesia

Selasa, 6 Oktober 2026 16:17 WIB
Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda bertajuk Kebijakan Ekonomi di Masa Sulit: Pelajaran dari Krisis, Geopolitik, dan Tekanan Struktural yang digelar Frans Seda Foundation bersama Atma Jaya Institute of Public Policy (AJIPP) di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Foto: AJIPP
Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda bertajuk Kebijakan Ekonomi di Masa Sulit: Pelajaran dari Krisis, Geopolitik, dan Tekanan Struktural yang digelar Frans Seda Foundation bersama Atma Jaya Institute of Public Policy (AJIPP) di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Foto: AJIPP

 Sebelumnya 
Sementara itu, Menkeu Suahasil Nazara menyoroti kebijakan Frans Seda dalam membuka investasi asing sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi.

Menurutnya, pengalaman tersebut relevan dengan perdebatan mengenai batas antara nasionalisme ekonomi dan keterbukaan di tengah tren hilirisasi serta meningkatnya proteksionisme global.

"Ketika dipercaya menjadi Menteri Keuangan pada 1966, beliau memimpin Indonesia dalam kondisi yang sangat berat, dengan hiperinflasi lebih dari 650 persen, cadangan devisa yang habis, ekspor yang tertahan, dan beban utang luar negeri yang sangat besar," ujar Suahasil.

Ia mengatakan disiplin anggaran, penataan utang, dan kebijakan stabilisasi turut meletakkan fondasi bagi pemulihan ekonomi dan pemulihan kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia.

Baca juga : Aksi Plogging Ajak Warga Peduli Lingkungan

Dinna Prapto Raharja kemudian mengaitkan pengalaman Frans Seda dalam menghadapi dinamika geopolitik pada era Perang Dingin dengan kondisi global saat ini.

Menurutnya, Indonesia perlu mempertahankan ruang untuk merumuskan kebijakan sesuai kepentingan nasional di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China serta perubahan tata kelola ekonomi global.

"Kebijakan yang berdaulat berarti Indonesia memiliki ruang dan kepercayaan kolektif untuk menentukan kebijakan yang sesuai dengan kepentingan nasionalnya," sebut Dinna.

Ia menilai ketidakpastian global saat ini perlu diantisipasi melalui kebijakan ekonomi, diplomasi, dan pembangunan yang lebih strategis sehingga tidak hanya bersifat reaktif.

Baca juga : Unika Atma Jaya Pastikan Mahasiswa Disabilitas Bisa Belajar Dengan Setara

Sementara itu, A. Prasetyantoko menyoroti krisis sebagai momentum untuk melakukan reformasi kebijakan dan kelembagaan. Menurutnya, tantangan utama adalah memastikan teknokrasi tetap berintegritas dan kebijakan ekonomi tetap berorientasi pada kepentingan publik serta keadilan sosial.

"Krisis selalu membawa tekanan, tetapi pada saat yang sama juga dapat membuka peluang untuk melakukan reformasi," ujar Prasetyantoko.

Direktur AJIPP, Salvatore Simarmata menuturkan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempertemukan pengetahuan, nilai, dan kebutuhan kebijakan publik.

Menurutnya, Frans Seda memberikan pelajaran bahwa kebijakan yang baik membutuhkan penguasaan teknis, keberanian mengambil keputusan untuk kepentingan jangka panjang, serta keterbukaan dalam menjelaskan pilihan sulit kepada publik.

Baca juga : Menghidupkan Spirit Bandung, Menjawab Tantangan Abad 21 Untuk Generasi Muda

Melalui Memorial Lecture tersebut, AJIPP dan Frans Seda Foundation berharap pemikiran Frans Seda dapat terus menjadi bahan refleksi dalam penyusunan kebijakan ekonomi Indonesia yang berbasis pengetahuan, inklusif, dan memperhatikan kepentingan masyarakat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.