Dark/Light Mode

BNPT Beberkan Fakta Keprihatinan

620 Anak & Remaja Terpapar Ekstremisme Di Ruang Digital

Jumat, 9 Oktober 2026 06:50 WIB
Kepala BNPT Eddy Hartono. (Foto: Dok. RM.id)
Kepala BNPT Eddy Hartono. (Foto: Dok. RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, sebanyak 620 anak dan remaja dengan rentang usia 11-18 tahun di 34 provinsi teridentifikasi terpapar ekstremisme dan ideologi kekerasan melalui ruang digital. Mereka terpapar di berbagai forum dan komunitas digital, termasuk ekosistem True Crime Community (TCC).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono mengatakan, fakta tersebut menunjukkan pentingnya pencegahan paparan terorisme dilakukan sedini mungkin. Dia mengatakan, anak tidak bisa dilihat hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan sosial yang turut memengaruhi perkembangan perilakunya.

“Anak-anak ini kami sentuh dengan rehabilitasi dulu dengan pendekatan mikroekologi anak. Artinya, melibatkan lingkungan terdekat anak yang mencakup orang tua, sekolah/kampus, serta masyarakat sekitar,” jelas Eddy di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Eddy menjelaskan, True Crime Community atau TCC pada dasarnya bukan jaringan terorisme. Namun, perubahan perilaku ketika anak mulai menormalisasi atau bahkan mengglorifikasi kekerasan menjadi hal yang perlu diwaspadai.

“Ketika anak mulai terlihat perubahan perilaku yang mengarah pada normalisasi kekerasan, itu harus diwaspadai,” imbaunya.

Baca juga : PPP Jabar Ajak Seluruh Kader Sudahi Konflik

Ruang digital, diakui Eddy, sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Namun, ruang yang sama juga dapat menjadi pintu masuk paparan konten kekerasan dan ideologi ekstremisme.

“Karena itu, BNPT mendorong pendekatan kolaboratif untuk mencegah ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme, khususnya yang menyasar anak dan remaja,” katanya.

Salah satu langkahnya dilakukan dengan menggandeng 13 perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BNPT dan pimpinan 13 perguruan tinggi di DIY di Sleman, Yogyakarta, Jumat (2/10/2026).

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang pendidikan, dialog, dan pengembangan berpikir kritis. Kampus juga diharapkan menjadi lingkungan yang mampu membangun ketahanan generasi muda dan kelompok rentan terhadap pengaruh ideologi kekerasan.

Eddy menegaskan, upaya pencegahan tidak dapat dilakukan Pemerintah sendirian. Perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan generasi muda sekaligus memiliki kapasitas pengetahuan untuk membaca perubahan sosial, termasuk perkembangan ancaman di ruang digital.

Baca juga : Proyek Infrastruktur Vital Butuh Kepastian Anggaran

“Mari kita jaga Jogja, jangan sampai anak-anak kita terpapar. Generasi mereka aktif di ruang digital ini perlu kita jaga bersama melalui kolaborasi dan sumbang pikir para rektor agar langkah mitigasi ini berjalan efektif dan tidak sia-sia,” tegas Eddy.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY Lilik Andi Aryanto menyambut baik kolaborasi BNPT dengan perguruan tinggi tersebut. Dia mengatakan, kegiatan ini meneguhkan komitmen bersama dalam penanggulangan terorisme dengan mempertemukan dua kekuatan penting.

“Yakni, kapasitas negara dalam melindungi masyarakat dan kapasitas perguruan tinggi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta memahami dinamika manusia,” ujarnya.

Lilik menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun cara masyarakat menyikapi perbedaan. Kampus merupakan ruang tempat pengetahuan diuji, perbedaan dipertemukan, dan argumentasi diperdebatkan secara sehat.

“Penguatan pendidikan karakter dan kemampuan berpikir kritis menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang mampu menghadapi berbagai pengaruh di tengah perubahan lingkungan sosial dan digital,” katanya.

Baca juga : Skandal Mantan Bos Milan

Lilik berharap perguruan tinggi di Yogyakarta dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga jernih dalam bernalar, luas dalam kemanusiaan, dan kukuh dalam menjaga kehidupan bersama.

“Perguruan tinggi tidak hanya ditempatkan sebagai penerima program, tetapi sebagai mitra strategis BNPT dalam membangun sistem pencegahan berbasis pengetahuan, lingkungan sosial, dan partisipasi masyarakat,” harapnya.

BNPT bersama perguruan tinggi di DIY akan terus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman bagi generasi muda untuk belajar, berdialog, mengembangkan daya kritis, serta menghargai perbedaan.

“Kami berharap kegiatan ini mampu memperkuat ketahanan masyarakat dan memastikan pencegahan ekstremisme dilakukan sedini mungkin, sebelum paparan berkembang menjadi perilaku kekerasan,” tandas Lilik. [BSH]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.