Dark/Light Mode

Babak Baru Pendidikan Indonesia

Negara Perluas Kesempatan, YPKBI Perkuat Keunggulan

Kamis, 15 Oktober 2026 21:41 WIB
Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS (kanan). [Foto: Dok]
Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS (kanan). [Foto: Dok]

 Sebelumnya 
Dirgayuza juga menekankan pentingnya keterlibatan dunia usaha dan donatur untuk mendukung keberlanjutan beasiswa. “Harapannya, semakin banyak putra-putri terbaik bangsa bisa mengenyam pendidikan kelas dunia, tanpa terhambat faktor ekonomi,” jelasnya.

Sebagai akademisi yang juga terlibat dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, Devie melihat pendidikan sebagai salah satu instrumen paling penting untuk membuka mobilitas sosial. “Kecerdasan tidak memilih tempat lahir. Bakat tidak mengenal tingkat penghasilan. Karena itu, kesempatan pendidikan tidak boleh menjadi hak istimewa yang hanya diwariskan oleh keluarga mampu.” Salah satu pengembangan pendidikan dalam ekosistem YPKBI adalah SMA Kemala Taruna Bhayangkara, melalui kolaborasi dengan Yayasan Kemala Bhayangkari dan Polri. Sekolah unggulan berasrama tersebut dikembangkan dengan orientasi pendidikan berstandar internasional, pembinaan karakter, dan pemberian beasiswa penuh bagi siswa terpilih.

Murid KTB berasal dari penjaringan talenta melalui jaringan Akademi Kader Bangsa, yang telah melibatkan lebih dari 25.000 calon siswa dari 38 provinsi. YPKBI menggunakan Nusantara Standard Test (NST) sebagai salah satu instrumen penilaian akademik, dengan prinsip needs-blind admission yang tidak menjadikan kemampuan finansial keluarga sebagai dasar penerimaan. Besarnya minat masyarakat terhadap SMA Kemala Taruna Bhayangkara menjadi salah satu indikator tingginya kebutuhan pendidikan unggulan yang dapat diakses melalui beasiswa.

Baca juga : Akademisi UI Bawa Gagasan Indonesia: Dunia Punya AI, Kita Punya Ngopi

Dalam seleksi tahun ajaran 2026/2027, penyelenggara melaporkan sekitar 17.000 pendaftar, dengan sekitar 14.000 peserta mengikuti tes potensi akademik tahap pertama. Dari proses tersebut, 3.000 peserta dengan nilai terbaik melanjutkan ke tahap berikutnya, sebelum proses seleksi berlanjut melalui asesmen yang lebih mendalam. Pada April 2026, penyelenggara menetapkan 180 siswa yang lulus seleksi akhir untuk tahun ajaran 2026/2027.

“Dari ribuan anak yang mengikuti seleksi, kita memperoleh satu pesan penting bahwa Indonesia tidak kekurangan talenta. Tantangannya adalah memperbanyak kesempatan agar semakin banyak anak berpotensi memperoleh ruang untuk tumbuh,” ujar Devie, yang pernah mempresentasikan hasil penelitian digitalnya di Universitas Leiden, Belanda ini.

Menurut Devie, kematangan ekosistem pendidikan dapat dilihat dari kemampuan membangun sistem, bukan hanya jumlah sekolah atau kemegahan fasilitas. Dalam hal ini, YPKBI mengembangkan tiga pilar utama. Pertama, Akademi Kader Bangsa, sebagai jaringan sekolah unggulan dengan orientasi pendidikan internasional dan pengembangan kepemimpinan. Kedua, Akademi Guru Kader Bangsa, yang berfokus pada peningkatan kapasitas tenaga pendidik melalui pelatihan pedagogi dan persiapan pengajaran kurikulum IB, dimana sebanyak 47 guru awal telah mengikuti Category 1 Workshop IB.

Baca juga : Sudahkah Indonesia Mengubah Kekayaannya Menjadi Kekuatan Digital?

Ketiga, Nusantara Standard Test, yang dikembangkan sebagai instrumen seleksi akademik untuk menjaring potensi siswa secara lebih objektif. “Tujuan pendidikan internasional bukan membuat anak Indonesia kehilangan identitasnya. Justru sebaliknya, pendidikan internasional harus memberi mereka kemampuan membawa identitas Indonesia dengan percaya diri dalam percakapan dunia,” ujar Devie.

Kekuatan lain di YPKBI adalah keberadaan jejaring mitra dan pendukung dari berbagai sektor. Dalam ekosistem pengembangan sekolah, profil yayasan mencantumkan antara lain International Baccalaureate, LPDP, DLR Group, Google for Education, dan sejumlah mitra teknologi serta infrastruktur pendidikan. Kehadiran berbagai organisasi dalam kemitraan menunjukkan upaya YPKBI mempertemukan sumber daya pendidikan, teknologi, keahlian profesional, dan filantropi.

“Tidak ada satu institusi yang memiliki seluruh jawaban atas tantangan pendidikan. Perguruan tinggi memiliki pengetahuan, sekolah memiliki pengalaman pembelajaran, dunia usaha memiliki sumber daya, dan masyarakat memiliki aspirasi. Ketika seluruhnya bekerja sama, kapasitas untuk menghadirkan perubahan menjadi jauh lebih besar,” ujarnya.

Baca juga : Waspada Pesan WhatsApp Penipuan Mengatasnamakan Rektor UI Prof. Heri Hermansyah

“Belajar dari dunia bukan berarti menjauh dari Indonesia. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula kesempatan untuk menghadirkan manfaat bagi bangsanya.” Devie menilai pengalaman Global Digital Forum II mempertegas pentingnya mempersiapkan kualitas manusia di tengah perkembangan teknologi.

“Sekolah Rakyat memperluas harapan. Sekolah Garuda membuka jalan menuju keunggulan. YPKBI memperkuat ikhtiar melalui kolaborasi. Perguruan tinggi mengembangkan pengetahuan. Seluruhnya memiliki ruang untuk berkontribusi bagi masa depan Indonesia,” tutup wakil Indonesia di pertemuan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) Paris ini.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.