Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Perluas Akses Pendidikan, Tim Sembilan Luncurkan Gerakan Guru Bangsa
Kamis, 29 Oktober 2026 12:46 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sembilan aktivis yang tergabung dalam Tim Sembilan atau Nawa Guru meluncurkan Gerakan Guru Bangsa di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026).
Mengusung slogan “Setara untuk Indonesia”, gerakan ini berfokus pada perluasan akses pendidikan, advokasi, kepedulian lingkungan, dan pembentukan karakter anak. Dalam gerakan tersebut, siluet Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dipilih sebagai ikon Guru Bangsa.
Para inisiator menilai, semangat pemerataan akses pendidikan, termasuk melalui Program Kartu Indonesia Pintar (KIP), sejalan dengan tujuan gerakan yang ingin memberikan kesempatan belajar setara bagi setiap anak.
Guru Bangsa berawal dari kegelisahan tiga aktivis, yakni Fernando Situmorang (Nando), Mikhail Gorbachev Dom (Gorbachev), dan Norman Lianto (Norman) terhadap berbagai persoalan pendidikan.
Mulai dari keterbatasan akses belajar hingga kekerasan fisik dan verbal serta perundungan terhadap peserta didik. Mereka ingin menghidupkan kembali semangat Nawacita, khususnya dalam perluasan akses layanan pendidikan dan pelatihan, Program Indonesia Pintar, penataan kurikulum nasional, serta pendidikan budi pekerti.
Gerakan ini diharapkan dapat melengkapi program pendidikan yang telah berjalan dan turut menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.
Tim kemudian mengajak sejumlah rekan untuk bergabung, yakni Bun Joi Phiau, anggota DPRD DKI Jakarta; Susy Rizky, pegiat sosial; Yudi Saputra, organisatoris; Santo Feliks, pengacara; Siti Aisah, pakar hukum; serta Maria, pengamat pertahanan.
Baca juga : Dua Tahun Prabowo-Gibran, Kemendikdasmen Perluas Akses-Perkuat Mutu Pendidikan
Bersama tiga inisiator awal, mereka membentuk Tim Sembilan atau Nawa Guru. Para inisiator menegaskan, Guru Bangsa bukan gerakan politik dan tidak berafiliasi dengan partai maupun kelompok politik mana pun.
Gerakan ini terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan Indonesia.
“Gerakan Guru Bangsa ini bukan gerakan politik dan tidak berafiliasi dengan partai, organisasi, atau kelompok politik mana pun. Guru Bangsa juga terbuka untuk bekerja sama dengan siapa saja yang peduli pada pendidikan Indonesia,” ujar para inisiator.
Dalam peluncuran tersebut, Nawa Guru memaparkan sejumlah kegiatan yang telah dilakukan relawan. Mereka mengaku telah menyalurkan ribuan buku dan perlengkapan sekolah kepada siswa yang membutuhkan di berbagai wilayah.
Nando mengatakan, para relawan akan terus bergerak untuk membagikan buku, buku gambar, krayon, dan alat tulis kepada anak-anak sekolah.
“Kami masing-masing sudah bergerak dan akan terus bergerak di daerah untuk menyalurkan buku, buku gambar, krayon, dan alat tulis dari Guru Bangsa kepada anak-anak sekolah,” kata Nando.
Gorbachev menjelaskan, kegiatan menggambar dapat menarik minat anak sekaligus mendorong kreativitas dan kebersamaan. Kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi alternatif positif bagi anak-anak agar tidak terlalu bergantung pada gawai.
Baca juga : 2 Tahun Prabowo-Gibran, Sumbar Policy Forum Apresiasi Pembenahan Pendidikan
Sementara itu, Norman menilai kegiatan mewarnai dapat membantu anak melatih keterampilan motorik, konsentrasi, ketekunan, kreativitas, dan imajinasi.
“Pendidikan juga perlu memberi ruang bagi anak untuk mengolah rasa, bukan hanya mengejar nilai akademik,” katanya.
Joi Phiau menambahkan, sejumlah pihak telah memberikan sumbangan perlengkapan sekolah, termasuk krayon, untuk dibagikan kepada anak-anak.
Guru Bangsa pun membuka kesempatan bagi individu maupun komunitas yang ingin terlibat dalam kegiatan kerelawanan. Susy Rizky mengatakan, minat masyarakat untuk bergabung mulai terlihat. Sejumlah warga di Bekasi, misalnya, menanyakan cara menjadi relawan setelah melihat kegiatan pembagian buku gambar di sekolah.
Nawa Guru berharap jejaring relawan dapat terus berkembang, mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten dan kecamatan. Yudi Saputra menyebut minat untuk bergerak juga telah muncul di sejumlah daerah, termasuk Papua.
Selain kegiatan pendidikan, Guru Bangsa berencana mengembangkan kegiatan sosial sesuai keahlian para relawannya.
Santo Feliks dan Siti Aisah, misalnya, menyampaikan rencana memberikan bantuan hukum gratis bagi masyarakat yang membutuhkan informasi dan pendampingan untuk memahami persoalan hukum.
Baca juga : Jerman Bidik Talenta Unggul Melalui Akademik
Dalam diskusi bersama awak media, Maria menekankan pentingnya pendidikan yang menghargai keberagaman dan berakar pada jati diri bangsa. Dia menyebut pemikiran Ki Hadjar Dewantara sebagai salah satu rujukan penting dalam pendidikan Indonesia.
“Keberagaman adalah keistimewaan bangsa dan akses pendidikan adalah sebuah keniscayaan untuk Indonesia Emas. Guru Bangsa akan terus menyuarakan ‘Setara untuk Indonesia’,” ujar Maria.
Menurut Nawa Guru, kegiatan Guru Bangsa telah berlangsung di sejumlah daerah, antara lain Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Sumatera Utara, serta beberapa kabupaten dan kota lainnya.
Para inisiator berharap, perluasan jejaring relawan dan kolaborasi masyarakat dapat membantu memperluas akses pendidikan, sekaligus memastikan anak-anak dari berbagai latar belakang memperoleh kesempatan belajar dalam lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan mereka.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya