Dark/Light Mode

Bertemu Bapak Mobil Listrik Asia, Wapres Gibran Bahas Inovasi EV RI

Kamis, 29 Oktober 2026 08:37 WIB
Wapres Gibran Rakabuming bertemu Prof. Ching-Chuen Chan, pakar kendaraan listrik kelahiran Magelang, untuk membahas inovasi EV Indonesia di Jakarta, Rabu (28/10/2026). Dok. Setwapres
Wapres Gibran Rakabuming bertemu Prof. Ching-Chuen Chan, pakar kendaraan listrik kelahiran Magelang, untuk membahas inovasi EV Indonesia di Jakarta, Rabu (28/10/2026). Dok. Setwapres

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Presiden Gibran Rakabuming bertemu dengan Prof. Ching-Chuen Chan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (28/10/2026). Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas riset, inovasi, dan pengembangan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia.

Prof. Ching-Chuen Chan bukan akademisi biasa. Ia saat ini menjabat Distinguished Chair Professor of Electric Vehicles and Smart Energy di Hong Kong Polytechnic University. Kiprahnya dalam pengembangan teknologi kendaraan listrik dan energi telah dikenal di tingkat dunia. Karena itu, ia dijuluki “Bapak Mobil Listrik Asia”.

Namun, tak banyak yang tahu bahwa akademisi yang berkiprah di tingkat internasional ini lahir di Magelang, Jawa Tengah. Ia menghabiskan masa balitanya di Indonesia hingga berusia lima tahun.

Chan berkunjung ke Indonesia atas undangan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie. Dalam kunjungan tersebut, ia berbagi pengalaman mengenai pengembangan teknologi kendaraan listrik. Chan juga bertemu dengan Wapres Gibran untuk membahas inovasi dan pengembangan kendaraan listrik di Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, Gibran mengatakan pengembangan kendaraan listrik menjadi perhatian pemerintah. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, termasuk pengembangan sepeda motor listrik.

Menurut Gibran, industri kendaraan listrik di Indonesia mulai berkembang. Pemerintah perlu mempertimbangkan insentif yang tepat untuk meningkatkan minat masyarakat.

Baca juga : Guru Besar Unsoed Apresiasi Wapres Temui Nelayan Cilacap

“Bapak Presiden juga sedang fokus pada sepeda motor listrik. Industrinya sebenarnya sudah mulai melangkah maju. Jadi, kita tinggal melihat insentif apa yang bisa diberikan kepada konsumen,” ujar Gibran.

Gibran menilai Indonesia memiliki sumber daya yang mendukung pengembangan kendaraan listrik. Namun, kemampuan inovasi nasional masih perlu diperkuat. Indonesia perlu menghasilkan teknologi sendiri untuk meningkatkan daya saing industri.

“Kita memiliki semua sumber daya yang dibutuhkan. Namun, dalam hal inovasi, kita masih berada pada tahap yang sangat awal,” ungkap Gibran.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie turut menyoroti pentingnya pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, perguruan tinggi perlu menyesuaikan kurikulum dan memperkuat sertifikasi kompetensi. Langkah ini penting untuk memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik.

Stella menegaskan, pendidikan tinggi juga perlu berperan dalam menciptakan teknologi dalam negeri. Pengembangan sumber daya manusia tidak cukup hanya berorientasi pada kebutuhan tenaga kerja.

“Kementerian kami perlu mendorong perubahan kurikulum dan sertifikasi agar kita dapat memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik. Namun, kita juga harus memberikan perhatian besar pada pengembangan teknologi kita sendiri,” jelas Stella.

Baca juga : Indofarma Perkuat Hilirisasi Biodiversitas Lewat Inovasi & Kolaborasi Riset

Sementara itu, Chan menekankan pentingnya kolaborasi Indonesia dan Tiongkok dalam pengembangan mobilitas listrik. Kerja sama tersebut dapat memperluas pertukaran pengetahuan dan mendorong inovasi di kalangan generasi muda Indonesia.

Menurut Chan, insentif dan dukungan yang tepat diperlukan untuk memacu anak muda menghasilkan terobosan teknologi.

“Untuk mendorong inovasi di kalangan generasi muda Indonesia, perlu ada insentif yang dapat memacu mereka untuk berinovasi,” tutur Chan.

Chan juga mengingatkan Indonesia agar tidak hanya mengandalkan pembelian teknologi dari negara lain. Menurutnya, penguasaan teknologi unggulan harus dibangun melalui riset, pengembangan, dan inovasi secara mandiri.

“Kita tidak bisa berharap negara lain memberikan teknologi terbaiknya. Mereka bisa menjual teknologi kepada kita, tetapi teknologi yang dijual itu belum tentu merupakan teknologi kelas satu. Yang bisa kita beli mungkin teknologi kelas dua atau tiga,” jelas Chan.

Ia menegaskan, Indonesia perlu membangun kemampuan sendiri untuk menghasilkan teknologi unggulan.

Baca juga : Gibran Kawal Solar Subsidi Hingga Pengerukan Sungai

“Teknologi kelas satu harus kita bangun sendiri. Karena itu, dorong generasi muda untuk berinovasi. Teknologi tidak bisa sekadar dibeli,” sambungnya.

Dalam pertemuan tersebut, General Manager International Academicians Science and Technology Innovation Centre (IASTIC) Indonesia Adrianto Gani menyampaikan inisiatif untuk mendorong peralihan sepeda motor berbahan bakar bensin ke kendaraan listrik. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM). Pemanfaatan energi alternatif, termasuk energi surya, juga menjadi perhatian.

“Kita akan mengurangi ketergantungan terhadap BBM sebagai bahan bakar sepeda motor dan menggantinya dengan energi baru, seperti energi matahari,” tandas Adrianto.

Pertemuan tersebut menyoroti pentingnya sinergi pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dan industri dalam mengembangkan kendaraan listrik nasional. Penguatan riset, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, dan dukungan terhadap inovasi generasi muda diharapkan memperkuat kemandirian teknologi Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.