Dark/Light Mode

Diskusi Di RSIS NTU

Ibas Tekankan Kebijakan Jangka Panjang, Kolaborasi Indonesia-Singapura Dan ASEAN

Jumat, 9 Oktober 2026 16:39 WIB
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam diskusi bersama para akademisi dan peneliti di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapura, Rabu (7/10/2026). Foto: MPR RI
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam diskusi bersama para akademisi dan peneliti di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapura, Rabu (7/10/2026). Foto: MPR RI

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menekankan pentingnya kepemimpinan yang bervisi, keberlanjutan kebijakan pembangunan, dan penguatan kolaborasi Indonesia–Singapura dalam menjawab tantangan global dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Ibas dalam diskusi bersama para akademisi dan peneliti di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapura, Rabu (7/10/2026).

Pertemuan yang berlangsung bersama Executive Deputy Chairman RSIS, Ambassador Ong Keng Yong, dan jajaran RSIS tersebut menjadi forum untuk bertukar pandangan mengenai dinamika geopolitik, tantangan pembangunan nasional, kebijakan ekonomi, serta peluang kerja sama strategis antara Indonesia dan Singapura.

Diskusi mengangkat tema “Indonesia’s Strategic Outlook: Navigating Geopolitical Competition and Strengthening ASEAN Centrality”.

Baca juga : AQUA Rayakan Juara Timnas di FIFA ASEAN Cup, Buah Penantian 35 Tahun

Dalam sambutannya, Ibas menyampaikan apresiasi kepada RSIS, Ambassador Ong Keng Yong, serta Profesor Leonard Sebastian dan jajaran akademisi yang telah membuka ruang dialog dan pertukaran gagasan.

Bagi Edhie Baskoro, RSIS memiliki peran penting sebagai salah satu pusat kajian strategis yang mempertemukan perspektif akademik dengan perkembangan geopolitik dan kebijakan di kawasan Asia Tenggara.

Ibas menilai, hubungan Indonesia dan Singapura memiliki arti strategis, bukan hanya karena keduanya merupakan negara tetangga, tetapi juga karena kepentingan kedua negara saling terkait dalam stabilitas kawasan, perdagangan, investasi, ketahanan energi, pangan, dan pertumbuhan ekonomi.

“Indonesia tidak bisa membangun masa depannya sendirian. Kita membutuhkan kerja sama dengan Singapura dan negara-negara ASEAN lainnya untuk memperkuat ketahanan kawasan, membuka peluang ekonomi, dan menjawab tantangan yang semakin kompleks. Kita harus bergerak maju bersama,” demikian pesan Ibas dalam diskusi tersebut.

Baca juga : Baila Fauri, Dipeluk Ivar Jenner

Kepemimpinan Bukan Hanya tentang Visi, Tetapi Juga Kemampuan Mendengarkan

Dalam penutup diskusi, Ibas menggarisbawahi bahwa kepemimpinan yang baik tidak cukup hanya memiliki kewenangan atau ambisi besar. Kepemimpinan harus ditopang kemampuan mendengarkan, merumuskan visi, membangun konsensus, dan memastikan kebijakan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

“To lead is to listen. Untuk memimpin, kita harus mau mendengarkan. Dan untuk memimpin ke masa depan, kita harus memiliki visi yang jelas,” ungkap Ibas.

Menurutnya, tantangan kepemimpinan di Indonesia memiliki kompleksitas tersendiri karena besarnya wilayah, jumlah penduduk, keberagaman sosial dan budaya, serta perbedaan kebutuhan antardaerah.

Baca juga : FIFA ASEAN Cup Jadi Momentum Baru Sepakbola ASEAN

Karena itu, pembangunan nasional memerlukan perencanaan yang matang, koordinasi antarlembaga, dan kemampuan menjaga keberlanjutan kebijakan di tengah pergantian kepemimpinan.

Ibas menilai, rencana pembangunan jangka panjang, menengah, dan pendek harus saling terhubung. Pergantian pemerintahan tidak boleh memutus arah strategis pembangunan yang dibutuhkan untuk membangun daya saing, memperkuat kemandirian ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Pemimpin datang dan pergi, tetapi bangsa ini harus terus berjalan maju. Kita memerlukan keberlanjutan kebijakan, tanpa kehilangan kemampuan untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan beradaptasi terhadap perubahan zaman,” tambahnya.

Ibas juga menekankan pentingnya checks and balances dalam sistem demokrasi. Pengawasan yang efektif terhadap kebijakan dan penggunaan anggaran negara merupakan bagian penting dari upaya menjaga akuntabilitas pemerintahan dan memastikan kepentingan masyarakat tetap menjadi prioritas.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.