Dark/Light Mode

Punya Sumber EBT Melimpah

Indonesia Tawarkan Investasi Data Center

Kamis, 24 September 2026 06:30 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat membuka Electricity Connect 2026 in Partnership With Enlit Asia di ICE BSD, Tangerang, Selasa (22/9/2026). Foto; Instagram bahlillahadalia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat membuka Electricity Connect 2026 in Partnership With Enlit Asia di ICE BSD, Tangerang, Selasa (22/9/2026). Foto; Instagram bahlillahadalia

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia menawarkan potensi energi terbarukan yang melimpah untuk menarik investasi pusat data (data center). Ketersediaan energi bersih menjadi peluang seiring meningkatnya kebutuhan listrik industri digital.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, Indonesia memiliki sumber energi yang dapat mendukung kebutuhan industri digital. Termasuk data center yang semakin membutuhkan pasokan energi bersih.

“Kita tahu di beberapa negara sekarang kebutuhan terhadap energi sudah mulai ngos-ngosan, apalagi Energi Baru Terbarukan (EBT). Tapi para investor tidak perlu ragu kalau ingin membangun data center di Indonesia,” ujar Bahlil saat membuka Electricity Connect 2026 in Partnership With Enlit Asia di ICE BSD, Tangerang, Selasa (22/9/2026).

Menurut Bahlil, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan potensi energi yang beragam. Mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, hingga angin. Potensi tersebut dapat menjadi modal untuk memenuhi kebutuhan listrik industri sekaligus memperluas pemanfaatan EBT.

Pemerintah menawarkan sejumlah potensi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Baca juga : Jalur Khusus Sepeda Tetap Dipertahankan

“Ada yang membangun (energi bersih) di Kalimantan, ada yang membangun di Sumatera. Kalau ada yang mau air, PLTA di Papua, Sungai Mamberamo itu potensinya 23 Gigawatt. Di Kalimantan, ada di Kayan. Kurang lebih sekitar 12 Gigawatt. Banyak sekali,” ungkapnya.

Ketua Umum Partai Golkar itu mengatakan, ketersediaan energi bersih menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengembangan data center.

Pemerintah terus meningkatkan kapasitas pembangkit berbasis EBT sebagai bagian dari upaya mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2050-2060.

Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, Pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW. Sebanyak 70 persen dari tambahan kapasitas tersebut berasal dari EBT.

Pemerintah juga menjalankan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW yang ditargetkan rampung dalam tiga tahun.

Baca juga : Belanda Vs Jerman, Duel Wajah Baru

“Ini bukan hanya tema, langsung dibuat program konkret,” tegas Bahlil.

Selain dukungan energi, Bahlil menilai kondisi ekonomi dan besarnya pasar domestik menjadi faktor pendukung investasi.

Ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tetap tumbuh di atas 5 persen dengan inflasi sekitar 3 persen di tengah ketidakpastian geopolitik.

Dengan jumlah penduduk hampir 300 juta jiwa, kebutuhan energi dan layanan digital diperkirakan terus berkembang.

Karena itu, Pemerintah mendorong pengembangan energi terbarukan dan investasi berjalan beriringan dengan penguatan sistem kelistrikan nasional.

Baca juga : Tertinggal Jauh Dari Mercedes, Ferrari Belum Angkat Tangan

“Kalau mau investasi, sekarang momennya. Ini timing yang pas. Sekarang jangan tanya sumber daya alam, tapi saya tanya kepada Bapak Ibu semua, apakah serius atau tidak untuk melakukan investasi di Indonesia?” ucap Bahlil. NOV

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Kamis, 24 September 2026 dengan judul "Punya Sumber EBT Melimpah Indonesia Tawarkan Investasi Data Center"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.