Dark/Light Mode

Guruh Soekarnoputra: Sang Maestro, Taksu Nusantara, dan Penerjemah Pancasila

Minggu, 27 September 2026 10:01 WIB
Foto: PDIP.
Foto: PDIP.

RM.id  Rakyat Merdeka - Hari Sabtu (26/9/2026), Ibu Pertiwi kembali meneteskan air mata. Bangsa Indonesia tidak sekadar kehilangan seorang putra proklamator, tetapi juga kehilangan seorang maestro, penjaga gawang kebudayaan, dan salah satu denyut nadi seni Nusantara. Guruh Soekarnoputra telah berpulang.

Sebagai seseorang yang lahir dan bernapas dalam rahim tradisi Bali, sekaligus seorang nasionalis yang mengakar pada ajaran Marhaenisme, saya menatap kepergian Mas Guruh dengan rasa kehilangan yang teramat dalam.

Membicarakan Guruh Soekarnoputra tidak bisa hanya dengan kacamata politik praktis. Ia terlalu besar untuk sekadar ditempatkan dalam etalase kekuasaan.

Membicarakan Mas Guruh adalah membicarakan roh kebudayaan Indonesia dan, secara khusus, membicarakan sebuah ikatan batin yang begitu magis dengan tanah leluhur: Bali.

Darah Srimben dan Taksu Bali Bagi masyarakat Bali, Mas Guruh bukanlah "orang luar" yang datang untuk sekadar mengagumi keindahan pulau ini. Ia adalah bagian dari darah dan denyut Bali itu sendiri.

Mengalirnya darah Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, ibunda Bung Karno yang berasal dari Buleleng, di dalam nadi Mas Guruh membuatnya memiliki "taksu" yang tidak bisa dipelajari dari buku mana pun.

Mas Guruh tidak hanya mewarisi garis keturunan Bali, tetapi juga menyerap energi spiritualnya.

Kita melihat bagaimana ia menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari, hingga berbulan-bulan untuk menyatu dengan denting gamelan, gemulai tarian, dan sakralnya ritus seni Pulau Dewata.

Baca juga : Prosesi Pemakaman Guruh Soekarnoputra di Karet Bivak

Melalui sanggar Swara Maharddhika dan GSP (Guruh Soekarnoputra Production), ia tidak sedang mengeksploitasi seni Bali untuk kepentingan komersial.

Sebaliknya, ia sedang melakukan yadnya atau persembahan suci: mengangkat derajat kesenian Bali, memadukannya dengan kekayaan tari Nusantara lainnya, dan membawanya ke panggung-panggung megah kelas dunia.

Di tangan Mas Guruh, tari kecak, legong, dan barong bukan lagi sekadar daya tarik pariwisata. Semua itu menjadi manifestasi keagungan peradaban Indonesia. Ia merawat kebudayaan Bali layaknya merawat pusaka ibunya sendiri.

Pancasila yang Menari dan Bernyanyi

Sering kali kita terjebak dalam perdebatan kaku tentang Pancasila di ruang-ruang sidang, mimbar-mimbar akademik, atau dalam diktat-diktat politik.

Namun, Guruh Soekarnoputra mengambil jalan sunyi yang justru jauh lebih menghentak: membumikan Pancasila melalui panggung seni.

Bagi Mas Guruh, Pancasila bukanlah dogma yang sekadar harus dihafal, melainkan harmoni yang harus dirasakan.

Ketika ia meracik koreografi yang memadukan gerakan tari Minang, hentakan ritmis Papua, gemulai keraton Jawa, dan magisnya Bali dalam satu panggung kolosal, saat itulah ia sedang mengajarkan Bhinneka Tunggal Ika secara paripurna.

Mas Guruh adalah pengejawantahan dari Trisakti ajaran Bung Karno, khususnya poin ketiga: berkepribadian dalam kebudayaan.

Baca juga : SBY Kenang Guruh Sebagai Seniman Realis Dengan Karya Luar Biasa

Ketika generasi muda pada era 1970-an hingga 1990-an nyaris tersapu arus westernisasi dan budaya pop global, Mas Guruh hadir membawa seni tradisi dengan kemasan modern yang megah.

Ia membuat anak muda Indonesia kembali bangga mengenakan kain tenun, bangga mendengarkan gamelan, dan bangga dengan identitas keindonesiaannya.

Ia berpolitik tidak selalu melalui pidato yang berapi-api, melainkan melalui melodi, tata cahaya, dan gerak tubuh.

Melalui seni, Mas Guruh menyemai rasa cinta Tanah Air yang langsung menyentuh kalbu, melewati sekat-sekat ideologi dan agama. Itulah cara terindah mengamalkan Pancasila.

Jejak Keabadian Sang Putra Fajar

Di ranah politik formal, melalui PDI Perjuangan, Mas Guruh adalah sosok yang tenang, tetapi teguh karangnya.

Ia berdiri di garda depan menjaga ajaran-ajaran ayahnya, bukan dengan ambisi kekuasaan, melainkan dengan ketulusan seorang penjaga moral.

Kesetiaannya kepada Ibu Megawati Soekarnoputri dan partai menjadi bagian dari perjalanan hidupnya dalam menjaga warisan sejarah keluarganya serta perjuangan kaum Marhaen.

Kini, panggung itu telah sepi. Sang sutradara agung telah melangkah ke belakang tirai untuk selama-lamanya.

Baca juga : Megawati Soekarnoputri Menangis di Pemakaman Guruh Soekarnoputra

Namun, mahakaryanya akan terus abadi. Setiap kali gamelan ditabuh, setiap kali anak muda Indonesia menciptakan karya seni yang memadukan unsur tradisi, di sanalah jiwa Guruh Soekarnoputra akan selalu hidup.

Selamat jalan, Mas Guruh. Tugasmu merawat Taman Sari Nusantara telah usai dengan gilang-gemilang.

Engkau telah membuktikan bahwa keindahan adalah salah satu cara paling kuat untuk mempertahankan kebesaran sebuah bangsa.

Amor ing Acintya. Dari Pulau Dewata yang sangat engkau cintai, kami menghaturkan doa terbaik. Menyatulah dengan semesta, kembali kepada keabadian.

Oleh: Dr. I Wayan Sudirta, SH., MH.

Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI Perjuangan

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.