Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Unika Atma Jaya Bagikan Langkah Sederhana Cegah Penularan Influenza
Kamis, 8 Oktober 2026 12:17 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap influenza menyusul adanya peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan hasil surveilans hingga awal September 2026, kondisi tersebut masih berada dalam rentang sedang dan sesuai dengan pola musiman yang selama ini terjadi di Indonesia.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unika Atma Jaya, Andrew Adhytia Lieputra, mengatakan masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi risiko penularan influenza.
Menurutnya, menjaga kondisi tubuh menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan. Hal itu dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga secara teratur, serta mencukupi waktu tidur.
“Pencegahan lebih baik daripada pengobatan,” kata Andrew, dalam keterangannya, Kamis (8/10/2026).
Influenza A merupakan penyakit yang disebabkan virus influenza tipe A dan dapat muncul sepanjang tahun. Namun, jumlah kasus dapat meningkat pada periode tertentu mengikuti pola musiman.
Gejala influenza juga tidak hanya berupa batuk dan pilek. Penyakit tersebut dapat ditandai demam, menggigil, nyeri tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, hingga rasa lelah yang cukup berat.
Penularan dapat terjadi melalui partikel pernapasan yang dikeluarkan saat penderita batuk, bersin, berbicara, atau bernapas, terutama ketika berada dalam jarak dekat.
Baca juga : Masdalina Pane: Upaya Pencegahan Masih Belum Optimal
Virus juga dapat berpindah melalui tangan yang terkontaminasi, kemudian masuk ke tubuh ketika seseorang menyentuh hidung, mulut, atau mata.
Gejala influenza umumnya muncul sekitar satu hingga empat hari setelah seseorang terpapar virus. Demam biasanya berlangsung sekitar tiga sampai empat hari, sementara batuk, rasa lelah, dan keluhan saluran pernapasan lainnya dapat bertahan lebih lama.
Andrew mengatakan kelompok tertentu perlu memberikan perhatian lebih terhadap influenza. Di antaranya anak-anak, terutama yang berusia di bawah lima tahun, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit paru, dan gangguan sistem imun.
Kelompok tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami influenza berat dan komplikasi. Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah pneumonia atau radang paru-paru.
Pneumonia dapat ditandai dengan sesak atau kesulitan bernapas, nyeri dada, tubuh sangat lemah, kesulitan makan atau minum, dehidrasi, hingga penurunan kesadaran.
Vaksinasi Berkala
Selain menjaga kondisi tubuh, Andrew menganjurkan masyarakat melakukan vaksinasi influenza secara berkala, umumnya setiap tahun. Vaksinasi terutama penting bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
Baca juga : Aji Muhawarman: Peningkatan Karena Pengaruh Musim
Menurutnya, vaksin influenza perlu diperbarui secara berkala karena virus influenza terus mengalami perubahan. Perlindungan antibodi setelah vaksinasi juga dapat menurun seiring waktu.
Langkah pencegahan lainnya adalah menggunakan masker dalam situasi berisiko, terutama ketika berada di tempat ramai atau ruang tertutup.
Masyarakat juga diimbau menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup hidung serta mulut menggunakan tisu atau bagian dalam siku. Penggunaan telapak tangan untuk menutup batuk dan bersin sebaiknya dihindari.
Kebersihan tangan juga perlu dijaga dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer berbasis alkohol.
Untuk memastikan infeksi, influenza dapat dideteksi melalui rapid antigen maupun pemeriksaan molekuler seperti PCR. Pemeriksaan rapid antigen dapat memberikan hasil lebih cepat, tetapi memiliki sensitivitas yang lebih rendah dibandingkan pemeriksaan molekuler.
Pemeriksaan molekuler terutama dapat dipertimbangkan pada pasien dengan gejala berat, pasien yang dirawat di rumah sakit, atau kelompok yang berisiko mengalami komplikasi.
Andrew mengingatkan hasil rapid antigen yang negatif belum tentu sepenuhnya menyingkirkan influenza, terutama ketika penularan influenza sedang tinggi di masyarakat.
Baca juga : Influenza A Beda Dengan Covid, Masyarakat Tak Usah Panik
Pada pasien influenza yang mengalami pneumonia, dokter juga dapat mempertimbangkan kemungkinan infeksi bakteri sekunder apabila terdapat tanda yang mendukung.
Beberapa bakteri yang dapat menyebabkan pneumonia sekunder setelah influenza antara lain Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan Haemophilus influenzae.
Karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri apabila gejala memburuk atau muncul tanda bahaya, seperti sesak napas, nyeri dada, kelemahan berat, kesulitan makan atau minum, maupun penurunan kesadaran.
Andrew menegaskan, pencegahan influenza dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana yang diterapkan secara konsisten.
Menjaga kesehatan, melakukan vaksinasi influenza secara berkala, menggunakan masker dalam kondisi yang tepat, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menjaga kebersihan tangan dapat membantu menekan risiko penularan dan penyakit berat akibat influenza.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya