Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Hubungan Lewis Hamilton dengan race engineer Ferrari, Riccardo Adami, kembali menjadi sorotan.
Mantan pembalap Formula 1, Robert Doornbos, menilai keduanya belum memiliki kecocokan komunikasi dan kedekatan emosional yang dibutuhkan dalam persaingan papan atas.
Sejak debut Hamilton bersama Ferrari pada awal musim, dinamika antara pembalap dan insinyurnya tampak belum stabil.
Meski Hamilton menyebut rumor keretakan hanya spekulasi, performa di lintasan menunjukkan kolaborasi tersebut belum berjalan efi sien. Doornbos melihat hal itu jelas dalam beberapa balapan terakhir.
Baca juga : Lewis Hamilton Makin Nyaman Bareng Ferrari
“Saya rasa tidak ada chemistry antara mereka. Komunikasi antara Lewis dan Ricky tidak terdengar seperti pasangan pembalap– insinyur yang benar-benar cocok,” ujarnya dalam siniar The Pit Talk, seperti dikutip dari ESPN, Rabu (5/11/2025).
Contoh paling mencolok terlihat di GP Meksiko. Hamilton mendapat penalti sepuluh detik setelah memotong lintasan dalam sebuah duel.
Banyak pengamat menilai Ferrari terlambat memberi instruksi untuk mengelola situasi agar hukuman dapat dihindari.
“Ricky memberi tahu soal penalti, dan Lewis membalas bahwa sulit bertahan di lintasan. Itu menunjukkan keduanya tidak berada dalam frekuensi yang sama,” ujar Doornbos.
Baca juga : Lawan Chelsea, Wolves Mengenang Sejarah Manis
Menurutnya, untuk bersaing dalam perebutan podium dan gelar, hubungan pembalap dan insinyur harus sa ling paham tanpa banyak jeda.
Hamilton saat ini masih menunggu podium pertamanya bersama Ferrari di balapan utama. Meski sudah meraih kemenangan dalam sprint race di China, ia baru mengoleksi 146 poin dan berada di posisi keenam klasemen.
Rekan setimnya, Charles Leclerc, berada satu tingkat di atas dengan 210 poin. Dengan empat seri tersisa, tekanan meningkat.
Ferrari membutuhkan efi siensi, eksekusi strategis, dan keselarasan penuh antara radio pit wall dan pengemudi. Hamilton sendiri datang dengan reputasi juara tujuh kali.
Baca juga : Berhasil Kabur Usai Duel Dengan Beruang
Namun, tanpa dukungan komunikasi teknis yang matang, peluang kembali ke puncak tetap berat. Musim belum usai.
Tapi jika situasi tak segera membaik, desas-desus “pecah kongsi” tak akan berhenti mengikuti duo Ferrari ini.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya