Dark/Light Mode

Sejarah Baru RDMP Balikpapan, Jadi Tulang Punggung Energi Nasional Menuju Euro V

Senin, 18 Agustus 2025 15:00 WIB
RANDY TRI KURNIAWAN / RM
Foto udara unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) di Kilang Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (14/8/2025). 
Foto udara unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) di Kilang Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (14/8/2025). 

Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang digarap PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPI) menorehkan sejarah baru bagi industri migas tanah air. Sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), RDMP Balikpapan dirancang untuk meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260 ribu barel per hari (KBPD) menjadi 360 KBPD, sekaligus mengerek standar kualitas produk dari Euro II ke Euro V.

Pembangunan yang mencakup New Workshop & Warehouse, Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Feed Tank, Boiler, New Flare BPP II, FCC & FCC NHT, hingga Terminal Lawe-Lawe Facilities itu kini menunjukkan progres signifikan. Hingga 19 Juli 2025, Unit Prioritas-1 telah mencapai 98,23 persen dengan sebagian unit revamp dan fasilitas utilitas mulai beroperasi. 

Dari konfigurasi baru ini, kilang diproyeksikan mampu menghasilkan berbagai produk energi: 36,6 ribu barel Pertalite, 2,2 ribu barel Pertamax 92, 191,7 ribu barel solar, 12,4 ribu barel avtur, 54,4 metrik ton LPG, 0,86 ribu barel smooth fluid, 40 ribu barel naphta, 7,7 ribu barel decant oil, dan 365 metrik ton propylene per hari.

Hasil nyata juga sudah dirasakan sejak Desember 2023, ketika konsumsi LPG untuk pembakaran dihentikan, sehingga efisiensi biaya operasi mencapai 23 juta dolar AS per tahun. Produksi diesel meningkat dari 33 ribu menjadi 53 ribu barel per hari dengan tambahan pendapatan sekitar 103 juta dolar AS per tahun. Pada Juli 2024, unit revamping dan preflash mulai beroperasi, menambah kapasitas pengolahan crude oil 100 ribu barel per hari. Kilang juga semakin fleksibel mengolah crude dengan kandungan sulfur lebih tinggi, dari 0,2 persen menjadi 0,5 persen.

Infrastruktur penunjang diperkuat dengan pembangunan tangki crude baru, fasilitas Single Point Mooring (SPM), serta pipa Lawe-Lawe berkapasitas 320 ribu DWT yang mulai beroperasi Mei 2025. Kapasitas tangki penyimpanan bertambah 2 juta barel, sementara utilitas cooling water 34 ribu m³/jam dan Gas Turbine Generator 65 MW mampu menekan biaya operasi hingga 30 juta dolar AS per tahun. Tangki feed RFCC berkapasitas 89 ribu m³ juga sudah digunakan sejak Juni 2024.

Ke depan, RDMP Balikpapan menargetkan percepatan penyelesaian secondary process Unit RFCC Complex pada kuartal IV-2025. Unit ini akan menambah produksi gasoline 55 ribu barel per hari, LPG 150 ribu ton per tahun, dan propylene 100 ribu ton per tahun, yang diproyeksikan mampu mengurangi impor hingga ratusan juta dolar AS setiap tahun. Pada kuartal II-2026, giliran Unit Prioritas-2 meliputi Gasoline Block, RFCC-Naphtha Hydrotreating (NHT), dan Diesel Hydrotreating (DHT) yang ditargetkan rampung.

Tak hanya fokus pada aspek energi, KPI juga menaruh perhatian pada kesejahteraan masyarakat sekitar proyek. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), perusahaan membangun Kampung Baru Ilir Mandiri Indah dan Sejahtera (KALIANDRA) di Balikpapan. Warga diajak mengembangkan urban farming dengan tanaman cabai, kangkung, hingga pak choi. Selain menambah penghasilan, program ini diharapkan memperkuat kemandirian pangan warga.

KPI juga meluncurkan Drum Eco Shield, drum berlubang berisi tanah yang berfungsi menampung sekaligus menyerap air hujan. Teknologi sederhana ini ditujukan untuk mencegah longsor, yang tercatat mencapai 331 kasus di Balikpapan sepanjang 2025. Program ini telah mendapat rekomendasi BPBD dan diperkirakan efektif hingga 80 persen dalam mengurangi risiko bencana.

Dengan pencapaian pembangunan dan keberpihakan pada masyarakat, RDMP Balikpapan diharapkan benar-benar menjadi tulang punggung energi nasional menuju standar Euro V, sekaligus memberi manfaat nyata bagi warga sekitar.