Dark/Light Mode

Ribuan Hoaks Beredar Saat Pandemi, Tips Agar Tak Sesat

Rabu, 23 Desember 2020 11:31 WIB

Ada ribuan hoaks (berita bohong) atau informasi sesat yang beredar selama 9 bulan pandemi di Indonesia. Bahkan beberapa di antaranya terkait vaksin Covid-19.

Masyarakat diharapkan dapat memilah informasi tersebut agar tidak tersesat dan menjadi penyebar hoaks yang dapat merugikan, bahkan membahayakan, hidup sesama.

Caranya, masyarakat bisa menghubungi kontak hotline resmi Satgas Covid-19 di nomor 119 ekstensi 9. Atau bisa berkunjung ke website resmi pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19 di alamat covid19.go id, atau lewat media massa terpercaya.

"Selalu luangkan sedikit waktu guna mencari informasi dari sumber-sumber valid di masa pandemi Covid-19 agar tidak tertipu berita bohong yang saat ini semakin banyak," kata Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, dr Reisa Brotoasmoro. 

“Ada ribuan hoaks yang beredar selama 9 bulan pandemi. Bahkan terkait vaksin Covid-19. Padahal banyak sekali manfaat vaksin yang sudah kita ulas," jelas Reisa.

Beberapa hoaks yang beredar, seperti yang menyebut vaksin adalah bibit penyakit, dan menerimanya sama saja dengan membuat badan rentan terkena penyakit.

“Nah, anggapan ini salah. Karena vaksin itu terbuat dari bakteri atau virus yang sudah dilemahkan, yang fungsinya membuat badan kita menjadi kenal, dan kebal melawan penyakit tersebut. Hal ini tidak sama ya, dengan membuat tubuh sakit,” lanjut Reisa.

Ia pun memparkan, ada beberapa jenis vaksin. Pertama, vaksin mati adalah jenis vaksin yang mengandung virus atau bakteri yang sudah dimatikan.

Kedua, vaksin hidup adalah vaksin yang mengandung bakteri atau virus yang dilemahkan.

Ketiga, vaksin sub unit adalah adalah vaksin yang dibuat dari komponen virus/bakteri.

Dan keempat, vaksin toksoid adalah vaksin yang dibuat dari toksin yang sudah dilemahkan. Untuk kandungan vaksin, terdiri dari antigen, stabilitator, adjuvant dan pengawet.

Lalu, hoaks yang kedua, seperti vaksin mengandung zat-zat yang berbahaya. Padahal, kata Reisa, vaksin yang sudah diproduksi massal harus memenuhi syarat utama yaitu aman, efektif, stabil dan efisien.

“Setiap vaksin yang beredar, harus lolos uji dari lembaga otoritas yang berwenang. Di Indonesia, ada Badan POM (Pemeriksa Obat dan Makanan) yang akan memastikan bahwa vaksin aman dan tidak mengandung bahan berbahaya,” jelasnya.

Selain itu, masyarakat juga masih bertanya-tanya, apakah setelah vaksin tersedia, maka masyarakat langsung aman? Reisa menjelaskan, bahwa vaksin adalah salah satu cara agar Indonesia bisa segera keluar dari pandemi Covid-19.

Untuk itu Reisa kembali mengingatkan, vaksin bukan satu-satunya solusi untuk mencegah penularan Covid-19. Disiplin dan patuh terhadap protokol kesehatan juga penting dan efektif menurunkan risiko penularan.

“Jadi, gerakan 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan) ditambah vaksinasi tentu akan lebih baik,” pesan Reisa. [MEL]