BREAKING NEWS
 

Film Istimewa Angkat Kisah Anak Disabilitas Tentang Mimpi, Cinta, & Kebebasan

Reporter & Editor :
OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Selasa, 8 September 2026 11:33 WIB
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Anak-anak dengan disabilitas tidak hanya tentang kondisi yang mereka miliki. Mereka juga memiliki mimpi, persahabatan, cinta, keluarga, serta keinginan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Kisah tersebut diangkat dalam film Istimewa yang diproduksi Kairos Pictures. Film Istimewa berusaha menghadirkan gambaran yang lebih luas mengenai kehidupan penyandang disabilitas.

Ceritanya tidak berhenti pada kondisi yang dimiliki para karakter, tetapi juga mengeksplorasi persahabatan, keluarga, mimpi, hubungan antarmanusia, hingga keinginan untuk mendapatkan kesempatan dalam menentukan pilihan sendiri.

Gala premiere film Istimewa digelar di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (7/9/2026). Film tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 17 September 2026.

Cerita Istimewa terinspirasi dari kehidupan komunitas Rumah Manis Istimewa. Komunitas tersebut menjadi ruang bagi anak-anak dengan disabilitas untuk berkumpul, menjalani berbagai aktivitas, berinteraksi, serta mengembangkan kemampuan mereka.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi sumber cerita yang dikembangkan ke dalam film.

Sutradara Istimewa, Ruben Adrian, mengatakan sejak awal dirinya tidak ingin menghadirkan karakter yang hanya dikenal berdasarkan kondisi disabilitasnya.

Baca juga : Prabowo Ajukan Kebijakan Dwi Kewarganegaraan bagi Talenta Istimewa Indonesia

“Kami tidak ingin membuat karakter yang hanya menjelaskan kondisinya. Kami ingin mereka hadir sebagai manusia yang punya keinginan, pilihan, humor, mimpi, dan perjalanan sendiri,” ujar Ruben Adrian.

Pendekatan tersebut membuat setiap karakter memiliki kehidupan dan persoalan masing-masing. Mereka juga mempunyai hubungan, keinginan, serta mimpi yang tidak jauh berbeda dari kehidupan manusia pada umumnya.

Pesan mengenai arti penerimaan menjadi salah satu bagian penting dalam film Istimewa.

Niatus Sholihah yang memerankan karakter Nita mengatakan, kesempatan untuk menentukan pilihan menjadi bagian penting dalam memahami makna diterima.

“Buat saya, diterima bukan berarti orang lain merasa kasihan atau memperlakukan kita secara berbeda. Diterima adalah ketika kita diberi kesempatan untuk menunjukkan siapa diri kita, dipercaya untuk mengambil pilihan, dan tidak dinilai hanya dari kondisi yang kita miliki,” kata Niatus.

Menurut Niatus, seseorang tidak bisa dinilai hanya berdasarkan kondisi fisik. Setiap orang memiliki kemampuan, perasaan, mimpi, dan keinginan untuk menjalani kehidupannya sesuai dengan pilihan masing-masing.

Adsense

Abdullah Mansuri atau Ayah Mans juga memiliki alasan kuat di balik keinginannya membawa kisah anak-anak Rumah Manis Istimewa ke layar lebar.

Baca juga : Teror Ambarwati Warnai Film Reuni Berdarah, Angkat Kisah Nyata dari Puncak

Selama mendampingi mereka, Ayah Mans menemukan banyak cerita mengenai keberanian, kemampuan, dan mimpi yang dinilai belum banyak diketahui masyarakat.

“Saya ingin mereka punya ruang untuk bercerita dengan cara mereka sendiri. Selama perjalanan bersama mereka, saya melihat begitu banyak cerita, mimpi, keberanian, dan kemampuan yang mungkin belum banyak orang lihat,” ujar Ayah Mans.

Ia kemudian merasa pengalaman tersebut perlu diperkenalkan kepada masyarakat dalam cakupan yang lebih luas.

“Dari situlah saya merasa cerita ini harus dibawa lebih jauh, supaya lebih banyak orang bisa mengenal mereka bukan dari kondisinya, tapi dari siapa mereka sebenarnya,” lanjutnya.

Aktor senior Mathias Muchus yang ikut membintangi Istimewa turut merasakan pengalaman berbeda ketika berinteraksi dengan anak-anak tersebut.

Menurut Mathias, film ini menghadirkan hubungan antarmanusia yang tulus. Ia melihat cinta dan kedekatan muncul secara alami tanpa harus dikaitkan dengan kepentingan komersial.

"Karena di situ itu kita memunculkan cinta sebetulnya. Interaksi antar manusia yang sangat manusiawi. Jadi enggak ada embel-embel, embel-embel apa ya, embel-embel menjual sesuatu di sana. Jadi hubungan antar hati ke hati, menumbuhkan semacam apa ya, semacam hubungan yang benar-benar tulus banget gitu," kata Mathias.

Baca juga : Film Akal Imitasi Tegaskan Peran Guru Tak Tergantikan oleh AI

Mathias juga mengkritisi kebiasaan masyarakat yang masih memberikan label kepada penyandang disabilitas. Menurutnya, cara pandang tersebut dapat membuat seseorang dinilai hanya dari kondisi yang dimilikinya.

"Tanpa memikirkan bahwa siapa yang di hadapan saya ini, bukan anak saya atau siapa gitu-gitu, nggak. Ini sosok manusia yang sama dengan kita. Jadi mereka ini adalah utuh, yang enggak utuh itu kita sebetulnya. Karena pikiran kita yang melenceng, karena kita menilai. Nggak, nggak penting mereka dinilai. Itu salahnya kita sebetulnya," tegasnya.

Film Istimewa kemudian membawa cerita lebih jauh dengan memperlihatkan hubungan para karakter dengan keluarga, sahabat, dan lingkungan sekitar.

Persahabatan, kepercayaan, kesempatan, dan kebebasan menentukan pilihan menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Judul Istimewa juga tidak dimaksudkan sebagai pengganti istilah disabilitas. Judul tersebut digunakan sebagai sudut pandang bahwa kondisi seseorang bukanlah satu-satunya hal yang menentukan identitasnya.

Setiap individu tetap memiliki pengalaman, kemampuan, perasaan, mimpi, dan keputusan yang membentuk kehidupannya.

Setelah sebelumnya melakukan kunjungan ke sejumlah bioskop, para pemain dan pembuat film Istimewa kini bersiap memperkenalkan kisah tersebut kepada masyarakat luas.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense