RM.id Rakyat Merdeka - Memasuki awal tahun 2026, masyarakat dihebohkan dengan merebaknya virus Influenza A (H3N2) subclade K atau yang dijuluki Super Flu.
Virus ini sudah masuk Indonesia dan tersebar di beberapa provinsi, di antaranya Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Jawa Timur. Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mengonfirmasi Super Flu terdeteksi di Indonesia sejak 25 Desember 2025.
Sabtu, 3 Januari 2026, Kemenkes mencatat ada 62 kasus Influenza A (H3N2) subclade K.
Baca juga : Perluas Program Kewirausahaan
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr Prima Yosephine menegaskan bahwa situasi Influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih dalam “kondisi terkendali” dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan clade maupun subclade influenza lainnya.
Pakar kesehatan yang juga Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan Pemerintah Indonesia perlu terus menginformasikan kepada seluruh masyarakat tentang perkembangan Influenza A (H3N2) subclade K untuk meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian.
Selain itu, pemerintah juga perlu terus melakukan surveilans yang ketat, meliputi jumlah kasus, berat atau ringannya gejala, hingga pola penularan. Selain itu yang juga tidak kalah penting adalah menyiapkan sarana kesehatan untuk mengantisipasi peningkatan kasus.
Baca juga : Menhan Minta Prajurit Menyatu Dengan Rakyat
Menurut Amesh A. Adalja, M.D., seorang peneliti senior di Johns Hopkins Center for Health Security, Subclade K sebenarnya merupakan cabang mutasi terbaru dari virus Influenza A (H3N2) yang sudah bersirkulasi selama puluhan tahun. Para ilmuwan pertama kali mendeteksinya pada Juni 2025 dan sejak saat itu, virus ini menyebar dengan sangat cepat.
Bagaimana dengan dampaknya? Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman menjelaskan jika berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, Influenza A (H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan.
“Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” ujar Aji.
Baca juga : Pemerintah Segera Siapkan Program Ayam Merah Putih
Meski begitu, Epidemiolog Masdalina Pane tetap mengingatkan kepada Pemerintah agar waspada terhadap wabah virus ini. Caranya dengan memperkuat sistem surveilans untuk memantau penyebaran dan risiko severitas.
Bahkan, menurut Masdalina, jika memungkinkan dilakukan vaksinasi pada kelompok risiko tinggi terutama anak/balita, lansia dan komorbid, meningkatkan kapasitas test untuk suspek.
Untuk melihat lebih jauh bagaimana pandangan dan pendapat Aji Muhawarman terkait dengan wabah Super Flu ini, berikut wawancaranya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.