Sebelumnya
Pemerintah secara resmi melakukan penyesuaian harga Pertamax. Sebagai lembaga yang concern terhadap keuangan, apa pendapat Anda?
Kebijakan menaikkan harga Pertamax pada saat konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi nasional kurang tepat.
Bisa Anda jelaskan?
Data BPS menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 54,26 persen terhadap PDB Indonesia pada triwulan I-2026. Artinya, setiap tekanan terhadap daya beli masyarakat berpotensi langsung memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca juga : Firman Soebagyo: Kenaikan Pertamax Cs Tak Bebani Rakyat Kecil
Artinya, ketika biaya transportasi dan mobilitas meningkat, rumah tangga cenderung mengurangi belanja nonprioritas sehingga perputaran ekonomi ikut melambat.
Lalu, apa catatan Anda terhadap kebijakan tersebut?
Dari sisi inflasi, Pemerintah terkesan menyederhanakan persoalan.
Pemerintah memperkirakan dampaknya terbatas karena Pertamax hanya menyumbang sekitar 7 persen dari total konsumsi BBM nasional dan bukan bahan bakar utama transportasi umum.
Baca juga : DPR Akan Perkuat Kelembagaan Pangan
Apa dampaknya?
Kenaikan harga Pertamax sebesar 32,1 persen, dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, tetap berpotensi mendorong inflasi melalui efek tidak langsung pada biaya distribusi, jasa transportasi, dan pengeluaran kelas menengah perkotaan.
Saat ini inflasi sudah mencapai 3,08 persen. Kenaikan harga Pertamax berpotensi menambah tekanan inflasi yang diperkirakan berada pada kisaran 0,1 hingga 0,3 poin persentase dalam beberapa bulan ke depan.
Apakah bisa menekan daya beli masyarakat?
Baca juga : Revitalisasi 71 Ribu Sekolah Bakal Serap 1,1 Juta Pekerja
Saya melihat tantangan terbesar justru berada pada pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga BBM secara konsisten menekan konsumsi rumah tangga dan meningkatkan biaya produksi.
Jika kelompok menengah mulai menahan belanja akibat kenaikan biaya energi, pertumbuhan ekonomi yang saat ini berada di kisaran 5,6 persen berpotensi terkoreksi menjadi sekitar 5,3 hingga 5,5 persen, terutama bila tidak diimbangi dengan stimulus daya beli atau perbaikan pendapatan masyarakat. REN
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Sabtu, 13 Juni 2026 dengan judul "Mengupas Dampak Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi, Badiul Hadi: Berpotensi Mendorong Kenaikan Angka Inflasi"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.