Saat ini kita sedang menghadapi era Society 5.0, sebuah era yang ditandai dengan kemajuan teknologi atau bisa disebut serba teknologi. Society 5.0 adalah masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi Industri 4.0 seperti Internet on Things (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar), dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Society 5.0 juga dapat diartikan sebagai sebuah konsep masyarakat yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi. Perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat ini, mengharuskan kita untuk siap menghadapi perubahan dunia. Dunia pendidikan sebagai pondasi utama dalam membangun sumber daya manusia (SDM) harus siap menghadapi era ini dengan melakukan digitalisasi pendidikan. Digitalisasi pendidikan memainkan peran kunci dalam transformasi dan peningkatan kualitas pendidikan dan peningkatan kualitas SDM di era ini.
Era Society 5.0 merupakan era bentuk ke-5 dari perkembangan industri yang akan memudahkan kehidupan manusia untuk berinteraksi dan bertransisi ke era digital. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi digital untuk setiap aspek kehidupan, terutama sektor pendidikan sangat dibutuhkan karena akan mencerminkan tingkat daya saing suatu negara. Dalam hal ini, peran serta guru, pimpinan sekolah ataupun pengelola Lembaga Pendidikan akan sangat berperan dalam upaya mewujudkan digitalisasi pendidikan di Indonesia.
Dalam digitalisasi pendidikan, guru sebagai salah satu unsur penting diharapkan mampu membiasakan diri untuk melaksanakan proses pembelajaran keratif dengan menggunakan fasilitas dan sarana yang berbasiskan digital. Contohnya membuat video animasi atau fasilitas lain yang berbasis digital. Dengan demikian guru harus meningkatkan kompetensinya untuk mampu beradaptasi memaksimalkan sarana serba digital sehingga dapat mempersiapkan peserta didik yang berdaya guna dan berdaya saing di era Society 5.0.
Baca juga : PalmCo Distribusikan Puluhan Komputer ke Sekolah di Riau
Untuk meningkatkan komptensinnya, guru juga harus menyadari bahwa, pada era ini kegiatan pembelajaran tidak hanya fokus pada satu sumber saja yaitu buku. Akan tetapi, harus siap dan terbuka untuk menerima informasi dari berbagai sumber lainnya. Contohnya seperti internet atau media sosial. Meski begitu, guru juga harus bisa memilah informasi yang didapatkan dari internet atau media sosial.
Selain hal, tersebut guru juga harus memiliki kecakapan dan memiliki kemampuan leadership, digital literacy, communication, entrepreneurship, dan problem solving. Karena zaman yang semakin maju ditambah lagi di era Socety 5.0 di semua sektor akan menjadi lebih maju. Jika tidak dipersiapkan dan mengikuti perkembangan zaman yang begitu pesat, maka pendidikan di Indonesia akan sangat tertinggal jauh. Guru di era Society 5.0 ini harus menjadi guru penggerak yang mengutamakan murid, inisiatif untuk melakukan perubahan terutama untuk peserta didik, mengambil tindakan tanpa ada yang menyuruh, dan terus berinovasi serta keberpihakan kepada peserta didik.
Untuk menunjang hal tersebut, Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) di era Merdeka Belajar, telah berupaya menyiapakan berbagai perangkat kebijakan yang menunjang digilitasi pendidikan, salah satunya membuat platform pendidikan. Platform ini bertujuan untuk membantu guru, kepala sekolah, dan Dinas Pendidikan dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka serta menjadi wadah bagi guru dalam proses pembelajaran (saling berbagi untuk mendapatkan konten-konten pembelajaran atau praktik baik yang telah dilakukan) agar guru mempersiapkan dirinya untuk menjadi pembimbing dan fasilitator dalam mencetak peserta didik yag mampu menghadapi era Society 5.0. Salah satunya adalah Platform Merdeka Mengajar (PMM).
PMM yang diluncurkan oleh Kemendikbudristek adalah salah satu contoh integrasi teknologi yang signifikan dalam ekosistem pendidikan. PMM bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan menyediakan berbagai sumber daya dan alat bantu bagi guru dan siswa di era digiltalisasi pendidikan.
Baca juga : Perkuat Digitalisasi, Telkom Resmikan Rumah Startup Lokal Di Serambi Mekkah
Platform Merdeka Mengajar (PMM) diluncurkan 11 Februari 2022 pada paket kebijakan Merdeka Belajar Episode Kelima Belas oleh Mendikbudristek Nadiem Makarim. Platform ini sudah membawa arah perubahan pada pendidikan. Hingga kini, sudah lebih dari 1,6 juta guru telah menggunakan PMM yang membuka akses pada pengembangan diri secara lebih mandiri dan sesuai kondisi. Kemudian, terbentuknya lebih dari 3.500 komunitas belajar para guru, terkumpulnya lebih dari 55 ribu konten belajar mandiri.
"Ada lebih dari 92 ribu konten pembelajaran telah diunggah oleh guru untuk menginspirasi sejawatnya. Jadi, para guru dibantu untuk bisa saling menginspirasi dan mengapresiasi," ujar Nadiem, dalam Rapat Kerja dengan Komisi X DPR, di Jakarta, Senin (26/9/2023).
Salah satu konten dalam PMM yang dapat menunjang peningkatan komptensi guru adalah kursus dan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan mengajar mereka, baik dalam penguasaan materi maupun dalam penggunaan teknologi pendidikan. Selain itu, PMM juga memungkinkan guru untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, dan saling mendukung dalam forum diskusi dan grup komunitas.
Dengan berbagai fiturnya, PMM menyediakan standar materi dan metode pengajaran yang konsisten, juga membantu memastikan bahwa semua siswa mendapatkan pendidikan yang berkualitas tinggi, terlepas dari lokasi geografis atau kondisi sekolah. PMM mendorong guru untuk menggunakan metode pengajaran inovatif dan berbasis teknologi, hal ini tentu akan menunjang komptensi guru di era Society 5.0.
Baca juga : Senayan Apresiasi Terobosan Barantin
Pemanfaatan PMM saat ini tidak hanya untuk meningkatkan kompetensi guru, tapi dapat juga mempercepat meningkatkan kesejahteraan. Dengan PMM, guru saat ini tidak perlu antre bertahun-tahun melalui agenda piloting Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan (Daljab). Piloting PPG Daljab ini sudah diluncurkan pada Senin, 15 Juli 2024, dengan melibatkan 60 ribu peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Berdasarkan data dari Kemdikbudristek, jumlah guru non sertifikasi pendidikan (serdik) di Indonesia saat ini mencapai 1,63 juta, yang berarti 60 ribu guru tersebut mendapatkan kesempatan lebih dulu menjadi peserta PPG Daljab 2024.
Program piloting PPG ini juga dianggap lebih singkat dari PPG sebelumnya. Yang awalnya selama enam bulan, kini menjadi dua bulan. Guru lebih fleksibel mengikuti pelatihan dimana pun dan kapan pun tanpa telalu banyak mengganggu jam mengajar mereka di sekolah. Beberapa guru di SMK Islam Insan Mulia Kabupaten Tangerang misalnya, mendapat program ini tanpa menunggu berlama-lama. Mereka pun mengakui program piloting PPG ini lebih mempermudah dalam mengikuti kegiatan PPG, dan cukup senang karena waktu pelatihannya tidak terlalu lama, sehingga tidak terlalu menyita fokus mengajar. Selain itu, melalui PMM juga banyak hal yang dapat meningkatkan komptensi guru.
Upaya agar dapat beradaptasi di era Sociaty 5.0 dengan digilitasi pendidikan, tentunya tidak dapat maksimal tanpa konsistensi dan inovasi dari seluruh steakholder pendidikan. Guru, pimpinan sekolah, pengelola Lembaga Pendidikan, Pimpinan Daerah hingga Pusat butuh usaha keras untuk mewujudkannya.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.