Di tengah gelombang deras transformasi digital, kemampuan beradaptasi dan memanfaatkan platform daring menjadi kunci. Fenomena ini semakin relevan dalam konteks diplomasi dan pembentukan citra bangsa di kancah global.
Inilah yang menjadi inti dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk "Soft Power di Era Digital: Diplomasi Melalui Platform TikTok" yang kami lakukan pada 22 Mei 2025. Kegiatan ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan upaya konkret untuk membekali generasi muda dengan pemahaman kritis tentang peran media sosial dalam diplomasi kontemporer.

Baca juga : Immanuel Ebenezer (Noel): Dalam Job Fair Tak Ada Formalitas Kok
Data negara pengguna TikTok (Tabel: https://data.goodstats.id)
Inisiatif tersebut berhasil menjembatani kesenjangan antara teori diplomasi dengan praktik digital yang kini akrab dengan keseharian remaja. Melalui kegiatan ini, para pelajar, khususnya di SMA Hutama, diberikan wawasan mengenai bagaimana platform seperti TikTok, yang didominasi oleh pengguna berusia 16-24 tahun (sesuai Data Reportal 2024), dapat menjadi alat efektif untuk menyebarkan nilai-nilai budaya, mengampanyekan isu-isu sosial, bahkan membentuk opini publik tentang suatu negara. Ini adalah langkah yang sangat strategis, mengingat Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan basis pengguna TikTok terbesar di dunia.
Salah satu kekuatan utama dari PKM yang kami lakukan ini adalah pendekatannya yang relevan dan komunikatif. Alih-alih menyampaikan materi secara kaku, kegiatan ini mendorong partisipasiaktif siswa dalam diskusi seputar konten TikTok dan bagaimana hal tersebut dapat dikaitkan dengan diplomasi budaya.
Baca juga : PLN Icon Plus dan APKASI Dorong Pemerataan Digitalisasi dan Energi Terbarukan
Pendekatan ini tidak hanya memperkuat literasi digital para peserta, tetapi juga membuka ruang bagi pembentukan identitas global yang inklusif dan bertanggung jawab. Memahami bahwa TikTok dapat menjadi medium untuk "soft power" kemampuan suatu negara untuk memengaruhi negara lain melalui daya tarik budaya dan nilai-nilai adalah sebuah bekal berharga bagi generasi muda di era digital ini.

Hal ini sejalan dengan visi untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaranglobal serta semangat untuk berkontribusi dalam menciptakanmasyarakat yang berdaya saing di kancah internasional. Lebih jauh, keberhasilan PKM ini terletak pada kesadaran akan urgensi literasidigital yang mendalam.
Baca juga : Penguatan Pendidikan Jarak Jauh Melalui SMP Terbuka
Di era ketika informasi menyebar dengankecepatan kilat, kemampuan untuk menganalisis, menyaring, dan bahkan memproduksi konten yang bertanggung jawab menjadi fundamental. Dengan menekankan peran TikTok dalam diplomasi, para peserta tidak hanya belajar tentang "soft power" sebuah negara, tetapi juga diajak untuk menjadi "digital citizen" Indonesia yang cerdas dan proaktif dalam memanfaatkan platform digital untuk tujuan yang positif.

Sebagai penutup, PKM "Soft Power di Era Digital" ini kami lakukan sebagai contoh nyata bagaimana perguruan tinggi dapat berkolaborasi dengan lembaga pendidikan menengah untuk membekali generasi muda dengan keterampilan yang relevan dengan tantangan zaman. Harapan besar tersemat agar inisiatif semacam ini tidak berhenti sebagai pembelajaran sesaat, melainkan dapat memicu kesadaran berkelanjutan dan bahkan menginspirasi kolaborasi jangka panjang antara berbagai pemangku kepentingan. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa generasi muda Indonesia tidak hanya menjadi konsumen digital, tetapi juga kreator dan agen perubahan yang mampu membawa nama baik bangsa di panggung global.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.