RM.id Rakyat Merdeka - Dalam upaya mendorong peningkatan kualitas pendidikan nasional, khususnya di Kalimantan Timur (Kaltim), Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan, bekerja sama dengan DPR dan sejumlah perguruan tinggi, menggelar kegiatan bertajuk “Paradigma Baru Evaluasi Pendidikan: Penerapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai Instrumen Nasional”, di Hotel Mercure, Samarinda, Sabtu (24/5/2025). Acara ini menjadi ajang penting bagi para pemangku kepentingan pendidikan untuk membahas kebijakan terbaru dalam evaluasi pendidikan nasional.
Hadir dalam forum ini Kepala BSKAP Prof Toni Toharudin, Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian, serta perwakilan perguruan tinggi, termasuk Wakil Rektor Universitas Nasional (UNAS) Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Erna Ermawati Chotim. Turut hadir para tokoh pendidikan, guru SMA/SMK, siswa berprestasi, serta pejabat daerah seperti Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur Sri Wahyuni, dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur.
Pendidikan Lebih Humanis dan Holistik
Dalam pemaparannya, Prof Toni Toharudin menyampaikan kebijakan baru terkait pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang kini mengedepankan pendekatan humanis dan holistik. Dia menekankan bahwa evaluasi pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga memperhatikan karakter, kemampuan berpikir kritis, serta konteks sosial peserta didik.
Baca juga : Sekretaris Fraksi PDIP DPR Yakin Hasto Dapat Keadilan di Kasus Harun Masiku
“Kami mengedepankan asesmen yang tidak hanya menguji pengetahuan, tetapi juga kesiapan peserta didik untuk belajar sepanjang hayat,” ujar Prof Toni, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (12/6/2025).
Kebijakan ini selaras dengan arah transformasi pendidikan nasional yang menempatkan peserta didik sebagai subjek utama dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pembelajaran.
Pendidikan Tinggi Alat Pemberdayaan
Menanggapi kebijakan tersebut, Erna Ermawati Chotim menyampaikan bahwa pendidikan tinggi seharusnya dimaknai sebagai alat pemberdayaan sosial, bukan sekadar jalur formal untuk meraih gelar akademik. “Kita perlu menggeser paradigma pendidikan tinggi menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas, interaksi lintas budaya, dan penguatan karakter,” jelasnya.
Baca juga : Pertama Di Indonesia, VTKR Launching Fasilitas Perakitan Kendaraan Listrik
Dia juga menekankan pentingnya mobilitas mahasiswa Kalimantan Timur ke berbagai daerah di Indonesia, khususnya Jakarta, guna memperluas wawasan, membangun jejaring, dan memperkaya pengalaman lintas wilayah.
Melalui berbagai program kemitraan dan skema beasiswa, UNAS berkomitmen membuka akses pendidikan tinggi seluas-luasnya bagi generasi muda Kalimantan Timur untuk menempuh studi di perguruan tinggi berkualitas di ibu kota. Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi nyata UNAS dalam mendukung pendidikan tinggi yang inklusif dan merata.
“Dengan semangat kolaboratif, kami percaya bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi jembatan antara potensi daerah dan kebutuhan nasional,” tambah Erna.
Sinergi Lintas Sektor
Baca juga : Lakukan Perampasan dan Pemerasan, Jatanras Polda Kaltim Amankan 6 Oknum DC
Sementara itu, Hetifah Sjaifudian menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan institusi pendidikan dalam mewujudkan transformasi pendidikan nasional. “Kebijakan tanpa dukungan masyarakat dan institusi pendidikan tidak akan efektif. Maka, kolaborasi adalah napas dari perubahan itu sendiri,” tegasnya.
Forum ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat koordinasi antara pusat dan daerah, serta mempererat kerja sama antara sektor pendidikan formal dan pemangku kepentingan lainnya dalam membangun fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.