Sebelumnya
Lebih dari Sekadar Pengukuran Nilai Numerik
Ada sejumlah poin tambahan dalam program TKA. Sebagai alat refleksi dan evaluasi pengajaran, TKA juga mampu merangsang kepekaan pedagogis dari para guru. Dengan demikian, TKA sejatinya bukan sekadar sistem pengukuran nilai numerik semata, melainkan juga instrumen untuk memahami proses berpikir siswa.
Ini selaras dengan Permendikdasmen Pasal 3 Nomor 9 Tahun 2025 yang menegaskan bahwa TKA bertujuan, salah satunya, untuk mendorong peningkatan kapasitas Pendidik dalam asesmen pembelajaran, sehingga dengan adanya TKA guru ditantang untuk menyusun penilaian yang lebih berkualitas, fokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, analiis, dan kreatif, bukan hanya mengajar untuk lulus ujian.
Baca juga : Idrus Minta Polemik Soeharto Disikapi Dengan Kedewasaan Sejarah
Singkatnya, TKA juga langkah strategis yang mampu mendorong guru untuk berpikir kritis terhadap praktik pengajarannya dan memotivasi siswa untuk belajar lebih efektif. Di level praktik dan aktualisasinya, refleksi berbasis TKA mendorong guru untuk meninjau kembali rencana pembelajaran, bahan ajar, serta pendekatan evaluasi yang digunakan.
Hasil TKA dapat menjadi titik awal untuk melakukan diskusi kolaboratif antar guru dalam komunitas belajar. Melalui proses ini, guru dapat saling bertukar pengalaman dan strategi untuk meningkatkan kualitas pengajaran.
Selain itu, dan bagi saya ini yang lebih krusial, bahwa TKA juga bisa berperan dalam mengikis ketimpangan kualitas pendidikan di berbagai daerah di Indonesia.
Baca juga : Malut United Bidik Kemenangan Kelima di Kandang Persijap
Seperti diutarakan Noffica Adriyati (Rakyat Merdeka, 24/9/2025) bahwa setiap sekolah memiliki kondisi berbeda dalam segi fasilitas fisik, ketersediaan guru hingga akses terhadap bahan ajaran dan teknologi. Misalnya, sekolah-sekolah di kota besar dan maju sudah barang tentu memiliki fasilitas yang memadahi bahkan canggih baik laboratorium, perpustakaan dan akses intrnet.
Perbedaan ini, lanjut Adriyati, membuat standar penilaian antar sekolah tidak seragam baik soal metode dan kultur evaluasinya sehingga capaian akademik menjadi terfragmentasi.
Kesenjangan semacam ini jelas membutuhkan sistem evaluasi yang berstandar nasional. Standar penilaian secara nasional seperti ini akan membawa konsekuensi terhadap pemerataan infrastruktur dan fasilitas pendidikan yang memadahi.
Baca juga : Gubernur Suhardi Ingatkan Guru Wujudkan Pendidikan Tanpa Kekerasan
Jadi, TKA memiliki peran strategis dalam ekosistem pendidikan modern. Sebagai instrumen evaluasi, ia memberikan data objektif tentang capaian akademik siswa. Sebagai sarana refleksi, ia menumbuhkan kesadaran profesional bagi guru untuk senantiasa memperbaiki praktik pembelajarannya.
Penulis adalah Kepala Sekolah SMAN 2 Pamekasan H. Moh. Arifin, M.Pd
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.